Surya Sahetapy, Mahasiswa Tuli yang Buktikan Pentingnya Investasi Bahasa Isyarat

by | May 22, 2023

Disabilitas | Pendidikan | Surya Sahetapy

FOMOMEDIA – Tuli bagi beberapa orang dianggap sebagai kekurangan dalam hal berinteraksi. Namun, tidak bagi sosok Surya Sahetapy yang mampu merengkuh gelar master.

Sosok Surya Sahetapysedang menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia. Pasalnya, meski lahir dengan kondisi tuli, Surya tak gentar mengejar pendidikan setinggi-tingginya.

Surya, yang sekaligus merupakan aktivis tuli, berhasil meraih gelar S2 di Rochester Institute of Technology (RIT), Amerika Serikat (AS) jurusan Pendidikan untuk Tuli dan Sulit Mendengar.

Putra penyanyi Dewi Yull ini juga berhasil menyabet tiga penghargaan sekaligus, yakni: International Student Outstanding Service Award, The Outstanding Graduating Student Award In The Master’s Degree, dan NTID Graduate College Delegate.

“Hai mendiang Kak Gisca! Saya merasa terhormat untuk memberi kabar bahwa saya telah terpilih sebagai Mahasiswa Lulusan Berprestasi dalam Master of Science Degree category dan the NTID Graduate College Delegate untuk tahun ajaran 2022-2023,” tulis Surya dalam akun Instagram-nya, @suryasahetapy, Selasa (9/5/2023) lalu.

Surya Sahetapy wisuda di RIT, New York, Amerika Serikat. (Foto: Instagram Surya Sahetapy)

Dalam keterangan tersebut, Surya menyebut sosok Gisca, kakaknya. Diketahui, bahwa Gisca juga menyandang tuli dan telah tiada.

“Selain itu, saya juga menerima the International Student Outstanding Service Award. Abi dan Ibu kita akan hadir di acara wisuda saya! Tidak sabar menyambut mereka di Rochester, NY!” lanjutnya.

Sementara itu, Dewi Yull merasa sangat senang dengan prestasi yang diraih oleh anaknya. Bahkan, penyanyi tersebut mengutarakan perasaannya saat keluarganya pernah dianggap remeh.

Dewi kerap disindir dengan kondisi anaknya. “Setiap kali ketemu orang selalu bilang kasihan, ya, punya anak dua tuli semua. Dosa apa, ya, dia? Kasihan, ya, anaknya cacat,” kata Dewi dalam unggahan Instagram VOA Indonesia, Kamis (18/5/2023).

“Dua anak saya nggak bisa dengar. Apa rahasia di balik itu? Tuhan kasih tugas ke saya untuk membuka mata-mata orang lain keluarga dengan anak disabilitas, atau orang yang punya anak-anak sempurna,” lanjut Dewi.

“Menurut teman-teman kuliahnya, para dosen dan rektor jarang sekali mahasiswa memborong achievement sebanyak itu. Alhamdulillah sujud syukur, percayalah bahwa waktu dan kesabaran pasti mendapat balasan satu saat,” tulis Dewi dalam keterangan unggahan di akun Instagram-nya, Senin (15/5/2023).

Pentingnya Investasi Bahasa Isyarat

Salah satu hal yang menarik dari sosok Surya adalah ia mengungkapkan betapa pentingnya investasi bahasa isyarat. Setelah mengenyam pendidikan di luar negeri, khususnya di RIT, Surya menemukan beberapa perbedaan dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Menurut Surya, pendidikan tuli di Indonesia lebih fokus menekankan bahasa verbal dan tulis. Kurangnya pendidikan untuk perkembangan bahasa isyarat itulah yang dikritik oleh Surya.

Surya kagum dengan apa yang didapatkannya di RIT. Menurutnya, di RIT terdapat dosen yang juga tuli. Kemudian, pada saat proses belajar di dalam kelas, bahasa yang digunakan merupakan bahasa isyarat.

Diketahui, RIT sendiri merupakan kampus teknologi terbesar di AS untuk teman tuli dengan jumlah 1.100 mahasiswa tuli & kesulitan pendengaran.

Rochester Institute of Technology memiliki program khusus tuli. (Foto: Surya Sahetapy)

“Nggak ada alasan untuk remehkan Tuli. Ini cuma soal keterbatasan bahasa. Bahwa saya tidak bisa mendengar, ini cuma perbedaan bahasa saja,” ujar Surya, dikutip dari Instagram VOA Indonesia.

Sementara itu, menurut laporan Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, dari total 7 miliar penduduk dunia tahun 2021, 15 persen di antaranya adalah penyandang disabilitas.

Di Indonesia sendiri, menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagaimana dikutip dari Puslapdik, pendidikan kepada kaum disabilitas, alih-alih fokus ke kurikulum, masih terkendala dalam masalah akses. BPS menyebut, terdapat 30,7 persen penyandang disabilitas yang tidak tamat sekolah sampai tingkat pendidikan menengah. 

Para penyandang disabilitas yang berhasil tamat perguruan tinggi hanya 17,6 persen dari total penyandang disabilitas. Tak hanya itu saja, BPS juga menyebut, bahwa lapangan pekerjaan bagi disabilitas pada periode 2016-2019 tidak pernah tumbuh lebih dari 49 persen.

Penulis: Sunardi

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments