Yakin Mau Quiet Quitting? Coba Baca Ini Dulu

by | Dec 1, 2022

Karier | Psikologi

FOMOMEDIA.IDQuiet quitting merebak menjadi tren di seluruh dunia. Baiknya kita ikut tren ini atau enggak?

Sebelumnya, kita mesti bersepakat dulu bahwa pandemi COVID-19 adalah sesuatu yang menyedihkan, menyengsarakan, dan menyebalkan. Tapi, kalau direnungi lagi, sebenarnya ada juga efek positif yang muncul darinya, yaitu meningkatnya kesadaran orang-orang akan kondisi hidup mereka.

Mungkin kalian sudah pernah dengar istilah Great Resignation walaupun fenomena ini enggak terjadi secara masif di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kalau kalian belum familiar dengan hal ini, Great Resignation adalah fenomena resign massal yang terjadi di Amerika Serikat sana. Tahun 2021 lalu, tercatat hampir 48 juta pekerja memutuskan resign dan, di tahun ini, masih ada jutaan orang lain yang mengikuti jejak mereka.

Alasan orang-orang itu untuk resign beragam. Tapi, menurut temuan Harvard Business Review, semua alasan itu bisa dimasukkan dalam enam kategori, yaitu: keinginan pensiun dini, menjamurnya kesempatan remote working, perubahan cara pandang akan hidup, munculnya permintaan tenaga kerja di sektor-sektor baru, keengganan bekerja lagi di kantor, dan ketakutan akan risiko pandemi.

Benang merahnya adalah, orang-orang itu ingin kualitas hidupnya meningkat. Bukan cuma dari segi pendapatan atau kekayaan, tetapi lebih ke fulfillment alias kepuasan batin. Orang-orang yang pensiun dini itu, misalnya, bukannya terus cuma ongkang-ongkang bak pengangguran yang baru menerima harta warisan. Mereka malah lebih memilih jadi sukarelawan di organisasi-organisasi nirlaba. Kira-kira seperti itu.

Great Resignation ini bukan satu-satunya fenomena yang menandai perubahan dinamika dunia kerja. Di Cina, ada sebuah pergerakan sosial yang namanya Tang Ping. Berawal dari percakapan dunia maya di awal pandemi, Tang Ping akhirnya jadi gerakan protes massal tahun 2021 lalu.

Sumber: Storyblocks

Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Tang Ping berarti “rebahan”. Ya, kalian enggak salah baca. Artinya betul-betul “rebahan”.  Jadi, para pekerja di  sana muak dengan kultur kerja 996 (kerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari seminggu) yang dipraktikkan banyak perusahaan, termasuk Alibaba yang dipunyai Jack Ma. Menurut orang-orang itu, kultur kerja 996 lama kelamaan bakal bikin mereka sakit, enggak produktif, dan enggak bahagia (diminishing returns). Daripada terus-terusan begitu, mereka akhirnya memilih rebahan.

Tang Ping jadi gerakan protes massal setelah ada seorang pengguna Baidu Tieba bernama Luo Huazhong (Pengelana yang Baik Hati) yang cerita soal pengalamannya. Tahun 2016, waktu umurnya masih 26 tahun, si Luo ini resign dari pekerjaannya di sebuah pabrik. Dia merasa enggak dapat kepuasan batin apa pun dari pekerjaannya itu.

Akhirnya, setelah resign, Luo bersepeda sejauh 2.100 km dari Sichuan ke Tibet. Dia kemudian pulang ke kampung halamannya di Jiande untuk hidup seadanya. Buat makan sehari-hari, dia kerja serabutan dan mengambil sebagian kecil uang dari tabungannya. Dengan hidup demikian, Luo bisa lebih menghabiskan sebagian besar waktunya dengan membaca buku-buku filosofi dan mencari makna hidup sesungguhnya..

Ajaran Luo ini jelas memunculkan pro-kontra. Banyak banget yang enggak setuju sama pemikiran dia, terutama para penguasa dan pengusaha. Tapi, ada juga yang melihat Tang Ping ini dengan kepala jernih. Guangming Daily, koran yang punya afiliasi dengan Partai Komunis Cina, justru melihat fenomena ini sebagai kritikan agar para penguasa bisa meningkatkan kualitas hidup rakyatnya.

Nah, Great Resignation dan Tang Ping ini boleh dibilang mirip karena para pelakunya sampai keluar dari pekerjaan karena motivasi yang sama. Tapi ternyata, selain kedua gerakan tersebut, ada juga aksi protes yang dilakukan secara diam-diam dan enggak sampai harus resign dari pekerjaan. Namanya quiet quitting. Kalian mungkin sudah pernah dengar juga istilah ini karena belakangan memang ramai diperbincangkan.

Gampangnya, quiet quitting ini adalah ajakan untuk bekerja sesuai job desc, jam kerja, dan gaji yang sudah disepakati antara pekerja dan perusahaan. Mereka yang melakukan quiet quitting enggak mau diganggu urusan pekerjaan di luar jam kerja. Mereka juga enggak mau melakukan hal-hal yang bukan tugas mereka. What you get is what you pay, kira-kira begitu prinsip dasarnya.

Sama seperti Tang Ping, quiet quitting juga ramai dan tersebar luas melalui media sosial bikinan Cina. Bedanya, quiet quitting ini populer pertama kali di TikTok, bukan Baidu Tieba, dan sosok yang menyebarkannya bernama @zaidleppelin. Juli 2022 lalu, @zaidleppelin mengunggah video yang berisi ajakan untuk bekerja secukupnya saja.

Ternyata, ajakan pria yang berdomisili di New York  ini mendapat banyak respons positif. Videonya telah mendapat 490 ribu likes dan disebarkan lebih dari 42 ribu kali. Dia menyatakan bahwa quiet quitting adalah “quitting the idea of going above and beyond at work”. Terjemahannya kira-kira jadi: “berhenti melakukan hal-hal yang semestinya tidak kita lakukan di tempat kerja”.

Dari situ, bisa dipahami kalau quiet quitting ini enggak berarti “resign diam-diam”, ya. Artinya, aksi resistensi yang satu ini berbeda dengan Great Resignation dan Tang Ping. Para pelaku quiet quitting ini tidak sampai resign dari kerjaan. Mereka cuma tidak mau ngoyo dalam bekerja.

Sebenarnya, quiet quitting ini bukan konsep yang benar-benar baru. Pekerja-pekerja Indonesia sebelumnya sudah mengenal konsep “tenggo” yang artinya ketika jam pulang sudah “teng” mereka akan “go” alias pulang. Selain itu, ajaran-ajaran tradisional, semisal ajaran Jawa “urip sak madyo” alias “hidup sederhana dan secukupnya” juga sebetulnya, sadar tidak sadar, sudah nyantol di benak masyarakat.

Ajaran agama pun begitu. Kepada CNN Indonesia, psikolog Marissa Meditania bertutur bahwa “quiet quitting ini adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan work-life balance“. Dan bicara soal work-life balance, menurut temuan dosen dan peneliti Universitas Islam Indonesia (UII), Jaya Addin Linando, orang Indonesia sudah secara sadar selalu mencari work-life balance karena pengaruh agama.

Dalam kolomnya di The Conversation, Addin menjelaskan bahwa work-life balance punya konsep yang sama dengan work-family balance. Pekerja Indonesia sendiri selalu berusaha menyeimbangkan waktu mereka antara mencari nafkah dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Minimal menghabiskan weekend mereka untuk family time.

Kenapa keluarga? Karena agama—agama apa pun itu—mengajarkan demikian. Selain rasa cinta kepada keluarga, agama juga mengajarkan tentang adanya hidup sesudah mati. Nah, orang Indonesia, secara sadar maupun tidak sadar, sudah menempatkan kehidupan sesudah mati (akhirat) sebagai sesuatu yang lebih penting daripada kehidupan duniawi. Itulah mengapa konsep “tidak ngoyo atau berlebihan dalam bekerja” sebetulnya sudah tertanam dalam alam bawah sadar orang Indonesia.

Lihat Fomographic: Tren Quiet Quitting

Temuan Kami soal Quiet Quitting

Soal quiet quitting ini, kami sempat melakukan survei kecil-kecilan dan mendapati beberapa temuan menarik.

Pertama, yang mengisi survei kami kebanyakan berusia 26-35 tahun dan sebagian besarnya (73%) sudah familiar dengan istilah quiet quitting. Mereka yang familiar pun sudah bisa benar-benar menjelaskan definisi quiet quitting meskipun ada satu responden yang menyalahartikan fenomena ini dengan “resign diam-diam”. Mereka yang familiar juga ternyata sudah melakukan quiet quitting meskipun ada pula yang tidak setuju dan masih ragu-ragu untuk melakukannya.

Kedua, istilah quiet quitting ini ternyata juga dikenal oleh orang berusia 35 tahun ke atas. Akan tetapi, mereka yang berusia 18-25 tahun rupanya belum familiar dengan quiet quitting. Kami berani menarik hipotesis bahwa orang-orang yang familiar dengan fenomena ini adalah mereka yang sudah punya cukup banyak pengalaman kerja dan banyak terpapar oleh konten-konten seputar dunia kerja, baik dari media sosial, media massa, maupun obrolan dengan kolega.

Sumber: giphy.com

Ketiga, pendapat para responden soal quiet quitting ini sangat tergantung pada jenis pekerjaan. Orang-orang yang terbiasa bekerja dalam lingkungan yang tidak mendukung praktik quiet quitting (misal: media dan industri kreatif) menyatakan tidak setuju. Sementara, para pekerja korporat cenderung lebih nyaman melakukan quiet quitting karena ada struktur dan parameter yang lebih baku akan kualitas kinerja mereka.

Kata Anak Muda soal Quiet Quitting

Ben* (33 tahun)

Aku kerja di perusahaanku ini dari lulus kuliah. Sudah 10 tahun lebih. Quiet quitting ini bukan sesuatu yang kuputuskan. Secara enggak sadar, aku melakukan ini karena aku udah enggak nyaman lagi. Aku sebenarnya sudah enggak betah kerja di sini karena enggak cocok sama bosku.

Quiet quitting ini mulai aku lakukan belum lama. Belum sampai setahun. Sebelumnya, selama sembilan tahun lebih aku sering banget pulang kerja jam 7 atau jam 8 malam karena aku memang masih punya motivasi waktu itu. Aku memang pengin ngasih yang terbaik buat perusahaan.

Tapi, ya, setelah ketemu sama bos yang ini, nih, semua berubah. Sebenarnya dia orangnya fair dalam menilai kinerja. Enggak ada masalah di situ. Tapi, kepribadianku sama dia memang enggak cocok dan aku jadi sering nahan kesel. Lama-lama, aku jadi merasa kalau kerja di tempat yang sekarang ini enggak worth it. Aku pengin pindah tapi memang belum ada pilihan yang pas.

Tapi, bukan berarti aku jadi kerja seenaknya. Ya, aku melakukan apa yang sudah jadi job desc aja. Waktunya pulang, ya, pulang. Mungkin sampai aku pindah nanti aku bakal terus melakukan ini. Semoga aku bisa dapat kerja di tempat baru yang lingkungannya enggak toxic.

Arief (30 tahun)

Aku kerja sudah hampir 8 tahun. Dari awal kerja aku punya prinsip, kalau aku melakukan yang terbaik, hasilnya akan diberikan yang terbaik juga. Tapi ternyata di awal 2021, kenaikan jabatanku enggak di-approve sama manajer senior. Padahal, itu rekomendasi manajer yang jadi direct supervisor-ku. Tapi, setelah ada penolakan, manajerku itu juga enggak mengupayakan apa-apa.

Di situ aku drop banget. Aku selalu melakukan apa yang diminta, bahkan buat urusan yang sebenarnya enggak masuk di job desc. Selama enam tahun, kinerjaku juga selalu dinilai bagus sama manajerku, tapi manajer senior itu punya penilaian lain. Dia pelit nilai karena takut kalau-kalau dia harus mempertanggungjawabkan keputusannya ke direksi.

Sejak itu aku merasa semua usahaku sia-sia. Gajiku juga enggak naik-naik. Gajiku sampai habis cuma buat ke psikolog dan mental healing. Aku sempat mengajukan resign di Oktober 2021 tapi enggak dibolehkan sama manajerku karena aku juga belum dapat kerja di tempat lain.

Aku susah dapat pekerjaan baru karena enggak ada transferable value yang bisa aku tawarkan dari kerjaanku ini. Yang berhasil resign dari tempatku itu biasanya meneruskan usaha keluarga, menikah dengan orang kaya, buka usaha sendiri, atau dapat pekerjaan di tempat baru lewat jalur orang dalam. Sementara, aku enggak punya privilese itu.

Ya, sudah. Akhirnya aku memutuskan tetap lanjut kerja di sini tapi secukupnya saja. Aku enggak mau ngoyo. Bahkan, kalau pas jadwal WFH (work from home), aku suka enggak kerja sama sekali.

Jujur, walaupun sudah melakukan quiet quitting ini, aku enggak merasakan dampak signifikan juga. Malah, kadang-kadang semua jadi terasa lebih berat. Kerjaanku enggak berkurang dan jadinya selesai lebih lama. Buatku, quiet quitting ini cuma coping mechanism buat semua kekecewaan yang aku rasakan itu.

Astrid* (33 tahun)

Gue sudah pengalaman kerja 10 tahun dan kayaknya dari dulu gue sudah melakukan quiet quitting, bukan baru-baru saja. Mungkin karena pengaruh pengalaman kerja di Eropa yang tidak mengglorifikasi overtime dan overworking, ya.

Ketika balik kerja di Indonesia empat tahun lalu, orang fokus dengan hustle culture dan, menurut gue, itu gak sehat baik secara mental ataupun fisik. Gue lebih suka menyebut bahwa gue menerapkan work-life balance mungkin, ya. Selain itu, dalam bekerja, kita ‘kan kasih jasa baik dalam bentuk pikiran atau servis jadi harus ada kompensasi yang sesuai dengan apa yang kita berikan.

Kalau kita tidak dibayar untuk sesuatu yang beyond, menurut gue, kenapa harus dikerjakan? Inisiatif yang kita berikan selama working hours dan quality of work juga akan speak for itself, kok, dan enggak perlu di-translate dengan kerja yang lebih lama dibanding yang dikompensasikan atau kerja yang lebih dibandingkan apa yang diekspektasikan juga.

Sumber: giphy.com

Semakin ke sini gue semakin menerapkan apa yang orang-orang bilang dengan “quiet quitting” ini. Gue menomorsatukan diri gue dibandingkan kebutuhan company. Gue lebih mudah menolak dan tidak melakukan apa yang tidak tertulis di job desc atau di luar waktu kerja gue.

Dengan begitu, hidup gue lebih tenang karena ada segregasi yang jelas antara hidup dan kerja. Gue bukan tipe orang yang mau meng-integrate kerjaan ke kehidupan sehari-hari. My work should not define who I am. Jadi, gue merasa lebih bisa mengaktualisasi diri di bidang lain dan juga bisa punya lebih banyak waktu untuk keluarga, teman-teman, dan diri sendiri.

Gue, sih, gak khawatir dengan apa yang gue lakukan ini. Soalnya, kalau hasil kerja kita berkualitas, cara kerja kita efisien, dan tetap bisa men-deliver pekerjaan in a timely manner, perusahaan enggak akan notice juga. In my humble opinion, quiet quitting itu tidak men-define kualitas kita dan, kalau kita bekerja di lingkungan yang menghargai hasil dan secara hierarkis lebih flat, sepertinya tidak akan terlalu jadi masalah, ya. 

Seno (35 tahun)

Aku sebenarnya setuju sama teori quiet quitting ini. Idealnya, ya, kerja itu harus sesuai porsi. Sesuai jam kerja dan beban. Kalau lebih dari itu, mesti ada kompensasi yang diatur undang-undang. Pegawai bakal dapat uang lembur atau tambahan jatah libur, misalnya. Itu aku gak masalah.

Tapi, karena aku kerja di media, ada hal-hal yang mesti dikompromikan. Misalkan, ada rapat-rapat redaksi mendadak atau kalau kita harus riset panjang tentang suatu hal. Menurutku, hal-hal seperti itu pun sebetulnya tetap masuk dalam job desc dan karyawan tetap harus melakukan itu. Aku, misalnya, pernah sampai tidur di kantor karena mesti belajar tentang Google Analytics.

Aku enggak masalah melakukan itu dan enggak akan melakukan quiet quitting karena aku percaya, apa pun yang kita kerjakan, suatu hari nanti bakal ada balasannya. Soal Google Analytics itu tadi, misalnya. Setelah bertahun-tahun baru terasa manfaatnya. Aku jadi bisa bantu perusahaan dan bisa juga cari sampingan pakai ilmu yang aku dapatkan itu.

Aku percaya, perusahaan akan kuat kalau karyawannya juga kuat. Menurutku semuanya dimulai dari bawah. Kalau karyawan kuat, perusahaan kuat, semua pihak diuntungkan. Ujung-ujungnya ‘kan yang untung karyawan juga.

Tapi, aku enggak masalah juga kalau ada orang yang melakukan quiet quitting karena itu ‘kan hak mereka. Mungkin aku sendiri beruntung, ya, karena di tempat kerjaku ini lingkungannya enak. Ada rasa pertemanan yang kuat sesama karyawan. Kalau ada teman kerja yang kesulitan, yang lain bakalan bantu.

Bosnya juga oke, sih, di tempatku. Dia biasa ngasih contoh dengan perbuatan, bukan menyuruh, jadi lama kelamaan karyawan-karyawan yang lain ikut termotivasi juga. Jadi pengin belajar, pengin tahu lebih. Akhirnya, ini bisa bikin kultur kerja yang sehat, menurutku.

Tapi, soal quiet quitting, aku enggak melakukan itu bukan semata-mata karena kebetulan tempat kerjaku nyaman, ya. Aku sudah pengalaman kerja 13 tahun dan belum pernah melakukan quiet quitting. Bahkan, kalau seandainya aku kerja korporat nanti pun, aku enggak akan melakukan itu. Kenapa? Ya, balik lagi sama kepercayaanku tadi. Semua enggak ada yang sia-sia.

Kata HRD soal Quiet Quitting

“Dari sisi perusahaan, manajemen pasti akan melihat loyalitas seorang karyawan. Karyawan yang mau go above and beyond akan dinilai lebih. Tapi, zaman sekarang, quiet quitting populer karena banyak orang merasa dimanfaatkan,” tutur Gusti (32), seorang karyawan HRD di sebuah perusahaan jasa pertambangan.

“Banyak orang yang awalnya senang diberi pekerjaan di luar job desc, tapi lama-lama mereka merasa, kok, enggak ada kompensasinya? Enggak ada feedback dari perusahaan. Apa bayaran dari loyalitas itu? Bahkan, terima kasih pun kadang-kadang enggak ada,” lanjutnya.

Gusti, sebagai orang yang bertugas memantau kinerja dan kondisi moril karyawan perusahaan, sebetulnya bisa memaklumi keberadaan fenomena quiet quitting ini. Malah, dia menyebut bahwa mereka yang melakukan quiet quitting sebetulnya merupakan karyawan-karyawan berprestasi.

“70 persen karyawan yang quiet quitting di perusahaanku itu sebenarnya malah karyawan-karyawan terbaik. Mereka selalu bisa menyelesaikan tugas dengan baik dan hasilnya juga bagus. Rata-rata juga usianya muda, baru 30 tahunan. Sebab utamanya di sini adalah demotivasi,” paparnya sembari menyesap kopi hitam.

“Ada karyawan yang tidak cuma butuh uang. Mereka butuh benefit, butuh pengembangan skill. Ketika kompetensi tidak bertambah, pendapatan ‘kan akhirnya juga segitu-segitu saja. Perusahaan perlu berinvestasi pada karyawannya. Perusahaan harus melihat karyawan ini sebagai aset.”Meskipun mengakui bahwa pihak perusahaan punya andil besar dalam kemunculan fenomena quiet quitting ini, Gusti tetap tidak menyarankan karyawan untuk melakukannya. Mengapa?

Sumber: giphy.com

“Ya, suka enggak suka, karena masih banyak perusahaan yang belum bisa fair dalam menilai karyawan. Asas like and dislike terkadang masih terlalu dominan. Karyawan yang datang paling awal dan pulang paling akhir akan dinilai lebih bagus meskipun kinerjanya biasa-biasa saja dibandingkan karyawan yang berkualitas tapi cuma kerja sesuai job desc dan jam kerja,” jelas pria bertubuh kekar ini.

“Di sini HRD punya peran kunci. Yang berwenang memberi penilaian pada karyawan memang atasan langsung (direct supervisor), tetapi HRD pasti akan menganalisis dan meninjau ulang laporan-laporan ini. Kami punya tiga standar penilaian: Skill, Knowledge, dan Attitude. Orang yang quiet quitting ini biasanya “kena” di attitude. Tugas HRD-lah buat mencari tahu kenapa, kok, bisa seperti ini?”

Sayangnya, memang, enggak semua HRD mau melakukan ini. Menurut Gusti, ada juga HRD yang mau cari gampangnya saja, yaitu dengan langsung berpihak kepada manajemen. Padahal, kalau sudah begini, perusahaanlah yang rugi sendiri.

“Di industriku, lapangan kerja itu melimpah. Jadi, karyawanlah yang sebetulnya punya power lebih besar. Mereka bisa dengan gampang cari pekerjaan baru. Kalau perusahaan enggak berbenah, ya, turnover bakal tinggi. Kalau turnover tinggi, cost yang keluar juga bakal lebih besar karena di proses rekrutmen sendiri itu sudah bakal keluar biaya. Sudah begitu, kalau kita nge-hire orang yang sudah jadi, gajinya juga pasti lebih besar,” terang Gusti.

“Idealnya, perusahaan memang harus mendidik karyawan sejak mereka masih jadi tunas sampai mereka jadi pohon,” sambungnya.

Nah, itu tadi soal quiet quitting yang benar dan bagaimana seharusnya perusahaan menyikapinya. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang menyalahgunakan quiet quitting?

“Ada memang orang yang quiet quitting karena pengin dipecat perusahaan dan akhirnya dapat pesangon. Tapi, perusahaan juga enggak bodoh. Kami tahu bedanya orang yang quiet quitting dengan benar dan orang-orang seperti ini. Di perusahaanku, ada caranya menangani orang-orang yang sengaja kerja semaunya kayak gini,” kata Gusti.”Mereka dibikin seenggak enak mungkin. Ada karyawan di perusahaanku yang sudah tujuh tahun ini seperti minta dipecat. Dia ini karyawan senior, ya, jadi perusahaan juga mikir-mikir kalau mau mecat dia karena pesangonnya pasti gede banget. Makanya dia dibikin enggak nyaman. Dimutasi ke divisi yang enggak enaklah, enggak dikasih kerjaanlah. Tapi, nyatanya dia sampai sekarang masih bertahan. Ini, sih, tinggal kuat-kuatan saja. Dia yang berhenti atau kami yang mecat,” tambahnya sambil terkekeh.

Terakhir, Gusti juga memberikan kami sebuah temuan menarik. Berdasarkan pengalaman dan pengamatannya selama ini, quiet quitter itu ternyata kebanyakan laki-laki.

“Tahu enggak kenapa? Karena laki-laki itu dasarnya malas, hahahaha!” kata pria lulusan Universitas Gadjah Mada itu.

“Laki-laki itu pasti cari gampangnya. Kalau dia bisa melakukan sesuatu dengan mudah, ya, itu yang akan dia lakukan. Bukan berarti jelek, ya. Ini justru menunjukkan bahwa quiet quitter itu sebenarnya smart worker. Mereka tahu nilai mereka dan itulah yang mereka berikan buat perusahaan,” tandasnya.

Jadi Kita Harus Bagaimana?

Sebenarnya gampang saja. Terserah kalian. Kalau memang kalian mau melakukan quiet quitting, ya, silakan. Kalau tidak, ya, silakan juga. Yang terpenting, harus ada dasar jelas mengapa kalian melakukan apa yang kalian lakukan dan pastikan itu memang pilihan terbaik.

Istilah quiet quitting memang terlampau negatif dan rentan disalahgunakan. Akan tetapi, istilah ini mungkin memang diperlukan sekarang untuk memantik diskursus soal kerja sesuai porsi. Harus diakui, masih banyak sekali orang yang bekerja tidak dalam kondisi ideal dan harus ada revolusi kultural dalam dunia kerja ini. Mungkin, salah satu cara yang bisa kita lakukan dengan mudah adalah quiet quitting ini.

Cuma, memang kita perlu hati-hati karena kultur kerja sekarang belum semuanya fair dalam menilai karyawan. Jangan sampai juga kalian kehilangan pekerjaan karena quiet quitting ini. Apalagi, tahu sendiri ‘kan? Resesi sudah di depan mata dan entah apa yang akan terjadi nantinya. So, jaga diri baik-baik, deh. Kalau memang harus dikuat-kuatin, ya, kuat-kuatin dulu aja.

*) Bukan nama sebenarnya.

Penulis: Yoga

Editor: Irwan

Ilustrator: Ricky

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
binance create account

I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.

Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good. https://www.binance.com/lv/join?ref=DB40ITMB