Teruslah Berbenah Wahai Sepak Bola Indonesia!

by | May 9, 2024

Olahraga | Sepak Bola | Timnas Indonesia
timnas indonesia

FOMOMEDIAPiala Asia U-23 2024 menunjukkan bahwa Indonesia belum siap menjadi jawara. Namun, dari sini kita bisa tahu bahwa ada yang perlu dibenahi.

Teriak histeris seketika pecah ketika Muhammad Ferarri berhasil menjebloskan bola ke gawang Uzbekistan pada menit ke-60. Para penonton di barisan depan saya yang menghadap layar proyektor langsung loncat-loncat kegirangan. Termasuk saya, pekik kemenangan tiba-tiba keluar dari mulut.

Saya masih tak percaya bahwa Indonesia bisa menjebloskan si kulit bundar ke gawang lawan. Harapan Garuda Muda bisa melaju hingga babak final Piala Asia U-23 2024 pun seketika muncul.

Namun, tidak berlangsung lama, bak tiba-tiba ada badai datang, suasana riang langsung berganti muram. Pikiran seketika berkecamuk. Mungkin tak hanya saya, tetapi juga puluhan orang yang malam itu nonton bareng di Masjid Jenderal Sudirman, Demangan, Caturtunggal, Sleman, Yogyakarta.

Selepas euforia selebrasi gol Muhammad Ferarri, wasit langsung melihat Video Assistant Referees atau VAR. Ketika melihat rekaman, sang hakim lapangan sempat kaget dengan mengarahkan tangannya ke mulut, seakan tidak percaya. Wasit pun memutuskan bahwa tembakan ke dalam gawang itu dinyatakan offside.

Sebelum terjadinya gol, Ramadhan Sananta diketahui berada dalam posisi mendahului posisi lawan saat menerima umpan Pratama Arhan dari sisi kiri lapangan. Dengan demikian, skor pun masih imbang nol-nol. 

Uzbekistan Lebih Unggul

Pertandingan yang digelar di Stadion Abdullah bin Khalifa, Qatar, pada Senin (29/52024) itu jadi salah satu yang terberat pasukan Shin Tae-yong. Dalam pertandingan ini, Garuda Muda akhirnya harus tersingkir usai kalah telak dari Timnas Uzbekistan dengan skor 2-0.

Selama 90 menit berlangsung Indonesia harus mengakui permainan apik Uzbekistan. Negara itu terlihat lebih siap dalam penguasaan hingga permainan bola secara keseluruhan.

Usut punya usut, penampilan apik Uzbekistan sendiri bukan tanpa persiapan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pentingnya pembinaan generasi muda. 

Sejak pil pahit ditelan Indonesia, beberapa warganet ada yang menyoroti bagaimana kompetisi lokal di negara itu berjalan sangat intens dan padat. Tak sedikit yang kemudian menyangkutpautkan bahwa dari upaya serius sepak bola lokal itulah Uzbekistan mampu menjelma sebagai kekuatan baru di Asia Raya.

Sementara, terlepas dari permainan apik Khusayin Norchaev dan kawan-kawannya, penampilan wasit Shen Yinhao juga menjadi sorotan utama dalam laga malam itu. Wasit asal China tersebut dianggap oleh warganet penuh dengan hal kontroversial.

Pertama, momen VAR yang seakan-akan telah nge-prank para pencinta bola se-Tanah Air. Kedua, adalah keputusannya terkait memberikan kartu merah kepada Rizky Ridho. Kapten Timnas Indonesia U-23 tersebut harus meninggalkan lapangan lebih dulu lantaran dianggap menendang kapten Uzbekistan.

Dua hal itulah yang kemudian membuat sosok Yinhao menjadi perbincangan di jagat maya Indonesia. Bahkan, tak sedikit yang langsung turut mencari profil hingga akun media sosial sang juru hakim rumput hijau itu.

BACA JUGA:

Kalah dari Irak

Meski menelan kekalahan dari Uzbekistan, Timnas Indonesia U-23 sebetulnya masih berpeluang untuk melaju ke Olimpiade Paris 2024. Namun, Garuda Muda yang menjamu Timnas Irak U-23 lagi-lagi harus menelan pil pahit.

Dalam laga yang digelar di Stadion Abdullah bin Khalifa pada Kamis (2/5/2024) malam, Pratama Arhan dan kawan-kawan harus mengakui keunggulan Irak. Skor imbang 1-1 hingga di babak kedua tak mampu bertahan hingga babak penalti. Di momen perpanjangan waktu, Indonesia akhirnya kalah dengan skor 2-1.

Dengan demikian, maka peluang Indonesia untuk bisa maju ke Olimpiade Paris 2024 semakin sulit. Garuda Muda untuk bisa ikut dalam kompetisi tersebut harus memperebutkan kesempatan satu tiket lagi. Perebutan ini dilakukan oleh satu dari wakil Asia dan satunya lagi berasal dari perwakilan Afrika. Peringkat 4 Piala Asia U-23 2024 bakal melawan peringkat 4 Piala Afrika U-23 2023 kemarin.

Negara Pertama Asia Bermain di Piala Dunia

Banyak yang tak menyangka bahwa permainan Timnas Indonesia di Piala Asia U-24 2024 bakal mampu tampil apik. Gaya bermain pasukan Shin Tae-yong dari kaki satu ke kaki lain terlihat lebih rapi. Taktik umpan jauh bukan jadi sebuah ciri khas lagi.

Permainan apik Indonesia jelas membuat asa tampil di Piala Dunia muncul lagi. Tampil di turnamen tersebut memang menjadi salah satu impian tersendiri. Apalagi, jika dilihat dari segi historis, negara ini pernah tampil dan bahkan menjadi pertama yang mewakili Asia berlaga di ajang bergengsi sejagat itu.

Penampilan Indonesia di Piala Dunia bisa dilihat sejak negara ini belum merdeka. Tepatnya pada 1938, Indonesia waktu itu masih bernama Hindia Belanda. Antony Sutton dalam Sepak Bola The Indonesian Way of Life (2017), menyebut bahwa tanah Hindia Belanda merupakan koloni dari Kerajaan Belanda. Waktu itu, Nederland Indies Voetbal Bond (NIVB) yang mewakili Hindia Belanda tampil di Piala Dunia di Prancis.

Selama tampil di Piala Dunia, NIVB bermain cukup apik. Namun, tim ini harus mengakui keunggulan Hungaria yang berhasil menang 6-0 tanpa balas. 

Hindia Belanda menjadi salah satu tim yang disegani di kancah Asia. Namun, setelah kemerdekaan, Indonesia justru kalah pamor dengan negara-negara lain. Bahkan, sejak saat itu hingga akhir 1949, Asia tidak pernah lagi mengirimkan wakilnya di Piala Dunia 

Negara-negara Asia di Piala Dunia

Pada 1950, misalnya, Piala Dunia yang digelar di Brasil waktu itu sebetulnya India berpeluang untuk ikut serta. Namun, negara tersebut tidak berangkat. Faktor biaya yang mahal jadi pertimbangan penting yang menyebabkan perwakilan Asia gagal tampil di Piala Dunia.

Kemudian, pada 1954, akhirnya Asia mengirimkan perwakilannya lagi. Kali ini, Korea Selatan yang baru saja mengakhiri Perang Korea satu bulan sebelumnya, akhirnya bisa pergi ke Swiss. Selepas itu, Asia kembali absen selama dua kali turnamen digelar. Kemudian, pada 1966, Korea Utara mampu tampil sebagai perwakilan Asia dalam Piala Dunia di Inggris.

Selepas itu, akhirnya negara-negara lain di Asia lainnya semakin mampu menunjukkan tajinya. Mulai dari Australia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Jepang. Hingga kini, beberapa negara itu selalu konsisten tampil di Piala Dunia.

Perkuat Kompetisi Lokal

Antony Sutton menyoroti betul bagaimana perkembangan sepak bola Asia. Penulis asal Inggris itu mengupas bagaimana sepak bola di benua ini berkembang. Salah satunya adalah Jepang.

Ya, Negeri Samurai Biru mampu tampil menjadi kekuatan baru di Asia. Sejak 1994, Jepang telah menemukan titik balik dalam dunia sepak bolanya. “Mereka berhasil menciptakan liga profesional yang disebut J-League pada 1994. Dari kompetisi ini, mereka mampu menghasilkan banyak pemain yang dikenal luas sampai Eropa,” tulis Sutton.

Titik balik Jepang yang bisa membina kompetisi dengan baik tak hanya berangkat dari olahraga saja. Lebih dari itu, Negeri Sakura tersebut banyak memperbaiki segala lini, termasuk arah kebudayaan mereka.

Sejak era awal 1980-an, telah muncul berbagai manga yang berlatar sepak bola. Salah satu yang paling fenomenal hingga dewasa ini adalah Captain Tsubasa. Manga karangan Yōichi Takahashi itu mampu mendunia, bahkan membuat asa Jepang untuk tampil di Piala Dunia semakin membara.

Tidak hanya ada di benak para pemain sepak bola saja, tetapi impian untuk tampil di ajang bergengsi itu sudah bercokol di otak orang-orang atau setidaknya anak muda Jepang. Selain Captain Tsubasa, berbagai seri komik seperti Shoot!, Whistle, DAYS, Area no Kishi, dan lain sebagainya mampu menjadi penanda sebuah era baru budaya pop Jepang berkembang dan berkelindan dengan sepak bola.

Namun, sayangnya, sepak bola Asia sendiri masih perlu banyak berbenah. Di level Piala Dunia, Asia masih payah, bahkan termasuk saat melawan negara-negara dari Afrika.

Ketika Sepak Bola Sebatas Kepentingan Politik

Termasuk apa yang terjadi di Asia Tenggara. Sutton menyebut, “Asia Tenggara masih berkutat pada masalah-masalah regional mereka. Masih terlalu banyak orang di Asia Tenggara yang melihat sepak bola sebagai potensi penarik massa yang bisa digunakan untuk kepentingan politik ataupun bisnis.”

Seperti halnya di Indonesia, negara ini juga masih berkutat pada masalah kompetisi lokal. Darmanto Simaepa dalam Tamasya Bola; Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola (2016), menyebut sepak bola Tanah Air tak ubahnya hanya sebagai alat politik belaka. “Para bajingan dan pemburu rente telah membajak kompetisi sepak bola untuk melampiaskan eros paling purba dalam sejarah kemanusiaan: hasrat berkuasa,” tulisnya.

Banyak yang sepakat bahwa sepak bola lokal memang penting. Seperti halnya yang terjadi di Jepang maupun Uzbekistan, sudah seharusnya Indonesia juga mampu memperbaiki kompetisi lokal. Pembinaan dari usia dini harus terus terjadi dan terwadahi.

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola di Tanah Air tak ubahnya hanya sebagai kepentingan politis belaka. Darmanto menyebut bahwa sepak bola telah kehilangan visi sosialnya yang membuat orang merasa terhubung sebagai warga negeri.

Dari penampilan Indonesia di Piala Asia U-23 2024, sudah seharusnya PSSI sebagai federasi mampu melihat banyak celah yang perlu diperbaiki. Ya, salah satunya adalah kompetisi lokal. Sebab, seperti apa yang dikatakan Darmanto, “Kompetisi digunakan sebagai alat untuk menunjukkan sifat buaya atau harimau paling berkuasa dalam rimba raya sepak bola.”

Penulis: Sunardi

Editor: Safar

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments