Siasat Kota-kota Dunia Hadapi Panas yang di Luar Nurul

by | Oct 25, 2023

Arsitektur | Iklim | Krisis Iklim

FOMOMEDIA – Semua wilayah di dunia merasakan pendidihan global yang membuat panas semakin tak terkontrol. Tak pelak, siasat mesti disiapkan.

Cuaca panas jadi masalah akut kota-kota padat penduduk di dunia ini. Cuaca panas terkonsentrasi di daerah dengan banyak bangunan beton yang menyerap panas, permukaan aspal, dan kelangkaaan ruang hijau.

Dengan kondisi semacam itu, perkotaan dapat menghasilkan iklim mikro di mana suhu kota terasa 10°C lebih panas dari daerah di sekitarnya. Sialnya, banyak kota terbukti tidak siap menghadapi kenaikan suhu ekstrem ini.

Tentu, bukan berarti tak ada kota yang sudah bersiap-siap. Berikut adalah sejumlah siasat dari kota-kota di dunia yang telah bersiap mempertahankan diri gari terpaan dari cuaca panas.

Memperbanyak Pohon

Pohon adalah pertahanan paling efektif untuk menghadapi panas perkotaan. Kehadiran pohon memperlancar proses evapotranspirasi, di mana air berpindah dari tanaman dan tanah ke atmosfer. Proses ini membuat sekeliling pohon menjadi lebih dingin hingga 5°C.

Semakin banyak pohon, berarti juga semakin banyak tempat teduh. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS, perbedaan suhu antara berteduh di bawah pohon dengan terbakar matahari langsung mencapai 11-25°C

Barcelona merupakan salah satu kota yang paling masif memperbanyak pohon.
Kota itu jadi semacam laboratorium untuk intervensi perkotaan progresif. Kota itu menargetkan, pada 2037 nanti, setidaknya 30% lahan kota akan terselimuti dengan berbagai spesies tumbuhan yang tahan iklim.

Saat ini, pohon holm, pinus aleppo, pohon cemara, dan berbagai spesies lain sudah meramaikan jalan-jalan kota. Sejumlah jalan raya juga telah dan tengah direklamasi agar menjadi plaza publik yang dipenuhi pohon-pohon.

Dalam waktu dekat, Barcelona akan dapat menawarkan studi kasus penting akan kemanjuran pohon dalam meningkatkan kulitas hidup di perkotaan.

Membentangkan Tenda di Atas Bangunan

Jika menanam pohon di kota membutuhkan usaha besar, karena waktunya lama dan biayanya besar, sementara cuaca panas butuh solusi mendesak, tenda adalah jawaban cepat.

Tenda adalah kanopi sederhana dan murah. Di kota, tenda kurang populer di kota karena kegemaran arsitektur kontemporer pada fasad yang ramping. Kini, panasnya cuaca tak lagi membuat estetika jadi prioritas.

Kota Sevilla di Spanyol baru-baru ini membentangkan kanvas besar di antara bangunan-bangunan untuk membuat jalan-jalan di bawahnya lebih teduh. Tenda-tenda tenda banyak dipasang di stasiun transit, taman bermain, sekolah, dan rumah sakit.

Di Israel, seorang perancang produk bernama Anai Green mengembangkan praktik ini dengan teknologi canggih. Di ibu kota Tel Aviv, kanopi yang dibentangkan adalah LumiWeave, yakni kain yang tertanam sel surya.

Sepanjang siang, kain tersebut akan menyimpan energi matahari. Energi itu bisa dipakai untuk menyalakan lampu LED yang juga tertenun pada kain. Jadi, kanopi tersebut turut menerangi kota pada malam hari.

Menyemprotkan Kabut Buatan

Sejumlah kota mengupayakan manipulasi cuaca skala kecil. Di Wina, ibu kota Austria, sebanyak 22 area didetetapkan sebagai cool straßen, ‘jalanan dingin’. Jalan-jalan tersebut dilengkapi dengan air mancur minum, pancuran kabut, dan sistem penyemprotan pintar yang aktif secara otomatis ketika suhu naik di atas 35 derajat Celcius.

Di kota-kota terpanas Cina, termasuk Wuhan dan Chongqing, semprotan kabut juga dapat ditemukan di ruang publik seperti mal, taman, dan halte bus.

Terkadang, kabut juga disemprotkan oleh armada penyemprot kabut, yakni truk-truk yang dilengkapi penyemprot air bertekanan tinggi. Armada truk ini telah mengelilingi kota-kota besar di Cina sejak 2014.

Pada mulanya, semprotan kabut ini diperkenalkan untuk mengatasi polusi udara. Namun studi dari Seoul National University menunjukkan bahwa penyemprotan partikel air halus dapat menurunkan suhu sekitar hingga 7%, terutama jika penyemprotannya dilakukan dengan posisi dan sudut yang optimal.

Mengecat Putih Atap dan Trotoar

Penduduk di pulau-pulau Yunani mengurangi cuaca panas dengan mengecat atap rumah dan bangunannya menjadi putih. Menurut teori efek albedo, atap berwarna putih bersih memantul 85% sinar matahari langsung, jauh lebih banyak dibandingkan atap gelap yang hanya memantulkan sekira 20%.

DI Los Angeles, Biro Layanan Jalan Kota bahkan mewarnai jalan-jalan di lapisan putih-abu-abu reflektif yang disebut CoolSeal. Siasat ini, sayangnya, bukan solusi yang lebih mujarab dari mewarnai atap

Studi dalam jurnal Environmental Research Letters tahun 2020 menunjukkan dampak negatif dari dipantulkannya sinar matahari secara berlebih. Sementara, jalan dan trotoar reflektif menghasilkan suhu permukaan yang lebih dingin. Manusia mungkin malah merasa lebih kepanasan karena terkena pantulan panas.

Kembali ke Bahan Lokal dan Teknik Bangunan Tradisional

Arsitektur modern dari Barat kurang praktis untuk menghadapi suhu ekstrem. Banyak arsitek kembali merangkul prinsip arsitektur lokal yang efisiensinya di daerah beriklim panas sudah terbukti ribuan tahun. Misalnya, ventilasi alami, teknik konstruksi tradisional, dan bahan-bahan seperti isolasi batu bata lumpur.

Auroville Earth Institute di Tamil Nadu, negara bagian India, telah menjadi lokus gerakan arsitektur “vernakular”. Selama hampir empat dekade, pusat penelitian ini telah berkolaborasi dengan arsitek dan kontraktor di seluruh dunia.

Institusi ini menyebarkan gerakan pembangunan yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya, meneliti dan mengampanyekan penggunaan lumpur dan tanah kompresi sebagai bahan bangunan. Dibandingkan dengan beton, kaca dan baja, batu bata tanah tradisional menyerap lebih banyak panas dan kelembaban.

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments