Salah Fokus ke AG, Bukti Indonesia Darurat Age of Consent

by | Apr 11, 2023

Kekerasan Seksual | Kriminal | Perlindungan Anak

FOMOMEDIA – Riwayat aktivitas seksual AG (15 tahun) jadi bahan olok-olok, tak cuma oleh netizen tetapi juga media massa. Indonesia darurat age of consent?

Di tengah ramainya pemberitaan soal vonis 3,5 tahun penjara untuk AG dalam kasus penganiayaan Mario Dandy terhadap David Ozora, ada potongan rekaman suara Hakim Sri Wahyuni Batubara yang jadi buah bibir pengguna Twitter. Dalam rekaman itu, Hakim Sri Wahyuni menyatakan bahwa AG (15 tahun) telah “melakukan persetubuhan” dengan Mario sebanyak 5 kali.

Potongan rekaman suara hakim itu diunggah oleh pengguna Twitter ber-handle @vegarant, Senin (10/4/2023), sebagai balasan (reply) terhadap cuitan pengguna Twitter lain, @mazzini_gsp. Sebelumnya, Mazzini mengunggah tautan berita soal vonis penjara 3,5 tahun terhadap AG disertai keterangan demikian: “Majelis Hakim Sri Wahyuni Batubara mengatakan AG terbukti melakukan tindak pidana turut serta melakukan penganiayaan berat dengan rencana terlebih dahulu”.

Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (11/4) siang WIB, rekaman suara hakim yang diunggah @vegarant itu sudah diputar sekitar 4,8 juta kali. Cuitan itu mendapat 2.432 retwit, 11.800 kali disukai, dan dikutip lebih dari 5.000 kali. Dari situ, bisa diasumsikan bahwa mereka yang menyukai dan meretwit sepakat dengan pernyataan @vegarant soal AG yang berbunyi, “Ngakunya trauma, padahal udah sering [melakukan].”

Lalu, jika kita menelusuri bagian Quote Retweet (retwit kutip) dari cuitan tersebut, kita bisa dengan mudah menemukan pihak-pihak yang menyetujui pernyataan @vegarant. Singkat kata, mereka yang sepakat dengan @vegarant itu menganggap bahwa AG bukan anak perempuan baik-baik karena sudah melakukan hubungan seks di usianya yang sekarang.

Media-media Indonesia pun tak mau kalah. Mereka berlomba-lomba menulis headline yang memojokkan AG melalui cara slut-shaming. Ada yang menggunakan kata “indehoy“, lalu ada pula yang menggunakan istilah “kasih jatah“. Bahkan, untuk sekadar menyamarkan nama AG yang masih di bawah umur pun media-media tersebut masih lalai.

Walau demikian, dari sekian banyak orang yang menghakimi dan mempermalukan AG secara virtual, ada segelintir yang masih mampu berpikir jernih. Mereka mempertanyakan, “Kok, bisa ada anak berusia 15 tahun (AG)berhubungan seks dengan pria dewasa berumur 20 tahun (Mario) tetapi tidak dianggap sebagai statutory rape?”

Aturan Tumpang Tindih

Di Indonesia sendiri ada undang-undang yang mengatur tentang statutory rape atau perkosaan terhadap anak di bawah umur, yaitu UU No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 76D. Dalam UU No. 23 tahun 2002 sendiri sudah dijelaskan bahwa “Anak” adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun. Dengan kata lain menurut UU tersebut, AG masih berstatus anak dan Mario adalah orang dewasa.

Walau begitu, dalam Pasal 287 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, disebutkan bahwa orang yang dilarang berhubungan seks adalah mereka yang berusia di bawah 15 tahun. Artinya, usia legal berhubungan seks di Indonesia sebenarnya tidak jelas. Dalam KUHP, AG dianggap sudah “boleh” berhubungan seks. Akan tetapi, apa yang dilakukan Mario terhadap AG jelas-jelas melanggar UU Perlindungan Anak.

Lalu, bagaimana dengan age of consent atau batas usia minimal seseorang dapat menyetujui untuk berpartisipasi dalam aktivitas seksual? Ternyata, aturan soal itu pun belum ada di Indonesia. Alhasil, semua peraturan soal hubungan seks dengan anak di bawah umur masih tumpang tindih. Sebagai konsekuensi, relasi (seksual) seorang dewasa dengan anak di bawah umur di Indonesia masih kerap dimaklumi.

Ketika YouTuber Jess No Limit berpacaran dengan Misellia Ikwan, misalnya, tidak ada kemarahan berarti yang muncul dari masyarakat ataupun media. Padahal, ketika mereka berpacaran, Jess No Limit berusia 22 tahun dan Misell berumur 14 tahun. Terlepas dari ada tidaknya hubungan seksual di antara mereka, Misell yang masih berumur 14 tahun itu tidak semestinya menjalin hubungan romantis dengan orang dewasa.

Kendati demikian, tidak semua pesohor mendapatkan free pass. Kris Hatta, misalnya, sempat mendapat cap “pedofil” saat memacari anak berusia 14 tahun. Syekh Puji pun dulu sempat mendapat hujatan ketika kabar dirinya menikahi anak berumur 12 tahun tersebar luas.

Dengan begitu, sebagian masyarakat Indonesia sebetulnya sudah paham soal age of consent maupun usia legal. Akan tetapi, sampai saat ini, belum adanya peraturan baku dari pemerintah yang tidak tumpang tindih membuat statutory rape, seperti yang dilakukan Mario Dandy terhadap AG, masih kerap dilakukan dan dibiarkan oleh orang Indonesia.

Penulis: Yoga

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Salah Fokus ke AG, Bukti Indonesia Darurat Age of Consent […]