Terdakwa Revenge Porn Pandeglang Resmi Dikeluarkan dari Kampus

by | Jul 5, 2023

Alwi Hosen Maolana | Banten | Kriminal | Pandeglang

FOMOMEDIA – Keadilan untuk korban revenge porn Pandeglang terus mengalir. Pelaku Alwi Hosen Maulana kini telah dikeluarkan dari Untirta.

Terdakwa kasus revenge porn Alwi Hosen Maolana (22) baru-baru ini dikeluarkan dari kampusnya. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, secara resmi mengumumkan bahwa Alwi dikeluarkan alias di-drop out (DO) pada Senin (3/7/2023).

Keputusan pengeluaran Alwi sebagai mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tertuang dalam Keputusan Rektor No. 619/UN43/KPT.KM.00.05/2023. Isi keputusan tersebut tentang adanya pemberian sanksi akademik ke Alwi. Ia diberhentikan sebagai mahasiswa karena tersandung kasus pelanggaran hukum dan etika moral.

Diketahui sosok Alwi dikeluarkan dari kampus tersebut lantaran dirinya menjadi terdakwa kasus penyebaran konten porno mantan pacarnya yang sempat ramai di Twitter. Langkah DO dari kampus tersebut diambil usai persidangan pembacaan tuntutan dilakukan secara tertutup dan daring di Pengadilan Negeri (PN) Pandeglang, Selasa (27/6/2023).

Alwi dituntut 6 tahun penjara plus denda Rp1 miliar subsider 3 bulan kurungan penjara. Dalam perkara kasus revenge porn tersebut, Alwi dijerat Pasal 45 ayat (1) juncto Pasal 27 ayat (1).

Keterangan tuntutan terhadap Alwi tersebut disampaikan kuasa hukum keluarga korban, Rizki Arifianto, usai mengikuti persidangan yang digelar secara tertutup dan daring itu.

“Jaksa penuntut umum membacakan tuntutannya, terdakwa dijerat Pasal 45 ayat 1 Juncto Pasal 27 ayat 1 UU ITE dengan hukuman maksimal 6 tahun,” kata Rizki, dikutip dari Kumparan.

Menurut Rizki, tuntutan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa Alwi sudah memberikan rasa puas untuk pihak keluarga korban. Namun, pihak korban akan tetap melakukan pelaporan kembali ke kepolisian atas dugaan penganiayaan, pengancaman, pemerasan, hingga pemerkosaan yang dilakukan oleh Alwi.

“Cukup puas karena tuntutan maksimal. Tapi disampaikan kakak korban bahwa kita tidak berhenti di proses ini. Kita akan melaporkan tindak pidana lain, seperti pengancaman, penganiayaan, pemerasan lalu pemerkosaan. Itu akan dilanjutkan. Kita akan buat laporan ke Polda Banten atau Polres Pandeglang,” ujar Rizki.

Pembacaan Tuntutan Digelar Terbuka

Sidang pembacaan tuntutan di PN Pandeglang sebelumnya disayangkan oleh pihak korban lantaran digelar secara tertutup dan daring. Pelaku tidak dihadirkan secara langsung di tempat persidangan.

Bahkan, pada saat persidangan dimulai, korban yang berada di luar area pengunjung sidang tiba-tiba menyampaikan keberatan dan meminta supaya korban dihadirkan di sidang langsung. Menurut korban, pelaku yang tidak dihadirkan di persidangan merupakan upaya melindungi pelaku.

Mendengar keberatan dari korban tersebut, majelis hakim tetap menolak permintaan korban. 

“Semua sudah diberikan haknya semaksimal mungkin, termasuk dari pihak korban mau didampingi siapa. Korban minta didampingi keluarganya, pengacaranya. Termasuk nyaman atau tidak bila terdakwa dihadirkan di persidangan karena itu adalah haknya korban. Dan sudah dipaparkan di persidangan sebelumnya untuk terdakwa dikeluarkan dari persidangan,” jawab Ketua Majelis Hakim, Hendi Eka Chandra.

“Jadi tidak ada prosedur formal yang dilanggar. Tidak jadi masalah jika terdakwa ada di rutan atau pun tahanan, kita berpedoman pada dasar hukumnya,” lanjut Hendi.

Menurut Hendi, meski persidangan digelar secara tertutup lantaran ada tendensi kesusilaan. Hendi mengatakan bahwa tidak hadirnya pelaku di persidangan tersebut juga untuk melindungi korban. Ia pun juga berjanji akan menggelar sidang secara terbuka dan menghadirkan terdakwa.

“Nanti sidang terbuka untuk umum saat pembacaan putusan. Silakan nanti hadir, dan terdakwa pun akan hadir duduk di persidangan saat pembacaan putusan,” kata Hendi.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments