Siapa Capres Paling Kalcer di Indonesia Saat Ini?

by | Nov 2, 2023

Budaya | Ganjar Pranowo | Pilpres 2024 | Politik

FOMOMEDIA – Tap in ke produk budaya populer jadi jalan yang banyak ditempuh politisi kiwari. Lantas, capres mana di Indonesia ini yang paling kalcer?

Belum lama ini, seorang calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Vivek Ramaswamy, harus berurusan secara hukum dengan rapper legendaris Eminem. Pasalnya, Eminem tak sudi lagu populernya, “Lose Yourself”, digunakan untuk kampanye oleh sosok keturunan India tersebut.

Ramaswamy bukan politisi pertama yang berada dalam situasi tak mengenakkan tersebut. Daftar musisi yang menolak lagunya digunakan oleh Donald Trump malah lebih panjang lagi, sampai-sampai ada laman Wikipedia khusus tentangnya. Dari Neil Young sampai Rihanna, dari Queen sampai The Beatles, semua menolak penggunaan lagu mereka dalam kampanye Trump.

Harus diakui, pemilihan umum (pemilu) memang tak ubahnya konten popularitas. Artinya, yang dicari dari seorang calon pemimpin bukan cuma soal visi dan misi atau rekam jejak, tetapi juga soal bagaimana mereka mampu membuat publik jatuh hati.

Menggunakan produk budaya populer bisa menjadi cara yang amat efektif bagi seorang calon pemimpin untuk merebut hati para pemilih. Dengan ini, seorang calon pemimpin bisa tampak lebih relatable dan dekat dengan orang-orang yang akan dipimpinnya nanti. Konsekuensinya, dia pun bakal lebih dipercaya.

Ganjar Pranowo Capres Paling Kalcer

Di Indonesia, jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, sosok Ganjar Pranowo tampak lebih unggul dibanding rival-rivalnya dalam urusan pemanfaatan produk budaya populer. Baik saat masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah maupun ketika sudah purnatugas, Ganjar konsisten melakukan hal itu.

Saat berbicara di IdeaFest 2023, misalnya, Ganjar bahkan menyebut-nyebut nama Putri Ariani, NIKI, dan Rich Brian.

“Saya nanya sama anak-anak Putri Ariani lagi populer, Rich Brian lagi top banget, NIKI lagunya apa ‘High School in Jakarta’, luar biasa dia populer, saya pikir kenapa ya anak-anak ini tidak kita kasih paspor biru untuk menjadi diplomat seni kita di luar negeri,” kata Ganjar kala itu, dikutip dari Detik

Sepintas, tidak ada yang spesial dengan name dropping seperti itu. Akan tetapi, jika ditelaah lebih jauh, hal itu menunjukkan betapa Ganjar memahami apa yang sedang disenangi anak muda zaman sekarang. Kedekatan dengan anak muda itu menjadi penting karena, pada Pilpres 2024 mendatang, jumlah pemilih terbesar berasal dari kalangan milenial dan generasi z.

Terobsesi Korea atau Tap In Pasar K-Popers?

Penggunaan budaya populer oleh Ganjar tidak stop sampai di situ. Tahun lalu, usai melakukan pertemuan dengan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Park Tae- sung, Ganjar menulis seperti ini di Twitter, “Banyak banget warga Jateng penggemar K-Pop. Kalau misalnya ada kesempatan ngundang artis K-Pop, menurutmu siapa yg harus diundang? Blackpink, BTS, Suju atau Twice? 🤔.”

Ditambah lagi, Ganjar pernah menyebutkan makanan pendamping khas Korea yaitu kimchi dalam sebuah acara resmi. Serta beberapa kali mencoba melafalkan kata-kata dalam bahasa Korea di pidato resminya.

Bahkan Ganjar pernah mengenakan baju kaus, bucket hat, dan celana pendek berwarna cerah, demi menjadi Oppa Korea saat berkunjung ke rest area yang tak disebutkan namanya. Tak lupa menggunakan sandal jepit supaya penampilannya makin paripurna layaknya idol yang sedang jalan-jalan. Makin sah citra Ganjar sebagai capres paling kalcer.

Bisa jadi Ganjar sendiri memang tidak punya keinginan untuk mengundang artis-artis K-Pop tersebut. Akan tetapi, lagi-lagi, name dropping yang dilakukannya itu menunjukkan bahwa dia sangat tune in dengan selera anak muda yang akan jadi calon pemilihnya di Pilpres 2024. 

Dari Lokal sampai Internasional

Tak cuma artis internasional, artis-artis idola kaum muda Jawa, khususnya, seperti NDX AKA dan Ndarboy, juga digandeng oleh Ganjar. Bahkan, keduanya sama-sama sudah menciptakan lagu dukungan untuk Ganjar. Dari NDX AKA ada lagu “Rambut Putih”, sementara Ndarboy punya “Suara Rakyat” atau “Surat”.

Kemudian, saat Deep Purple menggelar konser di Solo beberapa waktu lalu, Ganjar juga ikut menonton dengan mengenakan kaus band. Video yang menunjukkan Ganjar mampu menyanyikan lirik lagu Deep Purple dengan benar pun beredar luas.

Deep Purple sendiri sebetulnya merupakan band gaek yang kerap diasosiasikan dengan orang tua. Namun, band rock asal Inggris itu pun memiliki banyak penggemar anak muda. Dengan menghadiri konser Deep Purple dan mengenakan kaus band, Ganjar semakin terlihat seperti seseorang yang berjiwa muda.

Ganjar Pranowo (kanan) menonton konser Deep Purple bersama istrinya, Siti Atikoh (tengah), dan anaknya, Zinedine Alam Ganjar (kiri). Foto: Kebumen Ekspres

Jiwa muda seorang Ganjar juga terlihat ketika dia menghadiri festival musik Pestapora yang menghadirkan Sheila on 7 sebagai headliners. Sehari setelah acara, Ganjar yang datang bersama sang istri Siti Atikoh dan sang anak Alam Ganjar mengunggah foto mereka di venue. “… semalam bersama Bunda dan Alam seru-seruan nonton Sheila on 7 di Pestapora …,” tulis Ganjar di postingan tersebut. Makin kalcerlah terlihat capres yang satu ini.

Bak gayung bersambut, “kekalceran” Ganjar ini mendapat sambutan hangat dari sejumlah pelaku industri. Once Mekel, eks vokalis Dewa yang juga calon anggota legislatif PDIP, misalnya, bisa dibilang sudah menjadi salah satu juru kampanye Ganjar di berbagai kesempatan.

Anies dan Prabowo Belum Optimal

Lalu, bagaimana dengan capres-capres yang lainnya?

Well, bisa dibilang, baik Anies Baswedan maupun Prabowo Subianto belum menunjukkan kedekatan mereka dengan budaya populer seperti Ganjar. Sejauh ini, Anies baru sekali menggunakan budaya populer untuk menaikkan citra, yaitu ketika dia memamerkan foto dirinya tengah menyaksikan anime One Piece. Anies juga melibatkan atribut One Piece dalam prosesi pendaftarannya ke KPU bersama Muhaimin Iskandar.

Sementara, Prabowo tidak pernah sama sekali. Meski demikian, Prabowo punya cara tersendiri dalam menggaet pemilih-pemilih muda. Sejak era 9Gag masih populer, sudah menjadi kesepakatan umum bahwa kucing adalah hewan favorit para pengguna internet. Inilah yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh eks Danjen Kopassus tersebut sehingga dia jadi sangat populer di kalangan generasi z.

BACA JUGA:

Penggunaan budaya populer sendiri bisa jadi menentukan hasil akhir, bisa jadi tidak. Akan tetapi, setidaknya, hal ini bakal membuat seorang calon pemimpin jadi bahan perbincangan orang banyak. Dan sejauh ini, memang cuma Ganjar yang secara konsisten memanfaatkan budaya populer untuk mendongkrak citra.

Sedari awal, Ganjar memang telah menunjukkan citra sebagai capres yang supel, merakyat, dan tentunya kalcer. Barangkali, faktor inilah yang membuatnya jadi lebih mudah ketika dia harus memanfaatkan budaya populer demi mendongkrak popularitas.

Sementara itu, citra Anies sebagai akademisi dan citra Prabowo sebagai negarawan sedikit banyak membuat mereka kesulitan untuk memanfaatkan budaya populer secara masif dan kontinyu. Namun, sekali lagi, bukan berarti mereka tidak memiliki cara untuk menggaet pemilih muda. Semua punya pasarnya masing-masing.

Ganjar Unggul di Survei

Sejauh ini, upaya Ganjar dalam memanfaatkan produk budaya populer itu bisa dibilang berhasil. Menurut survei Litbang Kompas, Ganjar adalah presiden pilihan anak muda usia 24-40 tahun dengan suara mencapai 41,5%. Sedangkan, untuk pemilih pemula, Ganjar mampu mengumpulkan suara 27,3%.

Akan tetapi, hasil survei seperti itu tentunya tidak menjamin apa-apa. Keberhasilan Ganjar, Anies, dan Prabowo sebagai bakal calon presiden baru akan ditentukan tahun depan. Let’s wait and see.

Penulis: Yoga

Editor: Elin

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments