Semangka Jadi Simbol Perlawanan Palestina

by | Nov 2, 2023

Israel | Palestina | Perang | Politik | Semangka

FOMOMEDIA – Di Israel dan sejumlah negara lain, orang-orang mendukung perlawanan Palestina dengan memakai simbol buah semangka.

Sejak perang Hamas-Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, di media sosial bermunculan banyak unggahan yang mengandung unsur semangka: dari foto memegang semangka, lukisan semangka, hingga emoji semangka.

Buah merah berkulit hijau itu rupanya telah sejak lama dipakai diam-diam sebagai simbol perlawanan Palestina terhadap kolonialisme Israel.

Hari ini, semangka banyak dipakai oleh warga Israel yang mendukung Palestina. Sebab, pemerintah Israel telah melarang warganya menampilkan bendera Palestina.

Dilarang? Cari Cara Lain!

Sejak Januari 2023, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir telah memberi polisi wewenang untuk menyita bendera-bendera Palestina yang dimiliki warga Israel. Menyusul kebijakan itu, pada Juni muncul RUU yang melarang lembaga-lembaga yang didanai negara, termasuk universitas, untuk menampilkan bendera palestina.

RUU itu tak jadi disahkan karena parlemennya bubar duluan. Namun, pada Juni yang sama, orang-orang sudah merespons larangan itu dengan kampanye protes yang kreatif.

Zazim, sebuah organanisasi komunitas Arab-Israel, memprotes penyitaan bendera dan penangkapan para pendukung Palestina lewat kampanye yang unik. Mereka menempelkan gambar semangka di 16 taksi yang beroperasi di Tel Aviv, ibu kota Israel. Di bawah gambar semangka, tertulis “Ini Bukan Bendera Palestina”.

Amal Saad, orang berkebangsaan Palestina dari Haifa yang terlibat dalam kampanye Zazim, memberi tahu Al Jazeera, bahwa gambar semangka itu membawa pesan yang jelas, “Jika kalian ingin menghentikan kami, kami akan menemukan cara lain untuk mengekspresikan diri kami.”

Pada 23 Juli 2023, saat para pendukung Palestina berdemo di Yerusalem, Israel, unsur semangka mudah sekali ditemukan pada papan dan spanduk yang mereka pegang.

Baca juga:

Tak hanya di Israel, semangka juga dipakai untuk berkampanye di negara-negara yang pemerintahnya melarang demonstrasi mendukung Palestina, seperti Inggris, Jerman, dan Perancis. Buah itu jadi siasat jitu karena tak akan bisa dipidana oleh polisi.

Selain itu, kampanye memakai emoji semangka juga terbilang efektif di media sosial karena tak akan terkena sensor algoritma.

Simbol Semangka Bukan Hal Baru

Memakai semangka sebagai simbol perlawanan Palestina bukanlah hal baru. Simbol ini pertama kali muncul setelah Perang Enam Hari pada 1967, ketika Israel menguasai Tepi Barat dan Gaza, dan menganeksasi Yerusalem Timur. Pada saat itu, pemerintah Israel juga menerapkan larangan serupa: mengibarkan bendera Palestina di Gaza dan Tepi Barat ditetapkan sebagai tindak pidana.

Penduduk Gaza dan Tepi Barat menyiasati larangan itu dengan semangka. Alasannya sederhana. Ketika dipotong terbuka, buah itu memperlihatkan warna bendera nasional Palestina: merah, hitam, putih, dan hijau.

Buah ini pun terbilang lekat dengan identitas mereka karena tumbuh subur di tanah Palestina, dari wilayah Jenin hingga Gaza. Bahkan salah satu makanan tradisional mereka, Fatet Ajer, memakai semangka sebagai bahan utamanya, di samping terong, paprika, dan tomat.

Pada 1993, terjadilah Kesepakatan Oslo, perjanjian formal pertama yang mencoba menyelesaikan konflik puluhan tahun antrara Israel dan Palestina. Berdasarkan perjanjian tersebut, dibentuklah Otoritas Nasional Palestina yang akan menjalankan pemerintahan mandiri secara terbatas di Gaza dan Tepi Barat.

Israel pun mencabut larangan bendera Palestina, sebagai bentuk saling pengakuan antara kedua negara. Pengibaran bendera Palestina di Gaza dan Tepi Barat diterima sebagai representasi Otoritas Nasional Palestina.

Laporan New York Times soal Kesepakatan Oslo mengamini peran penting semangka sebagai simbol selama pelarangan bendera. John Kifner, sang wartawan, menulis, “Di Jalur Gaza, di mana para pemuda pernah ditangkap karena membawa semangka irisan—karena menampilkan warna merah, hitam dan hijau Palestina—para tentara berdiri, bosan, saat prosesi berbaris dengan mengibarkan bendera yang pernah dilarang.”

Penulis: Ageng

Editor: Safar

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments