Tren Melempar Benda ke Panggung Konser Kini Sudah Kelewatan

by | Jul 17, 2023

Hiburan | Konser | Kriminal | Musik

FOMOMEDIA – Melempar benda ke panggung saat konser atau penampilan lain berlangsung bukan barang baru. Namun, belakangan aksi itu makin meresahkan.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, seorang sejarawan University of Bristol bernama Dr. Kirsty Sedgman bertutur bahwa yang namanya penonton resek itu sudah ada bahkan sejak zaman Plato di Yunani Kuno.

Meski demikian, pada masa Yunani Kuno itu, tren melempar benda ke panggung belum muncul. Dr. Sedgman menjelaskan bahwa salah satu contoh tertua aksi melempar benda ke panggung terjadi pada 1775. Ketika itu seorang penampil yang membawakan komedi musikal The Rival karya Richard B. Sheridan memutuskan turun dari panggung karena kesal dilempari apel oleh penonton.

Di Indonesia sendiri, pada zaman modern, melempar benda ke panggung sempat menjadi tren, khususnya dalam pertunjukan lawak Srimulat. Ketika Srimulat masih tampil dari panggung ke panggung, para penonton biasa melempar rokok, bahkan gepokan uang, ke atas panggung sebagai wujud saweran.

Sementara itu, di belahan bumi lainnya, melempar benda-benda—bahkan yang bersifat intim seperti pakaian dalam—pun sudah jadi hal populer. Namun, biasanya, benda-benda tersebut dilempar ke panggung sebagai semacam “persembahan” bagi sang idola yang sedang tampil. Tidak seperti yang terjadi belakangan ini, di mana benda-benda dilemparkan langsung ke tubuh artis yang sedang manggung.

Makin Marak dan Berbahaya

Aksi pelemparan itu belum lama ini menimpa Harry Styles. Mata penyanyi berkebangsaan Inggris tersebut terkena benda terbang ketika manggung di konser Love On Tour di Wina, Austria, Sabtu (8/7/2023). Styles, sayangnya, bukan orang pertama yang menjadi korban tren bodoh ini. Sebelum itu, sejumlah penampil lain pun sudah merasakan hal serupa.

Saat tampil di Hyde Park, Inggris, Pink mendapat “hadiah” yang betul-betul tidak masuk akal ketika seorang penggemar melemparkan abu kremasi ibunya sendiri ke atas panggung.

Selama tampil di Hyde Park, Inggris, itu Pink sebetulnya senang-senang saja menerima benda yang dilemparkan ke atas panggung. Akan tetapi, ketika sebungkus plastik berisi abu kremasi dilemparkan, barulah mood penyanyi bernama asli Alecia Moore itu berubah.

“Ini ibumu?” tanya Pink ke penonton, dikutip dari Sky News. “Saya tidak tahu bagaimana perasaan saya tentang ini,” lanjutnya.

Abu tersebut memang tidak mengenai Pink secara langsung. Akan tetapi, sifat dari benda yang dilemparkan itu tentunya sangat mengganggu. Apa pula maksudnya melempar abu kremasi ibu sendiri ke panggung konser?

Sementara itu, solois lain, Bebe Rexha, mengalami nasib serupa dengan Styles. Dalam sebuah penampilan di New York, Amerika Serikat, 17 Juni lalu, seorang penonton melempar ponsel yang mengenai bagian pelipis Rexha. Tak pelak, Rexha pun harus mendapat beberapa jahitan.

Pelemparan terhadap Rexha itu membuat konser langsung terhenti dan, tak lama kemudian, pelaku pelemparan diringkus polisi. Ketika ditanyai motifnya, orang bernama Nicolas Malvagna itu berkata, “Saya mencoba untuk melihat apakah saya bisa memukulnya dengan telepon di akhir acara karena itu akan lucu.”

Selain Pink, Rexha, dan Styles, masih ada Drake yang juga mengalami hal serupa. Maraknya aksi pelemparan ini membuat sejumlah artis lain angkat bicara, mulai dari Adele, Billie Eilish, sampai Lil Nas X. Adele bahkan mengancam bakal membunuh siapa pun yang berani melempar benda ke arahnya.

“Sini kalau berani. Kalau sampai ada yang berani melemparku, akan kubunuh,” kata Adele dalam sebuah penampilan di Las Vegas, Amerika Serikat.

Indikasi Perubahan dan Keresahan Sosial

Fenomena ini sendiri, menurut Dr. Sedgman, adalah indikasi adanya perubahan sosial pasca-Pandemi COVID-19. “Ada sebuah fenomena di mana orang berbuat makin seenaknya sendiri. Ada kerusakan dalam kontrak sosial yang biasanya mengikat kita semua untuk sama-sama berbuat baik kepada orang lain,” ujarnya.

Pasca-Pandemi COVID-19, konser-konser kembali marak bermunculan. Akan tetapi, hal itu dibarengi dengan harga tiket yang luar biasa mahal. Karena merasa sudah membayar mahal itulah semua orang, menurut Dr. Sedgman, jadi memaksakan kehendaknya masing-masing. Kehendak-kehendak yang dipaksakan itu kemudian berbenturan dalam satu ruang publik.

“Orang-orang datang ke tempat konser dengan membawa ide yang saling bertentangan mengenai seperti apa pengalaman yang ideal itu seharusnya,” jelas Dr. Sedgman lagi.

Selain itu, ada pula keinginan untuk meruntuhkan tembok pembatas antara idola dan penggemar. Menurut Dr. Sedgman, konser adalah tempat yangf “ideal” untuk melakukan itu. “Bagi sebagian orang, ada keinginan secara aktif untuk meruntuhkan tembok pembatas itu dan mereka berusaha memasukkan diri mereka sendiri ke dalam dunia milik para pesohor itu,” paparnya.

Tak lupa, Dr. Sedgman juga mengingatkan bahwa, bisa jadi, tren melempar benda ke panggung yang membahayakan penampil ini adalah sebuah pertanda akan adanya sebuah keresahan sosial.

“Penampilan live adalah sebuah laboratorium untuk mencari tahu apa artinya hidup berdampingan. Setiap kali sebuah masyarakat mengalami keresahan sosial, tanda-tandanya bisa terlihat di penampilan live. Maka, sangatlah penting untuk memperhatikan perilaku orang di ruang-ruang budaya. Itu adalah indikator atas apa yang sedang terjadi pada masyarakat luas,” pungkas Dr. Sedgman.

Penulis: Yoga & Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments