UKT Semakin Mahal, Pendidikan Hanya untuk yang Kaya?

by | Mar 6, 2023

Kuliah | Pendidikan | Sosial

FOMOMEDIA – Biaya kuliah atau UKT semakin mahal. Apakah ini artinya berpendidikan tinggi hanya untuk mereka yang kaya?

Dunia pendidikan masih menyisakan permasalahan dari jenjang bawah hingga atas. Belum lama ini, netizen di media sosial menyoroti sistem pembayaran uang kuliah tunggal atau biasa disebut UKT. 

Akun Twitter Ganta Semendawai membuat utas soal mahasiswi yang kesulitan membayar UKT. Dia adalah Nur Riska Fitri Aningsih, mahasiswi Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2020. 

Riska berasal dari Purbalingga. Dia memiliki tekad kuat untuk kuliah di Yogyakarta. Hanya mengandalkan uang Rp130 ribu, dia memberanikan diri naik bus dan bertahan seminggu di Kota Pelajar. 

Semangat tersebut tidak lepas dari latar belakang keluarga Riska. “Orang tuanya sehari-hari jualan sayur di gerobak pinggir jalan. Di saat yang sama, ibunya harus menghidupi Riska dan keempat adiknya nan belum lulus sekolah. Tidak sulit untuk menebak bahwa jelas keuangan keluarga Riska tak akan cukup membiayai perkuliahannya,” tulis Ganta. 

Dengan kondisi keluarga yang tak berkecukupan itu, kampus UNY mengganjar biaya kuliah Riska sebesar 3,14 juta rupiah per semester. Artinya, Riska berada di posisi UKT golongan IV yang semestinya teruntuk mahasiswa yang memiliki latar belakang dari keluarga mampu. 

Mengapa Riska mengalami hal itu? Menurut Ganta, Riska sudah mengisi nominal pendapatan sesuai kondisi ekonomi orang tuanya. Akan tetapi, ketika mengunggah berkas-berkas yang diminta oleh pihak kampus, Riska memakai ponsel milik tetangganya. 

Dugaan Riska, pengunggahan itu yang membuat biaya kuliahnya tinggi, entah karena datanya tidak terbaca atau alasan lain. Ia sempat mengurungkan niat kuliah di UNY tetapi, menurut Ganta, Riska mendapat dukungan dari guru-guru di sekolahnya untuk melunasi UKT pertamanya. 

Ketika menjadi mahasiswi UNY, dibantu oleh Ganta—yang juga seniornya di kampus—Riska berusaha meminta keringanan kepada pihak kampus. Permintaan Riska dikabulkan tapi sayangnya hanya turun kurang lebih 600 ribu rupiah. Artinya, UKT Riska hanya turun satu tangga, dari golongan IV menjadi III. Kenapa tidak langsung turun ke posisi I (atau bahkan digratiskan) agar kemudahan benar-benar berada di pihak Riska? Entahlah.

Kisah perjuangan Riska untuk menimba ilmu di kampus kesayangannya terhenti pada 9 Maret 2022. Sebab, ia meninggal akibat hipertensi. 

Setelah membaca dan mengetahui kisah perih Riska, kamu mungkin bertanya-tanya, apakah hanya Riska yang mengalami seperti itu? Atau ada banyak Riska lain yang sedang berjuang membiayai kuliah sedangkan kondisi ekonomi orang tua mereka tak mencukupi?

Dalam acara diskusi “Ada Apa dengan UNY?: Kesaksian Korban UKT di UNY” yang disiarkan oleh kanal YouTube Media Philosofis, Ganta membuat pernyataan, “Apa yang aku tulis sesuatu yang sangat personal, sebuah kenangan, sebuah hal yang intim dan privat antara aku dan Riska. Dan aku harap, kita sudah cukup bicara soal Riska.”

Menurut Ganta, apa yang dia tulis adalah utas yang biasa, kisah yang intim. Namun, kenapa bisa viral? Sebab, isunya keresahan nasional. Riska tidak sendirian, masih banyak lagi Riska lain di luar sana. 

“…, ada banyak korban lain yang nasibnya lebih buruk; ada banyak korban lain yang nasibnya sama di UNY,” tegas Ganta. 

Dalam diskusi tersebut, dihadirkan beberapa mahasiswa UNY yang menjadi korban atas sistem UKT yang tidak tepat sasaran.  Korban A membuat kesaksian soal UKT yang memberatkannya. Saat mendaftar, dia membayangkan UNY adalah kampus murah, yang biaya pendidikannya bisa dijangkau oleh masyarakat kurang mampu. 

Ayahnya seorang pekerja serabutan dan ibunya adalah buruh pabrik. Ketika mendaftar, pandemi muncul, kemudian penghasilan orang tua turun banyak sehingga enggak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Namun, mirisnya, Korban A mendapatkan UKT Rp4,2 juta per semester. Pada semester awal, Korban A harus menjadi buruh di perusahaan perkebunan untuk memenuhi atau melunasi UKT. 

Sedangkan, Korban B yang menjadi mahasiswa pada 2020 mendapat UKT sebesar Rp3,6 juta per semester. Dia berusaha menurunkan bayaran tersebut dengan mengajukan bantuan pendidikan ke kampus, tapi sayangnya ditolak. Sehingga, Korban B memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya di UNY. 

Masih banyak lagi yang membuat pengakuan dalam diskusi tersebut bahwa mereka membayar UKT yang tidak sesuai dengan pendapatan orang tua.

Seperti dilansir oleh BBC Indonesia, ada sosok bernama Nana yang UKT-nya dipatok sebesar 4 juta rupiah per semester, padahal ia sudah menunjukkan berkas sesuai kondisi finansial keluarganya yang hanya mampu membayar 2 juta rupiah per semester. 

Ayahnya seorang pedagang nasi goreng. Ia sudah meminta keringanan tapi ditolak oleh pihak kampus, dengan alasan perkuliahan belum masuk semester tiga. Di UNY, keringanan memang baru bisa diberikan setelah mahasiswa berkuliah selama satu tahun.

Untuk mencari tahu lebih jauh soal ini, FomoMedia  menghubungi alumnus UNY, Ardi (26 tahun). Saat kuliah, dia mendapatkan UKT golongan III. Menurut orang tuanya, biaya semester sebesar itu terbilang mahal. Untungnya, saat pembayaran UKT, masa panen sudah tiba sehingga orang tuanya punya cukup uang untuk membayar.

Baca Juga: Jangan Kaget, Ini 5 Perguruan Tinggi Negeri dengan Biaya Kuliah Termahal di Indonesia

***

Alih-alih berfungsi sebagai subsidi silang antarmahasiswa berdasar kondisi ekonominya, UKT terus menimbulkan polemik sejak dikeluarkannya Permendikbud Nomor 55 Tahun 2013, yang kemudian direvisi dalam Permenristekdikti Nomor 22 Tahun 2015. Peraturan tersebut beberapa kali direvisi sampai yang terakhir, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun 2020

Saat awal pemberlakuan UKT pada akhir tahun 2013, mahasiswa di Universitas Riau berunjuk rasa untuk menolak sistem UKT. Sebab, menurut mereka, UKT golongan 1 dan 2 tidak ada di Fakultas Ekonomi, yang ada hanya golongan tiga hingga lima. Artinya, kampus menilai bahwa tidak ada mahasiswa Fakultas Ekonomi yang orang tuanya kurang mampu. 

Membaca kisah Riska dan menyimak pengakuan beberapa mahasiswa yang “terjerat” UKT, seakan memvalidasi sebuah buku berjudul Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Eko Prasetyo yang ditulis pada 2004. 

Jika UKT diniatkan—dalam peraturannya juga demikian—untuk saling bantu antarmahasiswa atau bergotong-royong sesama warga kampus, kita tak akan mendengar kisah getir ala Riska. 

Panji Mulkan, seorang peneliti di Pusat Studi Perguruan Tinggi (PSPT), menilai UKT harus dievaluasi oleh pemerintah karena tak mencerminkan tujuan awal diterapkannya. 

“UKT diterapkan sudah 10 tahun sejak 2013 lalu, tujuannya agar ada subsidi silang dan diakses masyarakat luas dengan mudah. Tapi realitas hari ini malah sebaliknya, kasus kematian mahasiswa di UNY itu contoh paling nyatanya,” kata Panji, dikutip dari Harian Jogja.

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] yang menggandeng layanan pinjaman online (pinjol) sebagai sarana bagi mahasiswa untuk mencicil uang kuliah tunggal […]