WFH Terbukti Kurangi Emisi Hingga 54 Persen, Indonesia Belum Siap?

by | Sep 24, 2023

Internasional | Lingkungan | Pekerjaan | Polusi Udara

FOMOMEDIA – WFH terbukti kurangi emisi dan perbaiki kualitas udara. Namun, di Indonesia, pelaksanaannya masih problematik.

Selain tidak menambah biaya pengeluaran, kerja yang dilakukan dari rumah (work from home/WFH) terbukti berperan penting dalam menjaga lingkungan. WFH dianggap lebih efektif kurangi emisi gas rumah kaca dibanding kerja kantoran.

Sebuah studi terbaru di Amerika Serikat telah menemukan bahwa karyawan yang WFH telah mengurangi emisi hingga 54 persen. Namun, bagi pekerja dengan sistem hybrid, mereka tidak bisa mencapai persentase tersebut.

Studi yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut memang menarik. Dalam penelitian tersebut, seseorang yang bekerja dari rumah satu hari selama seminggu bisa mengurangi emisi sebesar 2 persen.

Selain hemat energi, biaya perjalanan dari rumah ke kantor pun bisa dipangkas. Lalu, bagi seseorang yang WFH selama empat hari dalam seminggu bisa kurangi emisi hingga 29 persen dibandingkan dengan kerja di kantor.

Menurut The Guardian, para peneliti yang berasal dari Cornell University dan Microsoft tersebut menggunakan data karyawannya sendiri mengenai perilaku perjalanan pulang pergi dan kerja jarak jauh. Para peneliti itu memeriksa lima kategori emisi, termasuk penggunaan energi di kantor dan di perumahan.

Hasilnya, para peneliti tersebut menemukan bahwa penggunaan teknologi informasi dan komunikasi memiliki dampak terhadap jejak karbon seseorang. Emisi di kantor dan di perjalanan itulah yang sering diabaikan oleh para pekerja selama ini. Padahal, ketika seseorang memilih untuk WFH, kemacetan pun akan berkurang.

“Meskipun pekerjaan jarak jauh menunjukkan potensi dalam mengurangi jejak karbon, pertimbangan yang cermat terhadap pola perjalanan, konsumsi energi bangunan, kepemilikan kendaraan, dan perjalanan yang tidak terkait dengan perjalanan pulang pergi sangat penting untuk sepenuhnya menyadari manfaat lingkungannya,” kata para peneliti, dikutip dari The Guardian.

Pandemi Covid-19 Menyadarkan

Covid-19 adalah pandemi mematikan. Namun, peristiwa yang bermula sejak akhir 2019 itu menyadarkan kita semua tentang manfaat besar kerja dari rumah.

The Guardian menyebut bahwa pandemi Covid-19 telah menciptakan revolusi kerja jarak jauh bagi banyak pekerja di sektor kantoran. Baik di Amerika maupun Indonesia, banyak orang yang akhirnya melakukan pekerjaan dari rumah lantaran adanya pembatasan sosial.

Namun, pekerjaan dari rumah tersebut memang tidak berlaku bagi semua sektor. Seperti seorang supir misalnya. Mereka tidak akan bekerja jika tidak menjalankan kendaraan dan mengirimkan barang.

Adanya penelitian tersebut setidaknya telah menjadi tesis bahwa pekerjaan yang dilakukan dari rumah turut berperan penting dalam menjaga lingkungan. Pola kerja semacam itu pun diharap akan tetap ada meski saat ini pandemi Covid-19 sudah mulai melonggar.

Menjaga Kualitas Udara

Indonesia saat ini jadi salah satu negara yang sedang disorot lantaran masalah polusi udara, khususnya di kawasan DKI Jakarta dan sekitarnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun sempat mengumpulkan para menterinya hingga penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono untuk melakukan rapat terbatas di Istana Merdeka, Senin (14/8/2023). Dalam rapat tersebut, penanganan polusi udara di kawasan Jabodetabek jadi perhatian utama.

Beberapa solusi pun muncul. Mulai dari hybrid working hingga WFH diterapkan lagi jadi pilihan Jokowi untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara.

Namun, penerapan WFH tersebut dianggap dilematis hingga dewasa ini. Pasalnya, salah satu yang dikhawatirkan yakni bisa mengurangi hak para pekerja sendiri.

Sebab, menurut Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia Mirah Sumirat, ada perusahaan yang tidak membayar karyawannya yang tidak datang ke kantor. “Sejumlah perusahaan kini cenderung mengusung konsep no work no pay. Jika WFH dijalankan di tengah merebaknya konsep itu, potensi pekerja tidak mendapat upah layak semakin besar,” kata Mirah, dilansir Kompas.

Sementara, Sekretaris Daerah Federasi Niaga, Bank, Jasa, dan Asuransi Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Niba KSPSI) Dedeh Farihah punya alasan sedikit berbeda. Menurutnya, “Hanya sejumlah perusahaan mau memberikan fasilitas yang mendukung WFH agar biaya yang dikeluarkan pekerja tetap lebih efisien.”

Lantas, jika kembali diterapkan, apakah WFH di Indonesia bisa ampuh dalam menangani polusi udara tanpa menimbulkan masalah lainnya?

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments