Syarat “Good Looking” yang Diskriminatif di Dunia Kerja

by | Mar 10, 2023

Karier | Pendidikan | Sosial

FOMOMEDIA – “Good looking” menjadi syarat yang dinilai diskriminatif di dunia kerja. Celakanya, dunia pendidikan malah melanggengkan praktik tersebut.

Ada perubahan paradigma yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kini, fokus pendidikan Indonesia semakin jelas, yaitu untuk memenuhi kebutuhan industri dengan tujuan besar menekan angka pengangguran.

“Lakukan reorientasi pendidikan dan pelatihan vokasi ke arah demand driven sehingga kurikulum, materi pembelajaran, praktik kerja, pengujian serta sertifikasi bisa sesuai dengan permintaan dunia usaha dan industri. Libatkan dunia usaha dan industri karena mereka lebih paham kebutuhan tenaga kerjanya,” ucap Jokowi pada 13 September 2016 silam. 

Kemudian, instruksi tersebut direalisasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam wujud “Kurikulum Merdeka”. Para peserta didik pun diberikan kebebasan lebih untuk mempelajari skill yang mereka minati dan butuhkan. 

Sayangnya, skill saja tidak cukup bagi kita untuk bisa diterima oleh suatu perusahaan. Masih ada beberapa korporasi yang menyaratkan “berpenampilan menarik (good looking)” agar dapat bekerja di suatu posisi yang mereka tawarkan.

“Good looking” jadi syarat masuk kerja.

Hal tersebut pun diadopsi oleh salah satu program studi di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Kampus yang berdiri pada 1963 itu menarik perhatian warganet pada Juli 2022, karena program studi D3 Keuangan Perbankan Fakultas Vokasi, membuat syarat tambahan untuk calon mahasiswa baru, yakni berpenampilan menarik.

Sontak warganet meributkan frasa “good looking” tersebut dengan narasi pro dan kontra. Yang pro berpendapat, syarat good looking tadi dicantumkan karena hal itu sudah lama diterapkan di dunia perbankan. Sedangkan, yang menolak menyatakan institusi pendidikan tidak boleh diskriminatif terhadap penampilan fisik.

Akhirnya, pihak Universitas Brawijaya (UB) angkat suara. Heri Prawoto Widodo, Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik UB, memberi penjelasan kepada Kompas

Heru mengatakan, “Itu dari pihak bank mitra karena mereka yang memenuhi syarat akan direkrut oleh pihak bank. Biasanya kalau tidak pandemi akan dicek langsung oleh pihak mereka (bank).”

Jadi, hal tersebut karena persyaratan yang dibuat oleh dunia kerja sendiri. Menurutnya, jika lulusan dari prodi mereka tidak terserap dunia industri, reputasi prodi tersebut akan ternoda. . 

Selain itu, dalam laporan Asumsi, San Rudianto, Ketua Departemen Bisnis dan Hospitality Fakultas Vokasi UB, menekankan bahwa “good looking” yang dimaksud adalah sikap yang menarik dan enak dilihat. 

“Konteks perbankan itu ‘kan, kita ‘kan frontline, ya. Kalau frontline itu, ‘kan, paling tidak harus rapi, enak dilihat. Bukan harus cantik, enggak. Tapi proporsional dan profesional. Orang pintar, ya, mereka good looking,” ucap Rudianto. 

Cukup mengiris hati, tapi itulah realitas halaman muka pendidikan kita.

***

Agar tidak ada beda persepsi yang tajam perihal makna frasa “good looking”. Mari kita cek kamus. Menurut kamus bahasa Inggris Merriam Webster, “good looking” diartikan sebagai “memiliki penampilan yang menyenangkan atau menarik”. Sedangkan kamus Cambridge mengartikan “good looking” sebagai  “menarik secara fisik”. 

Danny and Mick GIF - Find & Share on GIPHY

Dua kamus itu memasukkan kata “menarik” dalam definisi mereka. Namun, objek apa yang menarik? Di sini ada perbedaan. Merriam Webster menyebut yang menarik adalah “appearance” atau “penampilan”, sedangkan Cambridge “physically” atau “fisik”.

Jika mengutip penggalan dari Urbanasia, mereka menguraikan bahwa “Konsep ‘good looking‘ berubah seiring dengan perkembangan industri. Perempuan mulai berlomba-lomba mengisi posisi penting di sektor industri. Seseorang yang ‘menarik’ dianggap mampu meningkatkan keuntungan perusahaan.”

Sigit Rochadi, sosiolog Universitas Nasional (Unas), menyatakan konsep klasik “good looking” mengartikan, seseorang harus enak dilihat, dalam artian memiliki bentuk fisik dan tubuh yang menarik. Ini adalah konsep seksis yang mana perempuan atau seseorang hanya dilihat sebagai objek.

“Di era industri, konsep ‘good looking‘ itu makin mengabaikan ‘behavior‘ dan ‘brain‘. Hanya menekankan pada aspek ‘beauty’, itu saja. Ini tentu mengecewakan para aktivis perempuan. Artinya laki-laki, perempuan, itu dilihat sebelah mata,” tutur Sigit sebagaimana dikutip dari Urbanasia

Pemaknaan “good looking” atau “berpenampilan menarik” ini—apa pun maknanya, baik secara penampilan maupun fisik—mengindikasikan ada unsur diskriminatif, di dalam lingkup pendidikan maupun dunia industri. 

Hal tersebut telah ditulis oleh Reva Damayanti dan Nurul Hikmah (keduanya pengajar di Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya) dalam artikel ilmiah mereka dengan judul “Syarat Berpenampilan Menarik pada Informasi Lowongan Pekerjaan sebagai Salah Satu Diskriminasi dalam Dunia Kerja“. 

Pada Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mencantumkan batasan tindakan sehingga bisa disebut diskriminatif. 

Kami kutip secara verbatim, “Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan  yang langsung maupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individu maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.”

Beberapa aturan di Indonesia pun secara implisit maupun eksplisit menyebut syarat “berpenampilan menarik” adalah suatu tindakan diskriminatif. Misalnya, pada  UU Ketenagakerjaan pada Pasal 5 Nomor 13 Tahun 2003 bahwa “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan”. 

Artinya, frasa “good looking” atau “berpenampilan menarik” di lowongan kerja adalah salah satu cara untuk membatasi warga negara agar tidak mendapatkan haknya. 

Philadelphia Eagles Flirt GIF by NFL - Find & Share on GIPHY

Oke. Mari kita berbaik sangka dengan memaknai “good looking” atau “berpenampilan menarik” sebagai menggunakan pakaian formal, rapi, dan dandanan yang sewajarnya. Kalau memang seperti itu maknanya, bukannya setiap calon pekerja ketika melamar (atau pekerja ketika bekerja) selalu melakukan itu? 

Artinya, tanpa ada syarat “good looking” atau “berpenampilan menarik”, para pekerja akan tampil dengan pakaian bersih, rapi, dan dandan sewajarnya saat bekerja.

Apabila frasa “good looking” terasa diskriminatif, bahkan nyaris intimidatif terhadap calon pekerja, sebaiknya ada satu frasa yang memiliki makna yang lebih halus pada papan informasi lowongan pekerjaan, yakni “good grooming“.

Frasa tersebut bermakna ‘berpenampilan yang baik’, bisa ditambahkan pula sebagai berpenampilan rapi dan sopan. Ini dimaksudkan agar pekerja tidak “kena mental” ketika melamar kerja atau melakukan pekerjaan sehari-hari. 

Apa saja standar dari “good grooming”? Reva dan Nurul menyebutkan ada tiga indikator. Yakni, kebersihan dan kerapian diri (personal hygiene), keramahan (attitude), dan kepercayaan diri (confidence).

Terlihat, ya, perbedaan antara “good looking” dan “good grooming”. Diharapkan, ketika penggunaan frasa “good grooming” pada akhirnya nanti menjadi norma, maka kesempatan kerja tidak hanya menjadi milik mereka yang “glowing”.

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

[…] saja syarat “good looking” yang diskriminatif terhadap pencari kerja. Namun, “batas usia” atau ageism banyak meneror […]

Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you. https://www.binance.info/lv/join?ref=B4EPR6J0