Riset: Twitter Gagal Menindak 99% Akun Penebar Kebencian

by | Aug 1, 2023

Teknologi | Twitter | Ujaran Kebencian

FOMOMEDIA – Pengguna Twitter Blue memang punya keistimewaan. Saking istimewanya, mereka leluasa menyebar konten penuh kebencian.

Sebuah penelitian yang dilakukan Center for Countering Digital Hate (CCDH) menunjukkan bahwa Twitter gagal mengendalikan toksisitas pengguna Twitter Blue. Laporan yang diterbitkan awal Juni 2023 itu menyebut, ujaran kebencian di Twitter meningkat sejak kepemilikan pindah ke Elon Musk.

Dalam penelitian CCDH tersebut, para peneliti mengumpulkan tweet yang mempromosikan kebencian dari 100 pelanggan Twitter Blue. Mereka yang mempromosikan kebencian itu pun dilaporkan menggunakan fitur dari Twitter sendiri.

Dari hasil laporan tersebut, selama empat hari peneliti menemukan bahwa Twitter gagal menindaklanjuti 99 persen postingan dan 100 persen akun Twitter Blue itu tetap aktif. Platform yang baru saja ganti logo itu pun diduga gagal menindak tweet berisi konten rasis, homofobik, neo-Nazi, antisemit, dan konspirasi. 

Adanya penelitian tersebut setidaknya telah menjadi kekhawatiran tersendiri bahwa akun Twitter Blue bisa dengan mudah lolos mengunggah konten ujaran kebencian. 

Selain itu, pengguna Twitter Blue memang diberi hak istimewa. Mereka menjadi prioritas dalam percakapan dan pencarian di Twitter.

“Centang biru Twitter dulunya merupakan tanda otoritas dan keaslian, tetapi sekarang terkait erat dengan promosi kebencian dan konspirasi,” kata Imran Ahmed, Kepala Eksekutif CCDH, dikutip dari counterhate.com.

“Yang membuat pemilik centang biru percaya diri menyuarakan kebencian adalah karena Elon Musk sama sekali tidak peduli dengan hak asasi orang orang kulit hitam, Yahudi, Muslim, dan LGBT,” lanjutnya.

Twitter Lakukan Intimidasi?

Sejak laporan CCDH dirilis, Twitter diduga melakukan intimidasi terhadap lembaga anti ujaran kebencian itu. Twitter tidak terima dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh CCDH.

Menurut laporan The Guardian, Alex Spiro, salah satu pengacara utama Musk, telah mengirimkan surat kepada CCDH dan Imran Ahmed. Mereka dianggap telah memposting artikel yang bersifat “menghasut, keterlaluan, dan menyesatkan tentang Twitter”.

Spiro, yang sempat mengirimkan surat peringatan hukum ke Meta pada 5 Juli 2023 lalu itu, menuduh bahwa penelitian yang dilakukan CCDH didukung oleh pesaing Twitter.

“Artikel tersebut tidak lebih dari serangkaian klaim yang menghasut, menyesatkan, dan tidak didukung berdasarkan tinjauan sepintas dari tweet acak,” kata Spiro, dikutip dari The Guardian.

Dalam surat yang dikirimkan tersebut, kuasa hukum Musk sedang mempertimbangkan apakah penelitian yang dilakukan oleh CCDH dapat ditindaklanjuti berdasarkan undang-undang yang berlalu. 

Sementara itu, surat yang dikirimkan oleh pihak kuasa hukum Musk justru dianggap sebagai surat “konyol”. Perwakilan hukum CCDH mengatakan bahwa adanya surat itu adalah upaya Twitter untuk mengintimidasi mereka.

“Musk menarget CCDH karena kami mengungkapkan kebenaran tentang penyebaran kebencian dan disinformasi di Twitter di bawah kepemilikannya, dan itu berdampak pada keuntungannya,” tegas Ahmed.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments