Wah! Di Prancis, Ada Subsidi Jahit Pakaian Rusak dan Reparasi Sepatu

by | Jul 13, 2023

Fesyen | Internasional | Lingkungan | Prancis

FOMOMEDIA – Subsidi jahit pakaian rusak dan reparasi sepatu ini diberikan Pemerintah Prancis untuk menekan limbah fesyen yang mencapai 700 ribu ton per tahun.

Walaupun belakangan ini situasinya cukup mencekam, ternyata hidup di Prancis masih cukup menyenangkan, kok. Contohnya, kalau kamu mau memperbaiki pakaian rusak ke penjahit, kamu bakal dapat subsidi dari pemerintah.

Di Indonesia, membawa pakaian sobek ke penjahit untuk diperbaiki memang sudah biasa dilakukan. Tapi, di Prancis situasinya gak seperti itu.

Mungkin, karena saking tingginya standar hidup di sana, pakaian sobek diartikan sebagai pakaian yang sudah tidak bisa dipakai lagi dan harus dibuang. Habitus seperti inilah yang akhirnya bikin Prancis jadi punya limbah fesyen yang jumlahnya gak main-main: 700 ribu ton per tahun!

Ilustrasi limbah fesyen. (Foto: ITS)

Dari jumlah sekian itu, dua per tiga di antaranya betulan jadi sampah yang teronggok di tempat pembuangan akhir. Sementara, sisanya pada akhirnya jadi pakaian bekas yang kerap diekspor ke negara-negara dunia ketiga.

Nah, pemerintah Prancis melihat fenomena ini sebagai sebuah problem. Maka, mulai Oktober 2023 nanti, setiap orang yang memperbaiki pakaian rusaknya ke penjahit bakal bisa minta reimburse mulai dari 6 euro. Gak cuma itu, memperbaiki sepatu yang rusak pun ada subsidinya dengan nilai 25 euro.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup Prancis, Berangere Couillard, pemerintah sudah menyiapkan dana sebesar 154 juta euro untuk skema subsidi itu. Anggaran itu disiapkan untuk jangka waktu lima tahun. Couillard pun meminta semua penjahit dan ahli reparasi sepatu untuk bergabung dengan skema yang nantinya bakal dijalankan oleh organisasi Refashion tersebut.

Jangan Asal Buang Pakaian

Tujuan utama Refashion, menurut laporan The Guardian, adalah supaya masyarakat Prancis terbiasa tidak membuang pakaian bekas atau pakaian rusak. Sebab, menurut mereka, 56% pakaian yang disumbangkan masih bisa dipakai dan 32% lainnya masih bisa didaur ulang. Dengan kata lain, pakaian bekas atau rusak yang sudah betul-betul tak bisa digunakan hanyalah 12%.

Limbah fast fashion. (Foto: EcoWatch)

Industri fesyen sendiri merupakan salah satu industri paling polutif di dunia, khususnya industri fast fashion yang menyumbang 10% emisi karbon global pada 2019. Selain itu, fast fashion juga sangat banyak menggunakan air sehingga menyebabkan kekeringan. Polusi sungai juga jadi persoalan besar yang ditimbulkan industri fast fashion.

Menurut UN Framework Convention on Climate Change, pada 2030 nanti, emisi karbon dari fast fashion bakal meningkat sampai 60%. Kekhawatiran inilah yang, salah satunya, mendasari pemerintah Prancis untuk menciptakan kebijakan subsidi reparasi pakaian tadi.

Selain itu, pemerintah Prancis juga mengharapkan kebijakan ini bisa membuka lapangan kerja baru. “Tujuan kami juga mendukung para pekerja yang bertugas memperbaiki pakaian. Dengan demikian, diharapkan butik dan pelaku usaha ritel turut menawarkan jasa reparasi sehingga lapangan pekerjaan baru bisa terbuka,” jelas Couillard, dikutip dari The Guardian.

Penulis: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] bahwa pabrik senjata Lockheed Martin kini juga menjadi merek streetwear. Terobosan di bidang bisnis pakaian tersebut pun menghebohkan banyak […]