Skena yang Sebenarnya Bukan Cuma Soal Doc Mart dan Tote Bag

by | Dec 14, 2023

Fesyen | Hiburan | Skena

FOMOMEDIAEntah siapa yang mulai mengasosiasikan skena dengan sepatu tertentu. Yang jelas, skena yang sebenarnya jauh lebih luas.

Dalam tulisan ini, mau tidak mau, saya mesti mulai dengan sebuah penghakiman kecil: Kamu belum bisa dibilang chronically online kalau tidak ngeh dengan perbincangan mengenai “skena” yang ramai beberapa waktu lalu.

“Anak skena itu sepatunya Docmart, bawa tote bag ke mana-mana, kausnya oversized, rambutnya bondol, dan punya tato kecil-kecil.”

Kurang lebih, begitulah cara pengguna media sosial belakangan ini menggambarkan “anak skena”. Semua merujuk pada bagaimana mereka berpenampilan. Namun, apakah definisi “skena” sendiri memang sesederhana itu?

Sebenarnya, tidak ada sumber valid yang bisa menjelaskan kapan kata “skena” mulai muncul di anak muda Indonesia. Namun, di banyak tulisan soal musik, bisa dilihat bahwa pada dekade 1990-an dan 2000-an kata “skena” sudah sering digunakan.

“Skena” biasa dipakai ketika seseorang menulis tentang musik independen. Namun, musik independen sendiri tidak bisa digeneralisir karena ada banyak genre—serta subgenre—yang bisa dikategorikan sebagai “musik independen”. Ada punk, metal, hardcore, hip-hop, bahkan blues dan jazz.

Dalam perbincangan dengan Eddi Brokoli di DCDC D’Podcast, pentolan The Upstairs Jimi Multhazam menyebut bahwa skena itu sebenarnya komunitas. Ketika ada sekelompok orang dengan minat yang sama ngumpul bareng jadi tongkrongan, jadilah skena.

Sementara itu, tambah Jimi, “Di [bahasa] Inggris, tongkrongan namanya scene. Biar enak di Indonesia, jadi skena. Walau enggak ada di KBBI, bahasa, ya, sikat-sikat aja.”

Ada Pergeseran Makna

Akan tetapi, berkaca pada perbincangan tentang skena yang ramai di media sosial tadi, terasa sekali bahwa telah terjadi pergeseran makna. Kata Jimi, “Skena sekarang diobok-obok oleh media mainstream yang enggak ngerti. Anak skena makenya Docmart, tatonya kecil-kecil, tasnya tote bag.”

Baca juga:

Padahal, sambung Jimi, orang pakai tote bag karena untuk menyimpan barang dan apabila ada yang memasang tato kecil itu hanya karena pertimbangan estetika.

Senada dengan ucapan Jimi, penulis buku Aubade: Kumpulan Tulisan Musik (2021), Aris Setyawan, mengungkapkan bahwa “skena” merupakan hasil modifikasi dari bahasa Inggris yakni scene

Menurut Aris, “Scene sendiri artinya sekelompok orang yang memiliki minat atau ketertarikan yang sama tentang suatu isu tertentu, lalu kerap berkumpul dan mengobrol membincangkan isu tersebut, bahkan membuat acara/event terkait isu tersebut.”

“Skena ini bisa macam-macam, bisa skena film, skena fesyen, termasuk skena musik. Jadilah adanya skena punk, skena hardcore, skena indie pop, skena metal, dll,” tambah Aris saat dihubungi lewat WhatsApp.

Artinya, secara sederhana “skena” bisa diartikan sebagai tempat nongkrong. Kemudian meluas menjadi komunitas, skena musik, skena fesyen, skena sastra, dan skena lainnya. 

Di mana pun tongkronganmu, di situlah skenamu. Soal gaya berpakaian, sebetulnya di tiap skena bakal ada ciri khasnya sendiri-sendiri. Tapi, mengutip lirik lagu “What Happened?” dari band hardcore H2O, kebanyakan skena sebetulnya tidak peduli soal pakaian apa yang kamu kenakan.

“For those who don’t know, it didn’t matter how you looked or what you wore to a show. Dress codes, fuck no! We didn’t care about the brand of your jeans and all that shit in your hair,” seru Toby Morse dalam verse pertama lagu tersebut.

Jadi, kalau ada skena yang seperti mewajibkan “anggotanya” untuk mengenakan pakaian tertentu, harap berhati-hati, karena bisa jadi itu bukan skena, melainkan ormas atau sekte sesat.

Skena dan Blantika

Kesimpangsiuran arti skena ini memunculkan beberapa definisi, salah satunya bahwa skena berasal akronim dari “Sua, cengKErama, dan berkelaNA”. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V), “Sua” memiliki arti berjumpa atau bertemu, “cengkerama” bermakna percakapan untuk menggembirakan hati, sementara “berkelana” adalah mengadakan perjalanan ke mana-mana tanpa tujuan tertentu. 

Betul, ada makna “berjumpa” di situ seperti arti dari scene, ‘sebuah tempat’. Namun, definisi ini agak lain daripada yang lain. Kalau menurut Aris, akronim itu mengada-ada. 

“Karena aslinya skena diambil dari bahasa Inggris scene. Sebenarnya ada yang memberi alternatif untuk menggunakan ‘kancah’ sebagai kata ganti skena. Namun kata ‘skena’ kadung sudah populer makanya itu yang tetap digunakan,” kata Aris.

Agar lebih meyakinkan, kami tanya juga kepada penulis musik dan redaktur pelaksana Tirto.id, Nuran Wibisono. Menurut Nuran, skena itu merujuk pada subkultur di awal tahun 90-an hingga 2000-an. 

“Kata scene/skena banyak dipakai untuk menggambarkan musik independen. Bawah tanah. Di Indonesia, kan lumayan kenceng tuh jurang antara mayor dan indie pada zamannya. Orang-orang biasa menyebut blantika musik kalau merujuk ke musik-musik major/industri besar,” jelas Nuran.

“Kalau skena, merujuk ke musik-musik yang saat itu ‘tidak diterima’ oleh pasar,” tambah penulis buku Nice Boys Don’t Write Rock n Roll (2017) ini. 

Dalam esai bahasanya di Majalah Tempo, Tendy K. Somantri menulis bahwa kata “blantika” berasal dari bahasa Sunda, yakni “balantik”, yang memiliki arti “rajin usaha” atau “berniaga”. Kata tersebut dimodifikasi oleh jurnalis senior Aktuil bernama Sonny Suriatmadja.

“Blantika dibuat sebagai padanan kata asing showbiz (show business) atau bisnis pertunjukan. Jadi, sebenarnya “blantika musik Indonesia” berarti bisnis (pertunjukan) musik Indonesia, bukan dunia atau jagat seperti yang tertera di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai istilah musik,” tulis Tendy.

Polisi Skena

Kata “skena” sudah bikin keributan di media sosial dan tidak lengkaplah sebuah keributan tanpa kehadiran polisi.

Ya, di antara riuhnya perbincangan tentang skena itu, muncullah (beberapa) karakter baru yang diberi nama “polisi skena”. Apakah polisi skena ini tugasnya merazia anak skena yang sedang nongkrong? Ternyata tidak. 

Polisi skena ini lebih banyak mengatur cara berpakaian orang, seperti yang sudah disebutkan di pembuka tulisan ini, dan mengintervensi preferensi musik seseorang. 

Misalnya, di media sosial beredar kalau memakai kaos band harus hafal minimal tiga lagu dari band tersebut. Apabila orang tersebut tidak tahu sama sekali lagu dari band tersebut, dia akan disebut sebagai poser

Hal itu direspons oleh Sir Dandy dengan sebuah lagu berjudul “Polisi Skena”. 

Dalam liriknya, Dandy menyebut, “Selera tiap orang tak akan pernah sama. Biarkan begitu, jangan dipaksa-paksa. Pribadi berpendapat, kok, malah jadi debat? Akibat merasa hebat, berujung saling hujat.”

Kemudian di bagian lain, Dandy merapal, “Tiap orang punya cara menikmati musik. Beda-beda tak mengapa malah jadi unik.”

Lirik lagu di atas menjadi tamparan keras kepada orang-orang yang banyak mengatur selera musik seseorang. Dan semestinya, dengan banyaknya festival musik tiap tahun, mengejek selera musik sudah tidak relevan lagi. 

@indflux.mfg

@Bayem Sore☘️ jadi Polisi Skena ada di @The Sounds Project , kita tanyain beli bajunya dimana ? Sama tau gak jenis sablonnya !? #sablon #indfluxsablon #sablondepok

♬ original sound – indflux.mfg – indflux.mfg

Indie vs Mayor Tak Lagi Relevan

Kalau kamu hidup di era 90-an dan 2000-an awal, bisa jadi hal itu masih diwajarkan. Sebab, ketika itu disparitasnya jauh. Musik underground berada di kutub selatan, sementara musik populer berada di kutub utara. 

Akan tetapi, kalau melihat perkembangan musik Tanah Air kontemporer, jarak antara musik skena dan blantika, atau antara indie dan mayor, sudah tidak lagi tampak. 

Eksposur yang didapat band atau musisi indie dengan mayor pada dasarnya sudah hampir sama. Internet membuat informasi jadi lebih terdesentralisasi. Semua informasi bisa diakses oleh siapa pun, begitu juga dengan karya.

Jika dulu kamu akan kesulitan mencari kaset atau CD band-band independen, kini kamu bisa mendengarkan lagu-lagu mereka melalui platform streaming. Dan di platform itu, semua tersedia. Kamu tidak akan lagi dicekoki “musik pasar” seperti era majalah dan televisi. Sekarang, power pendengar lebih besar karena desentralisasi itu tadi.

Konsekuensinya, tembok antara indie dan mayor pun runtuh. Dan dalam festival-festival yang ada, musisi atau band dari label apa pun biasanya akan berbagi panggung. Festival-festival itu juga menjadi titik temu (melting pot) antara skena dan blantika.

Lantas, apakah kemudian skena sendiri sudah tidak ada artinya? Justru sebaliknya. Di masa desentralisasi akses seperti sekarang, skena-skena baru bakal bertumbuhan karena semakin banyak pula ceruk (niche) yang tercipta.

Yang kemudian bakal menjadi tidak relevan adalah stereotipe soal “penampilan anak skena”. Sebab, kalau sudah begini, apa lagi yang mau diperdebatkan?

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
ufabet911

naturally like your web site however you need to take a look at the spelling on several of your posts. A number of them are rife with spelling problems and I find it very bothersome to tell the truth on the other hand I will surely come again again.

บาคาร่า

naturally like your web site however you need to take a look at the spelling on several of your posts. A number of them are rife with spelling problems and I find it very bothersome to tell the truth on the other hand I will surely come again again.

ufabet911

I do not even understand how I ended up here, but I assumed this publish used to be great