Tahun 2023 Dunia Resesi, Anak Muda Harusnya Bersiap dan Peduli

by | Dec 2, 2022

Ekonomi | Keuangan

FOMOMEDIA.ID – Resesi 2023 jadi ancaman nyata. Apa yang harus dilakukan anak muda untuk menghadapinya?

“Kenaikan suku bunga cukup ekstrem bersama-sama, maka dunia pasti resesi pada 2023,” Kata Sri Mulyani, akhir September lalu. Dan seketika kekhawatiran merebak di masyarakat. Was-was akan ‘ramalan’ itu mewujud jadi kenyataan.

Terlebih, wanti-wanti dari Ani, sapaan akrab Bu Menteri Keuangan RI itu, diikuti dengan berita-berita mengenai kondisi kelaparan di Inggris dan gejala lainnya, sebagai dampak dari kondisi krisis perekonomian di negara yang baru ditinggal Ratu Elizabeth II itu.

Pakar dan lembaga riset pun beramai-ramai memprediksi akan hadirnya resesi global tahun depan. Ned Davis Research, sebuah lembaga riset berbasis di Florida yang dikenal dengan Model Probabilitas Resesi Globalnya, menyatakan kemungkinan resesi global tahun depan sebesar 98,1%, tertinggi sejak pelemahan ekonomi karena pandemi COVID-19 tahun 2020 dan krisis keuangan global 2008 dan 2009. 

Ditambah lagi, gejala-gejala menuju ekses krisis ekonomi dunia saat ini sudah sangat terasa oleh masyarakat di Indonesia. Seperti kenaikan harga-harga atau inflasi, menurunnya daya beli masyarakat, hingga langkah pengurangan jumlah karyawan oleh sebagian perusahaan, termasuk korporasi raksasa seperti Shopee, Indosat, dan lainnya yang makin memperkuat syak wasangka dengan kondisi perekonomian ke depan.

Maka, sepertinya, benarlah kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) usai melakukan peresmian groundbreaking pabrik pipa di KIT Batang, Jawa Tengah beberapa waktu lalu, bahwa “ekonomi dunia tahun depan, memang semua lembaga internasional sampaikan dalam posisi yang tidak baik dan posisi lebih gelap.”

Meski berulang kali pemerintah dan pengamat ekonomi mengingatkan masyarakat agar tidak panik paska ramainya berita prediksi resesi 2023, rasanya sulit bagi masyarakat untuk tidak suudzan. Terlebih, gejalanya memang sudah terasa. Pun, bayang-bayang krisis ekonomi masa lalu pada 1998 dan 2008 masih terngiang-ngiang di ingatan kita yang pernah melaluinya.

Walau demikian, kebanyakan pakar ekonomi menyuarakan prediksi-prediksi penyemangat bahwa kondisi resesi tahun depan tak akan seburuk krisis global yang pernah terjadi sebelumnya. Sean Snaith, Direktur University of Central Florida’s Institute for Economic Forecasting, mengistilahkan resesi yang akan terjadi di Amerika Serikat tahun depan dengan istilah pasta bowl recession yang lebar namun dangkal. “Resesi ini bisa datang secara bertahap dan mereda secara bertahap, seperti bentuk mangkuk pasta,” katanya.

Pun begitu prediksi dari ekonom-ekonom mengenai dampak resesi di Indonesia tidak akan seburuk yang dikhawatirkan. Bahkan, Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad, memprediksi Indonesia tidak akan masuk ke jurang resesi 2023.

Senada, mantan Menteri Keuangan Indonesia di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri,melalui fitur video reels di akun Instagramnya menyatakan bahwa dampak resesi global terasa ke Indonesia hanya pada jalur perdagangan dan keuangan saja yang dampaknya terbatas pada ekonomi nasional. “Apakah ekonomi Indonesia akan mengalami resesi? Menurut saya tidak, yang terjadi adalah perlambatan ekonomi,” ucap Chatib.

Namun demikian, walau mayoritas pengamat dan pakar ekonomi menyampaikan “angin surga” bahwa Indonesia tidak akan menyentuh lubang hitam resesi tahun depan, masyarakat Indonesia belum boleh bersuka cita terlalu girang. Terlebih rata-rata para pakar tersebut satu suara, bahwa perlambatan ekonomi tetap akan terjadi walau tidak resesi.

Dampak perlambatan ekonomi ini, tentunya, bakal sangat dirasakan oleh anak muda, mulai dari karyawan yang punya gaji bulanan tetap, PNS yang dinilai bebas PHK, sampai wirausahawan yang biasanya lebih banyak cuan namun pendapatannya tidak pasti. Semuanya tidak boleh memasuki tahun 2023 tanpa persiapan dan kesiapan, walau tak perlu berlebihan.

Sebagian anak muda juga sudah aware dengan isu resesi 2023 dan bersiap menghadapinya dengan berbagai cara. Contohnya Ihsan (29), yang saat ini menekuni usaha di bidang ekspedisi di wilayah Depok. Katanya, sejak isu resesi mulai berembus, ia merasakan perlambatan ekonomi Indonesia di kehidupan rumah tangganya. Oleh karena itu, katanya, ia sudah sepakat dengan istrinya untuk mulai lebih berhemat dan tidak memulai kredit barang tertentu hingga resesi berakhir.

“Sekarang ini masih ada cicilan rumah, sih. Cukup itu aja, deh, jangan ditambah dulu sampai ekonomi lebih stabil,” tuturnya.

Berbeda dengan Ihsan, Amel (27), seorang wanita yang bekerja sebagai social media specialist di Jakarta Selatan mengatakan, dirinya tak terlalu ambil pusing soal isu resesi tahun depan yang tengah digembar-gemborkan di media. Menurutnya, resesi 2023 baru sebatas prediksi yang belum pasti terjadi. “Sedangkan kalau masyarakat Indonesia hemat-hemat, malah konsumsi masyarakat jadi kurang. Itu kan malah pengaruh negatif ke perekonomian kita.

Lihat Fomographic: Resesi 2023, Nih Tips Buat Generasi Muda

Kalau gak penting, jangan dibeli!

Keranjang toko oranye, toko hijau, dan toko-toko daring lainnya menjadi musuh terbesar anak muda dalam hal berhemat. Produk-produk yang sudah berjejer di wishlist dan juga keranjang kerap menjadi hal yang pertama dikunjungi pascagajian, jika tidak ada dana talangan dari paylater. Walhasil, kerap kali di pertengahan atau masih awal bulan, sebagian berkata, “Gajian masih lama, tapi duit di rekening udah tipis aja.”

Tak heran, total nilai transaksi melalui e-commerce di Indonesia mencapai Rp401 triliun sepanjang tahun 2021, tertinggi di wilayah Asia Tenggara. Berdasarkan Riset Kredivo dan Katadata Insights Center (KIC),  Gen Z dan Milenial (18-35 tahun) adalah penyumbang terbesar terhadap proporsi jumlah transaksi belanja online pada tahun 2021 sebesar 71%. Dan produk-produk sekunder seperti fashion dan aksesoris, produk kecantikan, pulsa dan voucher, dan lainnya menjadi proporsi kategori terbesar yang dibeli di e-commerce.

Untuk persiapan resesi global atau perlambatan ekonomi tahun depan, generasi muda baiknya lebih hemat. Pengeluaran bulanan baiknya ditata lebih rapi dan dibuat skema prioritas berdasarkan kebutuhan dari spending yang akan dilakukan. Mengurangi waktu berselancar di aplikasi toko online dan media sosial bisa menjadi salah satu tips untuk menahan gairah belanja dan meredam keinginan untuk membeli barang yang tidak terlalu prioritas.

Sumber: giphy.com

Namun begitu, tidak harus juga menahan pengeluaran yang sampai berakibat ke penurunan kualitas kebutuhan maupun asupan yang berdampak negatif. Seperti mengurangi pengeluaran makanan bergizi, kebutuhan suplemen, kebutuhan kesehatan, dan lainnya.

Kalau bisa, jangan ngutang dulu!

Di masa ekonomi baik saja, kita sering jumpa sama teman yang ketika minjem duit wajahnya seperti kucing memelas, namun ketika ditagih malah berubah jadi hewan buas. Alasannya pasti selalu sama, “belum ada duit, sabar!”. Gimana lagi di masa ekonomi sulit seperti tahun depan, bisa-bisa lebih seram lagi.

Hal yang sama bisa terjadi dengan kita. Mudah saat ngutang, sulit saat bayar.

Makanya, menahan diri untuk tidak berutang perlu dilakukan mulai dari sekarang untuk menghindari dampak lebih buruk saat ekonomi melambat tahun depan. Mempertimbangkan ulang untuk tidak mengambil kredit barang jika tidak mendesak, mengurangi penggunaan paylater dan kartu kredit untuk belanja yang kurang substansial, hingga jangan coba-coba untuk memulai pinjol (ilegal) atau meminjam uang ke lintah darat. Dan berhemat adalah salah satu kunci untuk menghindari hal-hal demikian.

Kerja lebih giat, cari pemasukan tambahan

Niat untuk resign karena gak tahan dengan bos yang dinilai toxic, atau rencana untuk quiet quitting baiknya ditunda dulu, deh. Kecuali kamu udah dapat kejelasan untuk tempat kerja baru dengan bos yang dianggap lebih memedulikan work-life-balance. Jangan sampai resign tanpa persiapan atau quiet quitting yang dibalas dengan quiet firing oleh pemberi kerja malah membebani kehidupanmu saat melalui masa ekonomi suram 2023.

Malah, mencari peluang sampingan atau bahkan peluang baru dalam menghasilkan cuan sudah perlu dilakukan. Walau mungkin bagi sebagian orang malah akan tambah membuyarkan harapan untuk work-life-balance, itu akan lebih baik ketimbang akan tambah membuyarkan harapan untuk dapat melalui masa sulit ekonomi global 2023.

Cash is king

Ungkapan bahasa Inggris yang biasa muncul saat ekonomi melambat atau bahkan resesi, uang tunai adalah rajanya. Kata-kata itu pula yang kerap menjadi pegangan sebagian investor untuk pada akhirnya menahan investasi untuk menjaga likuiditas dan melakukan wait and see selama krisis ekonomi berlangsung.

Walau istilah tersebut sebenarnya lebih relevan pada investor karena jumlah cash yang mereka gelontorkan untuk investasi sangat besar, taktik itu juga bisa ditiru semua kalangan.Anak muda, baik yang memiliki uang tunai dalam jumlah besar ataupun pas-pasan, sebaiknya mempertahankan aset itu sebagai modal melalui dampak resesi global yang tak pasti.

Penulis: Irwan

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Bob

Good article