Studi: Perlu Kemarahan untuk Lawan Perubahan Iklim

by | Aug 30, 2023

Aktivisme | Internasional | Lingkungan | Perubahan Iklim

FOMOMEDIA – Marah memang wajar. Apalagi jika kemarahan itu terkait perubahan iklim. Semakin marah, semakin mungkin seseorang melakukan aksi nyata.

Siapa bilang jika marah selalu identik dengan sesuatu yang negatif? Kali ini, sebuah studi yang dilakukan oleh Thea Gregersen dkk. membuktikan bahwa masyarakat harus marah supaya bisa memicu aksi terkait perubahan iklim.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Global Environmental Change itu menyoroti adanya kemarahan masyarakat terhadap perubahan iklim. Peneliti mencoba mengaitkan hal tersebut dengan keterlibatan dalam aksi terkait perubahan iklim.

Dalam studi tersebut, ada tiga contoh kasus yang diteliti, yaitu aktivisme Greta Thunberg, Extinction Rebellion, dan Yellow Vests. Para pelaku aktivisme iklim tersebut sering melakukan protes dan berpidato dengan berapi-api. Tak jarang, mereka juga marah.

“Perubahan iklim mempunyai sebab dan akibat yang beragam, kompleks, dan saling terkait, dan ada beberapa alasan mengapa orang mungkin marah karenanya,” tulis laporan studi itu.

Hubungan Kemarahan dengan Perubahan Iklim

Dalam studi tersebut, Gregersen dkk menemukan bahwa alasan marah paling umum adalah tindakan manusia yang menyebabkan perubahan iklim. Dengan kemarahan, masyarakat mencoba melakukan protes terhadap para politisi terkait kebijakan yang merusak iklim

Hubungan kemarahan dalam studi tersebut dibedakan menjadi tiga jenis keterlibatan dalam isu perubahan iklim. Para peneliti tersebut pun mendapatkan hasil yang berbeda.

Pertama, adanya kemarahan atas perubahan iklim itu jadi prediktor terkuat atas aktivisme seseorang. Kedua, kemarahan bisa memicu seseorang untuk mendukung kebijakan terkait perubahan iklim. Ketiga, kemarahan juga bisa tidak berhubungan dengan usaha seseorang itu untuk mencegah terjadinya perubahan iklim.

Dalam makalah penelitian itu, Gregersen bersama rekannya menggunakan pendekatan eksploratif untuk menyelidiki kandungan kemarahan iklim di antara sampel yang mewakili masyarakat Norwegia.

Perubahan Iklim Picu Orang Marah

Dari paparan makalah itu, tim peneliti menemukan bahwa 90 persen orang marah karena melihat perubahan iklim. Sementara, 10 persen tidak marah karena melihatnya bukan sebagai masalah, tapi lebih ke skeptisisme soal seberapa parah isu perubahan iklim.

Sementara itu, alasan lain yang paling sering disebutkan untuk marah yakni gara-gara tindakan manusia. Dari kategori tersebut, terdapat 57 persen tanggapan dan mencerminkan kemarahan akibat kelambanan manusia yang menyebabkan gagalnya mitigasi perubahan iklim.

“Secara umum, lebih umum melaporkan kemarahan mengenai penyebab perubahan iklim dibandingkan dampaknya. Mereka yang menyebutkan dampaknya mengacu pada bagaimana perubahan iklim berdampak pada alam,” papar penelitian itu.

Lalu, dengan adanya isu perubahan iklim dewasa ini, apakah kamu termasuk bagian yang ikut marah?

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] membaca maps atau peta? Ya, mungkin ini bukan bermaksud mendiskriminasi gender tertentu, tetapi sebuah studi telah membuktikan bahwa perempuan susah untuk membaca […]