Twitter Digugat Karena Bantu Arab Saudi Lakukan Pelanggaran HAM

by | Sep 5, 2023

Arab Saudi | HAM | Internasional | Teknologi | Twitter

FOMOMEDIA – Twitter digugat karena membocorkan identitas para pengguna akun anonim di Arab Saudi, yang berujung pada penangkapan dan penyiksaan oleh negara.

Perusahaan media sosial X, yang sebelumnya bernama Twitter, tengah digugat karena dianggap membantu Arab Saudi melakukan pelanggaran HAM serius terhadap penggunanya yang tinggal di negeri minyak tersebut.

Pasalnya, Twitter mengungkapkan data rahasia penggunanya atas permintaan otoritas Arab Saudi. Akses data yang mereka berikan pada pemerintah negara tersebut jauh lebih tinggi tingkatannya dibandingkan Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada.

Gugatan kepada X diajukan akhir bulan Mei lalu melalui pengadilan federal di San Fransisco. Penggugatnya adalah seorang perempuan Saudi bernama Areej al-Sadhan. Saudara laki-lakinya, seorang relawan, diculik pada 2018, dan kemudian dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Twitter Disusupi Mata-mata Saudi

The Guardian merunut hubungan Twitter dan pemerintah Saudi bermula sekira satu dekade lalu. Sejak 2013, Twitter dilihat sebagai kendaraan penting bagi gerakan demokrasi selama Arab Spring. Utamanya, karena Twitter mengizinkan akun anonim. Media sosial ini pun menjadi salah satu sumber kekhawatiran pemerintah Saudi.

BACA JUGA:

Lantas pada 2014-2015, tiga agen Saudi menyusupi kantor Twitter di California. Dua di antaranya menyamar sebagai karyawan Twitter. Hasil dari penyusupan ini adalah terungkapnya identitas ribuan akun anonim Twitter di Arab Saudi.

Beberapa pemilik akun itu, nantinya dilaporkan ditahan, bahkan disiksa, sebagai bentuk penindakan pemerintah akan perbedaan pendapat. Salah satu yang ditangkap adalah relawan bernama Abdulrahman al-Sadhan.

Abdulrahman, yang pernah belajar di Amerika, telah membuat akun Twitter anonim. Di situ, ia mengkritik Saudi dan meneruskan cuitan para pengkritik lain. Abdulrahman bekerja di Bulan Sabit Merah di Riyadh ketika dibawa pergi dari kantornya pada 2018.

Saudara perempuannya, Areej al-Sadhan, menggugat Twitter lima tahun kemudian.

Twitter Sengaja Tutup Mata

Gugatan yang diajukan sejak akhir Mei itu terus diperbarui dengan bukti-bukti baru. Dalam gugatan terbaru, pengacara Areej al-Sadhan menambahkan tuduhan tentang bagaimana Twitter, yang semula kebocoran, akhirnya sengaja membocorkan data mereka.

Abdulrahman al-Sadhan. (Foto: Amnesty International)

Gugatan tersebut merinci bagaimana Twitter, yang pada saat itu masih di bawah kepemimpinan CEO Jack Dorsey, semestinya tahu bahwa pemerintah Saudi berkampanye untuk menemukan orang-orang yang mengkritik negara.

Namun karena pertimbangan finansial dan upaya untuk menjaga hubungan dekat dengan pemerintah Saudi, Twitter pura-pura tidak tahu dan bahkan membantu dengan menyerahkan akses pada data pengguna.

Gugatan tersebut mencatat bahwa, pada akhir tahun 2022 lalu, Elon Musk adalah pemegang saham terbesar kedua. Sementara pemegang saham terbesar yang pertama adalah perusahaan investasi Saudi.

Sebagian saham Saudi telah dijual ke dana kekayaan kedaulatan kerajaan. Ini memperkuat kecurigaan bahwa Twitter diintervensi oleh otoritas negara monarki tersebut.

Masih Terus Memburu Pembangkang

Gugatan terbaru Areej diajukan beberapa hari setelah Human Rights Watch (HRW) mengecam vonis pengadilan Saudi. Pasalnya, pada 10 Juli 2023, Pengadilan Kriminal Khusus Saudi menjatuhkan hukuman mati pada seorang pria, hanya berdasarkan aktivitasnya di X dan Youtube.

Terdakwa, Muhammad al-Ghamdi, adalah seorang guru yang tinggal eksil di Inggris.

Catatan pengadilan menunjukkan bahwa al-Ghamdi dituduh memiliki dua akun yang pengikutnya, jika dijumlahkan, hanya 10. Jumlah kicauan kedua akun itu pun, jika dijumlahkan, tidak sampai 1.000 kicauan. Kedua akun itu lebih banyak meretwit para pengkritik pemerintah ternama. Khususnya soal dugaan korupsi dan pelanggaran HAM oleh rezim Saudi yang sejak 2017 dipimpin secara de facto oleh Putra Mahkota Muhammad bin Salman.

Bagi HRW, putusan pengadilan itu adalah tanda bahwa pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi di Arab Saudi masih berlanjut, dan bahkan mengalami eskalasi.

“Kami percaya pada kasus Areej dan kami akan berjuang untuk menuntut – tapi apa yang paling dia inginkan adalah Arab Saudi melepaskan saudara laki-lakinya dan membiarkan pria itu kembali bergabung dengan keluarganya di Amerika Serikat,” kata Jim Walden, pengacara yang mewakili Areej.

“Jika itu terjadi, dia dan Abdulrahman akan dengan senang hati melanjutkan hidup mereka dan menyerahkan keadilan di tangan Tuhan,” pungkasnya.

Penulis: Ageng

Editot: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments