Solo Kebanjiran Proyek Nasional, Karena Gibran Anak Presiden?

by | Oct 25, 2023

Gibran Rakabuming Raka | Politik Dinasti | Solo

FOMOMEDIA Selama Gibran menjabat sebagai wali kota, Solo berkembang pesat. Namun, sesungguhnya banyak dari proyek tersebut merupakan “hadiah” dari pusat.

“Kasihan rakyatnya kalau ada dinasti.” — Gibran Rakabuming Raka, 2018.

Satu-satunya hal yang konstan dalam hidup adalah perubahan, kata psikolog sosial Daniel Gilbert. Jadi boleh saja pendapat seorang Gibran berubah seiring waktu. Apalagi, dinasti politik bukan hal baru di negeri ini.

Semua orang yang menjabat presiden setidaknya pernah menarik satu anggota keluarganya masuk partai. Suharto menarik Tommy ke Golkar; Gus Dur menarik Yenny Wahid ke PKB; Megawati menarik Puan Maharani ke PDIP; SBY menarik AHY ke Demokrat.

Tak perlu jadi presiden dulu, mengajak keluarga sudah jadi praktik umum di kalangan kader partai, posisi tinggi maupun rendah. Dari 18 partai nasional, mungkin hanya segelintir yang tak memeram watak dinastik.

Namun belakangan, istilah politik dinasti dipakai secara spesifik oleh orang-orang untuk mengkritik keluarga Presiden Joko Widodo. Kritikan masyarakat banyak dilandasi oleh kekecewaan dan kekhawatiran.

Tidak Sesuai Ekspektasi Awal

Jokowi
Presiden Joko Widodo (Sumber: Sekretariat Kabinet)

Saat Jokowi menduduki kursi kepresidenan pada pemilu 2014, pendukungnya merayakan keberhasilan itu dengan harapan bahwa Jokowi akan membenahi berbagai problem dalam praktik berpolitik di Indonesia.

Namun, hingga akhir masa jabatannya pada 2023 ini, praktik politik yang ia tunjukkan semakin tampak sama saja dengan yang lama-lama. Kini, ia terang-terangan membangun dinasti politik: Kaesang Pangarep jadi ketua PSI dalam hitungan hari; Gibran menjadi kandidat cawapres untuk capres Prabowo Subianto.

Kekecewaan semakin besar karena mereka tidak mengakui adanya dinasti politik ini. Sejak saat mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo, Gibran menyangkal dirinya mendapat kemudahan sebagai anak presiden.

Penyangkalan itu mengkhawatirkan lantaran sangat terlihat seperti upaya mengelabui masyarakat. Sementara, kita melihat dengan jelas bagaimana kebijakan yang memengaruhi rakyat didasarkan oleh kepentingan keluarga.

Ketua MK Anwar Usman (Sumber: VoI)

Kita bisa mengurutkan berbagai perlakuan istimewa yang memuluskan jalan Gibran dalam membangun karier politiknya. Dari bagaimana PDIP mencalonkannya untuk Pilkada, meski proses penjaringan internal PDIP untuk mencari kandidat kepala daerah sudah ditutup. Hingga bagaimana Anwar Usman membuat Mahkamah Konstitusi membubuhkan syarat tambahan dalam batas usia minimum capres-cawapres.

“Berusia paling rendah 40 tahun atau pernah/sedang menjadi kepala daerah,” begitu kira-kira bunyi putusan MK tersebut. Di antara semua nama cawapres yang beredar, cuma Gibran yang memenuhi syarat tersebut. Apalagi, gugatan yang dikabulkan MK pun secara spesifik menyebut nama pria 36 tahun itu.

Di antara dua tonggak penting dalam karier politik Gibran itu, ada sederet hasil kerjanya dalam mengembangkan Kota Solo. Belasan proyek skala nasional berjalan di kota itu selama dua tahun masa kepemimpinan Gibran.

Namun, proyek sebanyak itu, yang masing-masingnya dibiayai dengan gelontoran dana APBN, agaknya tak akan bisa didapatkan oleh seorang Wali Kota, kecuali ia mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah pusat.

Berikut adalah 16 Proyek Skala Nasional di Solo pada masa jabatan Gibran.

1. Revitalisasi Pasar Mebel Gilingan

Pembangunan pasar tiga lantai di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Proyek ini didanai Kementerian Perindustrian. Pagu anggarannya menghabiskan biaya sekira Rp50,8 miliar.

2. Revitalisasi Taman Balekembang

Taman Balekambang merupakan salah satu ikon terpopuler Kota Solo. Dulunya, taman ini dibangun oleh KGPAA Mangkunegara VII untuk kedua putrinya, yakni GRAy Partini dan GRAy Partinah.

Dengan proyek revitalisasi ini, Taman Balekambang yang mulanya seluas 9,8 hektare, diperluas menjadi 12,5 hektare. Didanai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), revitalisasi taman hutan kota itu menghabiskan anggaran sebesar Rp154 miliar.

3. Revitalisasi Pasar Jongke

Pasar Jongke merupakan pasar tradisional kategori 1B, yang berlokasi di barat Kota Solo. Pasar Jongke terbagi dua, yakni bagian barat dan bagian timur. Bagian barat merupakan perkiosan dan pasar tradisional yang menjual sembako dan kebutuhan pokok lain. Sementara, bagian timur merupakan pusat jual beli sepeda bekas dan barang-barang antik.

Berdasarkan laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), pagu anggaran revitalisasi pasar ini adalah Rp135 miliar dari Dinas Cipta Kerja PUPR.

4. Rel Layang Simpang Joglo

Rel layang terpanjang di Indonesia ini dibangun di Simpang Tujuh Joglo. Dilansir dari laman Kementerian Perhubungan, dana pembangunan proyek ini sebesar Rp920 miliar. Selain Kemenhub, Kementerian PUPR turut mendanai pembangunan simpang layang ini.

5. Penataan Jalan Ngarsopuro-Gatot Subroto

Kementerian PUPR melakukan penataan besar-bersaran terhadap koridor Jalan Gatot Subroto hingga Ngarsopuro. Lingkup penataannya mencakup fasad dan gapura dengan konsep wayang, pedestrian dan jalan lingkungan, drainase lingkungan, mural, kanopi, hingga perbaikan serta dekorasi lampu kawasan.

Penataan kawasan koridor pedestrian ini dimulai sejak Juni 2022 dengan biaya Rp31,6 miliar.

Gibran tinjau pembangunan pedestrian (Sumber: Berlianmedia.com)

6. Revitalisasi Keraton Kasunanan

Revitalisasi Keraton Kasunanan Surakarta dilakukan bertahap dalam beberapa tahun. Titik awal revitaliasasinya adalah alun-alun Selatan dan Utara. Seluruh Kementerian PUPR mengucurkan anggaran sebesar Rp35 miliar untuk merevitalisasi situs budaya Kota Solo ini.

7. Revitalisasi Pasar Legi

Pasar Legi berdiri di atas lahan seluas 21.978 meter persegi. Bangunan pasar seluas 31.072 meter persegi ini terbagi dalam 4 zona gedung, yakni Blok A, Blok B, Blok C, dan Blok D. Masing-masing zona memiliki 3 lantai.

Anggaran APBN untuk Renovasi Pasar Legi sebesar Rp104,3 miliar. Proyek ini merupakan tanggung jawab Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Tengah, Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR dengan kontraktor pelaksana PT Pembangunan Perumahan (Persero).

8. Renovasi Pura Mangkunegaran

Proyek besar lainnya di Solo yang digarap pemerintah pusat selanjutnya adalah revitalisasi Pura Mangkunegaran. Pagu anggaran untuk proyek restorasi Pura Mangkunegaran Solo tahun ini senilai Rp 18 miliar. Beberapa yang perlu diperbaiki diantaranya yakni Panti Putro, Pagar Keliling, Gudang, Tempat Kereta, Pemukiman Kavaleri dan sebagainya. Pura Mangkunegaran sendiri menjadi salah satu lokasi andalan wisata sejarah di Solo.

9. Pembangunan Viaduk Gilingan

Viaduk Gilingan Solo juga dibangun dengan dana APBN, yakni dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Pembangunan ini membuat Viaduk Gilingan lebih lebar.

10. Rusun Putri Cempo

Rumah Susun Putri Cempo di Jebres dibangun untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang membutuhkan hunian di Solo. Rusun ini dibangun pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR. Pembangunannya dilaksanakan Direktorat Jenderal Perumahan. Pagu anggaran proyek ini mencapai Rp17 miliar.

Rusun Putri Cempo Surakarta (Sumber: Kompas)

11. Pembangunan Ulang Rusunawa Semanggi

Rusunawa Semanggi berkapasitas 196 kamar. Para penyewanya adalah warga Solo yang berpenghasilan rendah. Pemkot Surakarta menggagas agar rusun yang didirikan pada 2009 ini dibangun ulang. Dengan dibangun ulang, kapasitas akan bertambah. Anggaran proyek ini akan dikucurkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR.

12. Bantuan Transportasi Bus

Kementerian Perhubungan menjadikan Kota Solo sebagai salah satu pilot project untuk Program Buy the Service bernama “Teman Bus” (Transportasi Ekonomis, Mudah, Aman, dan Nyaman). Pemerintah pusat menyiapkan Rp50 miliar per tahun untuk bantuan transportasi massal di Solo. Itulah kenapa banyak bus batik berseliweran melayani berbagai rute di Kota Solo.

13. Renovasi Stadion Manahan

Pemerintah pusat melakukan renovasi terhadap lima lapangan/stadion sepak bola di Solo. Yakni, Stadion Manahan, Lapangan Kota Barat, Lapangan Banyuanyar, Stadion Sriwedari, dan Lapangan Sriwaru.

Berdasarkan laman Pemkot Surakarta, renovasi tersebut dilaksanakan dalam rangka mendukung penyelenggaraan Piala Dunia FIFA U-20 Tahun 2023 yang kemudian dilanjut Piala Dunia U-17.

Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Tengah dengan kontraktor pelaksana PT Nindya Karya (Persero) bertanggung jawab atas proyek ini dengan nilai kontrak sebesar Rp78,8 miliar.

14. Renovasi Jembatan Jurug

Membentang di atas Kali Bengawan Solo, Jembatan Jurug menghubungkan Kota Solo dengan Kabupaten Karanganyar. Pemerintah pusat, melalui Bina Marga Kementerian PUPR, merenovasi Jembatan Jurug B. 

Proyek BUMN

Gibran Saat Menjabat di Solo (Sumber: Kompas)

Selain 14 proyek besar dengan dana APBN dari berbagai kementerian, sejumlah proyek besar di Kota Solo digarap oleh perusahaan BUMN. Salah satunya yang terbesar adalah proyek revitalisasi Lokananta, yang memakan anggaran Rp50 miliar.

Lokananta adalah perusahaan rekaman pertama dan terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 1956. Selama puluhan tahun, Lokananta menjadi bangunan tua yang tidak terawat. Sampai akhirnya, Kementerian BUMN melakukan revitalisasi melalui perusahaan negara Danareksa.

Proyek BUMN lainnya adalah pembangkit listrik dari sampah, yang berlokasi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kecamatan Jebres. Dananya berasal dari BUMN PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Proyek Hibah

Sejumlah proyek pembangunan di Kota Solo juga didanai oleh hibah swasta dan asing. Beberapa di antaranya meliputi: pembangunan Masjid Sheikh Zayed, rencana pembangunan GOR Indoor Manahan; dan Islamic Center. Ketiga proyek tersebut didadi oleh Uni Emirat Arab.

Ada pula pembangunan Museum of Culture and Technology yang didanai konglomerat pemilik Mayapada Dato Sri Tahir. Lalu pembangunan Solo Safari (dulunya Kebun Binatang Jurug) dengan Taman Safari Indonesia sebagai investor.

Timpang dengan Daerah Lain

Proyek-proyek skala besar di Solo, mulanya diberitakan sebagai kabar yang menimbulkan decak kagum. Namun karena “semua hal pada dasarnya adalah soal mindset“, narasinya kini berbalik. Di saat Gibran menyangkal privilese politik dinasti, proyek-proyek dari pusat untuk Solo justru mengindikasikan bahwa ia diistemawakan.

Terlebih, kondisi pembangunan infrastrusktur besar-besaran di Solo kontras dengan kondisi daerah lain di Solo Raya, seperti Kabupaten Boyolali, Sragen, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, dan Wonogiri.

Bhima Yudhistira, Ekonom sekaligus Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), mengatakan bahwa besarnya anggaran APBN yang digelontorkan ke Solo menciptakan kesan daerah ini diistimewakan dan bisa menimbulkan kecemburan daerah lain.

Akses berlimpah terhadap APBN tersebut dapat dicurigai juga sebagai bentuk penyelahgunanaan kekuasaan. Sebab, memberikan kemudahan khusus karena ikatan kekeluargaan. Gibran si Wali Kota Solo adalah anak kandung Presiden RI Joko Widodo.

Sementara di kota dan kabupaten lain, ada pejabat daerah yang kinerjanya bagus, tapi terhalang oleh keterbatasan APBD sehingga tak bisa berbuat banyak.

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments