Sekilas tentang Wagner Group yang Memberontak pada Rusia

by | Jun 26, 2023

Internasional | Politik | Rusia | Ukraina | Yevgheny Prighozin

FOMOMEDIA – Dikenal dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yevgeny Prigozhin yang mendirikan Wagner Group justru berkhianat.

Keberadaan serdadu bayaran, menurut sejarawan militer Kolonel George H. Dodenhoff dalam bukunya The Congo: A Case Study of Mercenary Deployment (1969), sudah bisa dilacak sejak perang pertama di dunia ini pecah.

Akan tetapi, pasca-Perang Dunia II, ada fungsi spesifik yang dimiliki serdadu bayaran atau kontraktor militer swasta. Yakni, sebagai perpanjangan tangan negara agar mereka memiliki impunitas di mata hukum internasional.

Dengan kata lain, kontraktor militer swasta digunakan untuk melakukan hal-hal yang, secara legal formal, tak bisa dilakukan oleh tentara resmi sebuah negara. Seperti yang dilakukan Wagner Group untuk Rusia, misalnya. Sejak aneksasi Krimea pada 2014, kelompok ini selalu ada dalam setiap operasi militer Rusia.

Dari yang awalnya cuma beranggotakan 250 personel, menurut data terbaru, kekuatan Wagner Group telah mencapai lebih dari 50.000 pasukan. Para serdadu itu direkrut dari berbagai macam latar belakang oleh Yevgeny Prighozin, pendiri kelompok paramiliter ini.

Dari 2014 hingga 2023, Wagner Group sudah terlibat operasi militer di Ukraina, Suriah, Republik Afrika Tengah, Sudan, dan Mali.

Menurut catatan Emma Graham-Harrison di The Guardian, Wagner sangat berguna—selain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor—juga karena diisi orang-orang tak takut mati yang dikomandoi orang-orang yang tega mengorbankan mereka. Tak jarang, para serdadu yang bergabung dalam Wagner Group itu memiliki catatan kriminal.

Meski selama ini relasi Rusia-Wagner tampak mesra, akhir pekan lalu Wagner Group melakukan pemberontakan terhadap Moskow. Alasan yang dikemukakan waktu itu, Prigozhin ingin balas dendam terhadap militer Rusia yang membunuh pasukannya.

Prigozhin dan pasukannya bergerak menuju Moskow pada Jumat (23/6/2023) malam. Namun, tak sampai 24 jam kemudian, pemberontakan telah berakhir. Prigozhin mengumumkan bahwa pasukannya akan kembali ke pangkalan untuk menghindari pertumpahan darah.

Siapakah Yevgeny Prigozhin?

Di balik pendirian Wagner Group ada sosok Yevgheny Prigozhin. Pria kelahiran Saint Petersburg, 1 Juni 1961, tersebut dikenal sebagai seorang sahabat Putin.

Meski dikenal sebagai seorang yang dekat dengan Putin, ternyata Prigozhin adalah mantan narapidana. Prigozhin pernah masuk penjara ketika berusia 20 tahun. Ia ditangkap dan dihukum setelah terlibat dalam aksi perampokan dan kekerasan pada tahun 1980.

Selepas keluar dari penjara pada tahun 1990, Prigozhin memulai usaha bisnis kuliner dengan berjualan hotdog di sebuah pasar loak.

Lambat laun, usaha itu berkembang menjadi bisnis katering. Pada 2001, ia berhasil mendapatkan kontrak dengan pemerintah Rusia. Prigozhin pun sampai mendapatkan julukan “koki Putin”.

Menurut laporan The Guardian, Prigozhin telah menghabiskan lebih dari satu dekade dalam bisnis katering. Selama itu pula, Prigozhin telah melayani Pangeran Charles dan George Bush. Prigozhin pun terkenal sangat dekat dengan beberapa tokoh politik.

Pundi-pundi kekayaan Prigozhin semakin tebal. Apalagi, pada tahun 2012 dengan bisnisnya dipercaya untuk memasok makanan ke militer Rusia dengan nilai kontrak 1,2 miliar dolar. Di tahun tersebut, Prigozhin bisa memiliki jet pribadi dan kapal pesiar berukuran 115 kaki.

Dengan kekayaannya tersebut, Prigozhin pada tahun 2014 akhirnya mendirikan Wagner Group. Pada esensinya, Wagner Group tak berbeda dengan kontraktor militer swasta lain. Akan tetapi, perusahaan macam ini sebetulnya ilegal di Rusia. Maka dari itu, dalam operasi militer yang sudah-sudah, serdadu Wagner selalu didaftarkan sebagai bagian dari “detasemen sukarelawan”.

Tak cuma itu, Prigozhin pun memiliki pasukan yang beroperasi di dunia maya. Pasukan internet ini dikontrak untuk menggolkan kepentingan politik-politik tertentu, salah satunya untuk ikut campur dalam Pemilu Amerika Serikat tahun 2016 di mana Donald Trump keluar sebagai pemenang.

Mengapa Wagner Melakukan Kudeta?

Meski dikenal dekat dengan Putin, Prigozhin memiliki cukup banyak musuh, khususnya di militer Rusia. Tak jarang pula Prigozhin melontarkan kritik pedas kepada Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu.

Prigozhin bahkan menuduh Shoigu telah memerintahkan militer Rusia untuk menyerang kamp Wagner di Ukraina dengan roket. Serangan itu sendiri menewaskan banyak pasukan Wagner.

Sebelum melakukan long march ke Moskow, pasukan Wagner dikabarkan telah menembak jatuh tujuh helikopter Rusia yang menewaskan 20 tentara. Namun, seperti yang sudah disebutkan di atas, pasukan Wagner diminta balik kanan sebelum mencapai Moskow.

Ada peran Belarusia di balik perintah balik kanan dari Prigozhin tersebut. Di tengah kudeta, Presiden Belarusia, Aleksandr Lukashenko, diminta Putin untuk menjadi negosiator. Negosiasi pun berhasil dan Prigozhin diizinkan pindah ke Belarusia.

Prigozhin beserta pasukannya pun tidak akan menghadapi dakwaan Rusia. Bahkan, ada kemungkinan, sebagian pasukan Wagner akan diintegrasikan dalam militer Rusia. Meski begitu, status Wagner Group sendiri belum jelas apakah bakal dibubarkan atau tidak.

Namun, dengan adanya pemberontakan tersebut, pemerintah Rusia secara tegas membubarkan Wagner Group. Bagi para anggota pasukan Wagner yang tidak ikut pemberontakan, mereka bisa bergabung dengan militer Rusia.

Para mantan pasukan Wagner yang tidak terlibat dalam long march pada Jumat malam itu bisa menandatangani kontrak paling lambat 1 Juli 2023 di bawah kendali Shoigu.

Yang Bisa Dipelajari dari Pemberontakan Wagner

Pemberontakan Wagner bisa dilihat sebagai sebuah angin segar bagi Barat, khususnya, karena hal itu mengindikasikan ada perpecahan di antara orang-orang dekat Putin. Dengan kata lain, cengkeraman Putin tidaklah sekuat dulu.

Meski begitu, pemberontakan tadi juga bisa memunculkan dua skenario tak diinginkan. Pertama, pemberontakan tadi bisa menjadi alasan bagi Putin untuk kembali memperkuat genggamannya atas Rusia. Kebebasan sipil bisa jadi bakal semakin terkikis karena Kremlin dapat dengan mudah mengkooptasi Wagner sebagai alasan untuk membungkam kritik.

Skenario kedua, dengan perginya Prigozhin ke Belarusia, ada kemungkinan Wagner bakal dibangkitkan kembali di negara tersebut. Lukashenko pun bisa menggunakan tentara Wagner untuk akhirnya membantu Rusia di medan perang. Selama ini, meski dikenal sebagai boneka Putin, Lukashenko selalu menolak mengirimkan pasukan ke Ukraina.

Dengan demikian, serangan terhadap Ukraina pun bisa saja datang dari Belarusia dan ini bakal membuat fokus pertahanan mereka terpecah. Bagi Barat, ini bakal jadi problem tersendiri karena itu berarti makin banyak sumber daya yang mesti mereka kerahkan untuk menyelamatkan Ukraina.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] dan patuh pada negara. Dengan perintah itu, Putin secara langsung ingin mengendalikan kelompok yang sempat memberontak […]

[…] Prigozhin bersama tentara Wagner melakukan pemberontakan terhadap Vladimir Putin. Pemberontakan bersenjata yang dilakukan pada Juni 2023 lalu itu dipicu […]

[…] cukup mencengangkan datang dari Krasnodar, Rusia. Seorang perwira senior angkatan laut Rusia, sekaligus komandan kapal selam yang dituduh memimpin […]