Udah Gede Masih Doyan Mainan? Yuk Kenalan dengan Kidults

by | Jan 24, 2023

Hobi | Psikologi | Sosial
Sudah gede kok masih mainan anak-anak? Masa kecil kurang bahagia ya? Sebenarnya enggak sih. Situ namanya kidults.

FOMOMEDIA – Sudah gede kok masih mainan anak-anak? Masa kecil kurang bahagia ya? Sebenarnya enggak sih. Itu namanya kidults.

Sehari jelang Natal 2022, cuitan seorang tweeter ber-handle @Lqrqs ramai direspon netizen Indonesia. Unggahan tangkapan layar dari postingan Instagram akun @fraggaming dengan isi tulisan seperti ini: “Kidults, Fenomena Orang Dewasa yang Membeli Mainan untuk ‘Balas Dendam’ Masa Kecil.”

Yang membuat cuitan itu jadi perbincangan bukanlah isi dari tangkapan layar postingan Instagram tadi, melainkan komentar @Lqrqs atas penggunaan istilah kidults.

Meriang kali ya kalo sehari aja gak bikin2 istilah baru,” tulis @Lqrqs yang memiliki 5.051 followers tersebut.

Sepintas, keluhan @Lqrqs itu tampak valid. Belakangan, memang banyak sekali singkatan baru yang muncul di Indonesia. Makin lama, singkatan-singkatan yang digunakan netizen Indonesia memang makin “mengkhawatirkan”.

Akan tetapi, yang @Lqrqs tidak ketahui adalah bahwa istilah kidults yang digunakan akun @fraggaming tersebut sama sekali bukan barang baru. Malah, istilah yang merupakan lakuran (portmanteau) dari kata “kids” (anak-anak) dan “adults” (orang dewasa) tersebut sudah eksis sejak dekade 1950-an.

Istilah kidults mulanya muncul dari dunia pertelevisian Amerika Serikat. Kala itu, para pelaku industri televisi mendapati sebuah fenomena yang cukup membagongkan. Yakni, fakta bahwa ada cukup banyak orang dewasa yang rupanya sangat menggemari tontonan anak-anak. Dari sanalah istilah kidults bermula.

Meski demikian, baru pada dekade berikutnyalah hadir sebuah produk yang, secara khusus, diperuntukkan bagi para kidults. Pada 1965 di Britania Raya, lahirlah serial televisi Thunderbirds dari tangan Gerry dan Sylvia Anderson. Serial televisi ini menceritakan petualangan sekelompok pahlawan yang “dipersenjatai” kendaraan-kendaraan super canggih berkode nama Thunderbird.

Sepintas, serial televisi Thunderbirds ini terlihat seperti tayangan anak-anak. Karakter-karakternya terbuat dari manekin plastik yang terlihat seperti action figure. Kendaraan yang mereka gunakan tampak seperti mainan, jalan ceritanya pun sangat memanjakan fantasi anak-anak.

Walau serial televisi Thunderbirds ini terlihat seperti tayangan anak-anak, tetapi, oleh ITV, acara tersebut ditayangkan pada malam hari alias di jam tayang tontonan orang dewasa. Dengan pakem seperti ini, Thunderbirds pun sukses besar. Serial televisi ini tidak cuma ditayangkan di Britania Raya tetapi juga di lebih dari 30 negara lain.

Poster serial televisi Thunderbirds (Sumber: gerryanderson.com)

Kemunculan Thunderbirds pada 1965 adalah sesuatu yang revolusioner. Untuk pertama kalinya, ada produk yang benar-benar diciptakan untuk demografi bernama kidults. Dan rupanya, formula tersebut berhasil. Kidults pun pada akhirnya mengalami transformasi, dari awalnya cuma ceruk kecil menjadi pangsa pasar yang bisa menentukan nasib suatu industri.

Saat ini, kidults adalah salah satu pangsa pasar terbesar industri mainan global. Kalau tidak percaya, coba tengok data dari NPD Group, perusahaan yang bergerak di bidang riset pasar.

Dari 13 pasar mainan yang datanya dilacak oleh NPD Group, tercatat bahwa penjualan mainan dalam kurun September 2021-September 2022 mencapai $36,7 miliar. Nah, dari situ, $9 miliar atau sekitar seperempatnya berasal dari konsumsi mainan para kidults.

Menurut CNBC, para kidults itulah yang jadi pendorong terkuat pertumbuhan industri mainan. Pasalnya, mereka punya kemampuan finansial lebih untuk membeli mainan dengan harga yang lebih mahal.

Adapun, mainan yang biasanya dibeli para kidults ini adalah mainan-mainan yang mengingatkan mereka pada masa kecil. Misalnya: Lego, action figure pahlawan super, serta mainan yang berasal dari waralaba tertentu seperti lightsaber Star Wars. Dengan kemampuan finansial yang semakin kuat, para kidults semakin leluasa membeli mainan-mainan yang mereka inginkan.

Baca juga: Mengukur Batas Open Minded dari Perspektif Anak Muda

Mengapa Kidults Menjadi Fenomena

Dalam kolom yang dimuat di Aeon, Matt Alt bercerita bagaimana fenomena yang disebut The Great Regression bermula. Penulis asal Amerika Serikat yang lama tinggal di Jepang itu menceritakan bagaimana anak-anak muda Jepang di dekade 1990-an merespons gejolak ekonomi dengan bertingkah laiknya bocah.

Mereka melihat harapan untuk hidup mapan seperti orang tua mereka sudah pupus dengan pecahnya gelembung ekonomi tadi. Di saat bersamaan, meski stagflasi menghajar sektor perekonomian, produk budaya pop berkembang pesat di Jepang. Pada akhirnya, anak-anak muda itu pun memilih untuk meninggalkan budaya korporat yang diwariskan orang tua mereka dan memeluk erat-erat kultur pop yang tampak jauh lebih menggiurkan.

Anak-anak muda Jepang tersebut menghabiskan uang tidak untuk berinvestasi, melainkan untuk mengulang masa kecilnya. Mereka membeli mainan dan video game, berdandan seperti karakter yang mereka saksikan di manga dan anime, dan menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang.

Menariknya, tingkah anak muda Jepang 90-an itu sebenarnya sangat bermanfaat bagi perekonomian Jepang yang lesu. Kala itu, pemerintah Jepang meminta warganya untuk banyak-banyak berbelanja untuk menggairahkan perputaran roda ekonomi. Tak dinyana, yang menjadi penyelamat ekonomi Jepang waktu itu justru anak-anak muda yang, oleh generasi sebelumnya, kerapkali dicap “malas” dan “tidak berguna”.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Agak sulit sebenarnya mencari data penjualan mainan di Indonesia. Data yang tersedia saat ini hanya menyebutkan total penjualan yang didapat para produsen, bukan siapa yang membeli mainan tersebut. Indonesia sendiri tidak termasuk dalam 13 pasar yang data penjualan mainannya dilacak oleh NPD Group tadi.

Meski demikian, di sekeliling, kemungkinan besar Anda bakal bisa menemukan orang dewasa yang punya koleksi mainan. Di sini, Fomomedia juga sudah mewawancarai sejumlah kolektor mainan untuk mengetahui apa sebenarnya motivasi mereka dan bagaimana cara mereka menghidupi hobinya tersebut.

Vito (27 tahun)

Koleksi mainanku kebanyakan Gundam sama Star Wars. Ada Lego Star Wars juga tapi cuma karakternya, bukan pesawat atau kendaraan. Kalau ditanya jumlahnya ada berapa, sih, aku gak hafal, ya. Lumayan lah tapi.

Aku mulai berani beli mainan sendiri itu tahun 2019 waktu udah punya penghasilan sendiri. Gak enak juga ‘kan kalau pakai duit orang tua, soalnya harganya kan juga gak murah. Model kit Darth Vader yang kupunya itu, misalnya, harganya sampai Rp300 ribu.

Aku suka mainan-mainan ini karena pada dasarnya aku suka ngerakit. Karena pas kecil gak kesampaian karena gak ada duitnya, baru deh sekarang bisa memenuhi hasrat yang ada, hehehe.

Buat aku, menghidupi hobi kayak gini sebenarnya gak susah-susah banget. Kuncinya cuma dua: Ada duit dan ikhlas ngeluarin duitnya. Pokoknya jangan sampai beli kalau memang ada tanggungan yang mesti dipenuhi.

Rio (30 tahun)

Bisa dibilang koleksi mainanku ini lumayan banyak, ya. Die cast atau Hot Wheels ada lebih dari 200 pieces, action figure One Piece sama Dragon Ball ada sekitar 50 pieces, sisanya Gundam yang jumlahnya ada seratusan. Aku berani beli mainan-mainan kayak gini mulai 2015-2016 sejak punya penghasilan sendiri.

Buatku sendiri, ada perbedaan antara punya mainan waktu kecil sama sekarang ini. Waktu kecil, ‘kan, mindset-nya cuma bermain, bukan koleksi. Kalau sekarang, aku malah bisa dapat cuan dari koleksi mainan ini. Beberapa item ini, terutama yang rare atau hot item, bisa diputar lagi jadi uang yang profitable kayak misal Hot Wheels. Aku pernah jual Hot Wheels Super Treasure Hunt yang belinya cuma Rp30 ribuan karena dapat di toko mainan, terus laku di e-commerce di angka Rp400 ribu.

Jadi, karena beberapa item tadi bisa mendatangkan cuan, menurutku jadi gak susah, sih, buat menghidupi hobi ini. Apalagi, aku memang suka banget koleksi mainan-mainan ini. Koleksi mainan kayak gini bikin hati jadi tenteram, hahahaha. Manfaat terbesarnya di situ, sih. Apalagi Hot Wheels, ya, yang sistemnya kita kudu hunting dari toko ke toko, mal ke mal, jadi ketika nemu yang kita bener cari, rasanya puas banget.

Santiago (33 tahun)

Wah, kalau boleh jujur, sekarang ini sebetulnya aku lagi vakum koleksi-koleksian, hahaha. Udah delapan tahun lebih aku gak beli mainan sama sekali. Tapi, aku bukannya udah pensiun, ya. Suatu hari aku pengin beli lagi tapi pas udah gak harus mikirin kerjaan, hehe.

Aku aktif banget koleksi mainan ini di kisaran 2012 sampai 2014. Aku punya 20-30 Gunpla (Gundam Plastic Model) Master Grade. Ada juga 2 item Zoids HMM. Lumayan lah, ya, kalau dihitung-hitung, soalnya harga Gunpla Master Grade itu satunya bisa sampai Rp1,5 jutaan.

Buatku, hobi ini susah buat dihidupi. Mau ada uang, mau gak ada uang, tetap aja susah. Kenapa? Karena kalau kita pas gak ada uang, mau beli gak bisa. Eh, begitu ada uang, yang susah ngontrol biar gak impulsif, hahahahaha. Yang paling susah itu ketika kita masuk komunitas, isinya orang-orang penebar racun semua, hahaha. Seru, sih. Suka bisa ketemu banyak orang yang sehobi, tapi risikonya itu tadi, banyak ‘racun’.

Ini sebenarnya juga alasan kenapa aku rehat lama gak beli mainan dulu. Tapi, sampai sekarang aku masih suka, kok, sama Gunpla. Aku masih suka nonton review di YouTube, masih suka nonton juga ada orang yang bikin produk custom. Intinya masih ngikutin perkembangannya, lah.

***

Nah, dari kesaksian Vito, Rio, dan Santiago di atas, bisa disimpulkan bahwa pangsa pasar mainan di Indonesia sebetulnya cukup besar. Para kolektor itu rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mendapatkan kepuasan batin dengan mengoleksi mainan kesukaan.

Oh, ya, para kolektor itu juga mengaku baru mulai membeli mainan ketika mereka sudah punya penghasilan sendiri. Jadi, jangan dikira mereka tidak punya karier yang bagus. Justru, karier bagus itulah yang memungkinkan mereka untuk menjadi kolektor.

Yang menarik, situasi di Indonesia pada dekade 2010-an berbanding terbalik dengan Jepang pada dekade 1990-an. Di Indonesia, kondisi perekonomian justru terus membaik selama dekade 2010-an dan ini membuat para kolektor tadi memiliki karier bagus yang akhirnya memungkinkan mereka membeli mainan dengan harga mahal.

Dengan begitu, boleh dibilang, seperti apa pun kondisi ekonominya, kidults bakal tetap ada. Bahkan, mereka kini bukan cuma ada, tetapi semakin merajalela.

Penulis: Yoga

Editor: Irwan

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
nimabi

Thank you very much for sharing, I learned a lot from your article. Very cool. Thanks. nimabi

[…] gembira bagi kamu para pencinta film Disney. Salah satu perusahaan hiburan terbesar di dunia itu dikabarkan akan merilis koleksi Blu-Ray […]

[…] Absurd Ventures sendiri sampai sekarang belum mengumumkan satu proyek pun. Akan tetapi, berkaca dari capaian Houser sebelumnya bersama Rockstar Games, bisa dipastikan bahwa apa pun yang diumumkan oleh Absurd Ventures nanti bakal mendapat atensi serius, khususnya dari para gamers. […]