Second Account: Akun Cadangan Yang Multifungsi

by | Jun 6, 2023

Budaya | Gen Z | Media Sosial

FOMOMEDIA – Tak sedikit pengguna media sosial yang memiliki second account. Bahkan, ada yang punya akun ketiga dan seterusnya. Memangnya akun-akun ini buat apa, sih?

Tidak jelas secara pasti kapan perilaku memiliki second account atau akun kedua mulai dilakukan netizen Indonesia. Akan tetapi, hal tersebut mulai jamak ditemukan sejak 2016. 

Seorang peneliti bernama Amelia Rugun Sirait merasa tergugah untuk meneliti perilaku memiliki second account tersebut ketika dirinya menemukan akun-akun ber-handle unik dan nyeleneh macam @bukancacinggendut, @penyesatann, dan @kapanyaolengkapten.

Dari situ, Amelia mulai melakukan penelitian yang hasilnya lantas diterbitkan dalam jurnal Antropologi Indonesia dengan judul Spectactorial Sisterhood: Relasi Sosial Pengguna Second Account di Instagram.

Dalam penelitian tersebut, Amelia bertanya, “Apa yang ingin disembunyikan para pemilik second account sehingga mereka sampai membuat akun kedua, ketiga, dan seterusnya?”

Untuk meneliti perilaku itu, Amelia pun membuat sebuah akun kedua. Di akun keduanya yang ber-username @cumandebu, Amelia mendapat beberapa teman sesama pengguna akun kedua yang selanjutnya menjadi responden untuk penelitiannya. Mereka rata-rata perempuan muda berusia 21-23 tahun. 

Ilustrasi media sosial. (Foto: Pixabay)

Amelia menganalisis perilaku netizen yang memiliki dua akun tersebut dengan dua konsep, yaitu spectatorial girlfriendship dan spectatorial sisterhood

Spectatorial girlfriendship merupakan konsep yang dicetuskan oleh Akane Kanai (2019) untuk memahami simbol-simbol konstruksi feminitas antarperempuan yang tergambar dari unggahan di media sosial.

Artinya, dalam spectatorial girlfriendship, perempuan menampilkan konten yang sempurna, ideal, dan cantik secara visual untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Misalnya, mereka harus terlihat sopan, cantik, dan (kalau bisa) kaya. 

Jika tidak memenuhi tuntutan-tuntutan tadi, seorang perempuan bakal dianggap memalukan dan nyeleneh. Karena itulah, pengguna media sosial harus mengurasi konten seketat mungkin, mana yang layak untuk ditampilkan dan tidak. Biasanya, citra “sempurna” seperti ini ditampilkan di first account alias akun utama. 

Sementara itu, spectatorial sisterhood atau relasi spektatorial persaudaraan perempuan memungkinkan para perempuan  membangun relasi yang dekat dan penuh kepercayaan atau bisa disebut juga dengan relasi intim. Relasi ini bebas dari norma yang mengharuskan mereka tampil sempurna.

Relasi spektatorial persaudaraan perempuan ini bersifat lebih privat dan inilah yang menjadi landasan dari kepemilikan second account. Maka dari itu, para pemilik second account pun lebih selektif dalam mengurasi spektator atau pengikut, serta lebih ekspresif. 

Ilustrasi pengguna Instagram. (Foto: Pixabay)

Menurut Amelia, “Ada tanggung jawab (kepercayaan) yang ditekankan dalam relasi spectatorial sisterhood, sebuah relasi yang lebih mengikat daripada spectatorial girlfriendship yang lepas begitu saja.”

Akun Kedua Buat Apa?

Tapi, bagaimana sebenarnya pendapat para pemilik second account tentang hasil penelitian Amelia? Untuk mencari jawabannya, FomoMedia mewawancarai dua orang perempuan yang memiliki akun kedua. 

“Aku curhat soal macet, capek kerja, asmara semua di second account. Hal-hal pribadi aku upload di second account, sementara first account cuma yang baik-baik saja. Soalnya, banyak followers-ku di first account yang gak aku kenal. Jadi, kalau curhat-curhat gitu, nanti mereka baca,” ujar AA (24) saat diwawancarai.

Alasan AA senada dengan IG (pegawai swasta, 34 tahun) yang memperlakukan dua akunnya secara berbeda. IG awalnya tidak terpikir untuk membuat second account karena, bagi dia, media sosial adalah wadah interaksi dengan teman dan koleganya. 

IG mulai membuat second account ketika akun pertamanya banyak diikuti akun yang tak ia kenal. Setiap ia mengunggah foto di Instagram, tak sedikit yang berkomentar. 

“Aku jadi lumayan kaget ketika posting hal-hal random dikomentarin heboh oleh followers yang gak aku kenal. Menurutku, aneh aja ada orang lain yang seintens itu komenin postinganku,” tulis IG ketika diwawancarai via WhatsApp. 

Ilustrasi Twitter. (Foto: Pixabay)

“Awalnya, aku bikin second account untuk melarikan diri dari akun real-ku dan doing nothing aja. Tapi lama-jadi jadi semacam gak baik juga, sih, karena aku jadi keasyikan scroll dan diam-diam ngamatin orang/temenku tanpa sepengetahuan mereka. Kayak ngintip gitu,” lanjutnya.

Namun, IG pada akhirnya menyadari bahwa menggunakan akun kedua tidak baik sebab lebih banyak mengintip orang ketimbang memakai  akun pertama. Menurut IG, “Kalau first account, ‘kan, aku selalu menahan diri untuk stalking atau cek story seseorang. Dan gak berlama-lama di media sosial.”

Pertimbangan Tersendiri

Para pemilik second account memiliki pertimbangan sendiri-sendiri untuk memiliki lebih dari satu akun media sosial.  Tapi, dari obrolan dengan dua pengguna second account di atas, ada dua benang merah yang bisa ditarik.

Pertama, akun kedua dibuat supaya si pemilik merasa lebih aman dan bebas. Mereka tidak mau ada orang asing berkomentar di unggahan mereka.

Kedua, setiap akun mempunyai karakter yang berbeda-beda. Jika akun pertama ditujukan untuk konsumsi publik dan memuaskan orang lain dengan standar yang ada di masyarakat, akun kedua dikhususkan untuk hal-hal yang amat personal.

Artinya, Amelia Rugun Sirait benar. Memang, second account ada untuk membatasi privasi di jagat maya dan menimbulkan rasa aman. Apalagi, kita semua tahu bahwa perundungan rentan terjadi di dunia maya. Jadi, sah-sah saja jika ada banyak netizen yang memiliki akun kedua. Selama akun kedua itu tidak digunakan untuk yang tidak-tidak, mengapa tidak?

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Selengkapnya di sini. […]