Seru! Isu Poros Keempat Muncul, Bakal Ada Capres Baru?

by | Jul 4, 2023

Airlangga Hartarto | Anies Baswedan | Ganjar Pranowo | Pemilu | Pemilu 2024 | Pilpres 2024 | Politik | Poros Keempat | Prabowo Subianto

FOMOMEDIA – Poros keempat bisa saja dibentuk oleh Golkar dan PAN. Koalisi lawas mereka pun bakal dibubarkan lantaran PPP sudah merapat ke PDI Perjuangan.

Makin dekat dengan Pemilu 2024, politik Indonesia makin bergairah. Jika sebelumnya hanya ada tiga bakal calon presiden yang mendominasi pemberitaan, kini ada kemungkinan calon keempat ikut maju.

Dua dari tiga bakal calon yang mendominasi pemberitaan itu sudah resmi diusung jadi capres oleh masing-masing koalisi. Ganjar Pranowo diusung oleh PDI-Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kemudian, Anies Baswedan diusung oleh NasDem, Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (Koalisi Perubahan).

Sementara itu, satu nama lainnya, Prabowo Subianto, sampai sekarang belum diusung secara resmi oleh Gerindra, tetapi pemberitaan tentang dirinya mencalonkan diri jadi presiden sudah santer sekali terdengar.

Dari konstelasi tersebut, ada beberapa partai besar yang belum mendeklarasikan dukungan untuk siapa pun dan, dari sana, muncullah wacana koalisi poros keempat tersebut.

Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip detik.com, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengungkapkan terdapat wacana poros keempat yang ia sebut sebagai ‘dji sam soe’. Airlangga mengaku sudah menjalin komunikasi dengan semua partai politik, termasuk PDI-P, PAN, hingga PKB.

Selain isu poros baru, muncul pula wacana meleburkan dua koalisi. Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang beranggotakan Gerindra-PKB akan dileburkan dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Partai Golkar, PAN, dan PPP.

Namun, dalam skema peleburan tersebut, PPP akan dikesampingkan alias tidak diikutkan lantaran sudah menjalin hubungan dengan PDI-P.

Lebih Baik Bikin Poros Sendiri

Isu munculnya poros keempat ini ditanggapi oleh Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini. Menurutnya, poros keempat tersebut datangnya dari partai-partai kuat yang ada di Indonesia seperti Golkar dan PAN.

Didik mengatakan, partai-partai besar tersebut, daripada mengekor dengan partai yang sudah mengusung calon presidennya sendiri, mereka bisa menciptakan poros tersendiri lantaran memiliki rekam jejak yang kuat dalam pemerintahan maupun di parlemen.

Didik juga menambahkan, peta politik yang berkembang dewasa ini semakin terlihat runcing dengan adanya potensi bubarnya KIB. Alhasil, hal tersebut bisa diatasi dengan memperkuat posisi masing-masing dengan elektabilitas yang dimiliki.

“Momentum transisi ini sangat berpeluang besar bagi Golkar dan PAN untuk membuat membuat poros ke-4 demi memperkuat ketahanan partai,” kata Didik, dikutip dari CNBC Indonesia.

“Ini merupakan peluang untuk berkiprah mengusung pasangan sendiri sehingga bisa membuat peta politik baru menjadi 4 pasangan dan koalisi baru Golkar-PAN cukup untuk mengusungnya,” ujar Didik.

Menurut Didik, jika Golkar Mengusung Airlangga Hartarto sebagai capres, dinamika di partai tersebut akan lebih hidup daripada mengusung kader dari partai lain. 

“Apalagi jika Golkar berhitung matematis, votes secara strategis mengusung kader barunya, Ridwan Kamil, sebagai calon presiden, maka suara Jawa Barat akan disapu bersih. Golkar akan mendapat manfaat besar dalam demokrasi terbuka ini,” kata Didik.

Didik juga mengingatkan, koalisi yang lebih tersebar bisa menghindari dominasi kekuasaan yang otoriter seperti saat ini. Demokrasi bisa terancam jika koalisi 82 persen berada di parlemen.

“Golkar dan PAN tidak akan kehilangan kesempatan berkiprah pada putaran kedua ini. Jadi, inisiatif poros keempat bisa dikatakan rasional dilihat dari kepentingan partai-partai yang terus bersaing satu sama lain,” pungkas Didik. 

Elektabilitas Tiga Bacapres Masih Cair

Menurut hasil survei bulanan Populi Center pada Juni 2023 yang dikutip dari Kompas, bahwa elektabilitas ketiga bacapres Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto masih cair. Dari ketiga bacapres tersebut belum ada salah satu figur yang sangat menonjol dibandingkan dengan yang lain. 

Survei yang diadakan pada 5-12 Juni 2023 tersebut meminta pendapat 1.200 responden yang dipilih dengan metode acak bertingkat. Dari survei tersebut memiliki tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dengan margin of error lebih kurang 2,83 persen.

Dari hasil survei tersebut terdapat 32,8 persen responden yang memilih tidak menjawab siapa pilihannya. Sementara, untuk ketiga bacapres tersebut masing hanya mendapatkan persentase mulai dari 21,9 persen, 19,3 persen, dan 14,4 persen.

Menurut Syaiful Huda selaku Ketua Komisi X dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, hasil tersebut telah mengonfirmasi bahwa peta politik menuju Pilpres 2024 masih dinamis. Para kandidat capres elektabilitasnya belum ada yang mencapai 40 persen, artinya publik masih mempertimbangkan banyak hal sebelum memilih ketiga bacapres tersebut.

”Kita berharap calon presiden lebih dari dua. Itu berarti pilpres lebih dari satu putaran,” kata Huda, dikutip dari Kompas.

Lalu, melihat data elektabilitas dari ketiga bacapres tersebut, apakah poros keempat akan benar-benar terbangun? Mari kita tunggu saja!

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments