Ribuan Demonstran Hong Kong 2019 Dihukum Penjara, Termasuk para Remaja

by | Nov 1, 2023

Hong Kong | Hukum | Internasional | Kriminal

FOMOMEDIA – Ribuan massa demonstrasi di Hong Kong pada 2019 divonis bersalah, termasuk remaja berusia di bawah 18 tahun. Pro dan kontra pun memanas.

Masih ingat dengan peristiwa demonstrasi yang melibatkan jutaan warga Hong Kong turun ke jalan pada 2019? Gerakan rakyat pro-demokrasi tersebut menolak adanya rancangan undang-undang (RUU) anti-ekstradisi yang diluncurkan oleh pemerintah eksekutif Hong Kong. Dari peristiwa itu, setidaknya 10 ribu massa ditangkap oleh aparat.

Kini, sebuah laporan yang dirilis oleh Georgetown Law menyebut bahwa massa yang ditahan itu mendapatkan perlakuan yang keras dari aparat. Mereka didakwa dengan 100 jenis pelanggaran berbeda.

“Dalam laporan ini, kami menganalisis data dari dua tahun pertama (Juni 2019 – Juli 2021) mengenai penangkapan, penahanan, dan pemenjaraan para massa protes Gerakan Anti-Ekstradisi 2019. Data kami menunjukkan upaya menyeluruh dari pemerintah menggunakan sistem peradilan kriminal untuk menghukum massa aksi pada tahun 2019 dan tahun-tahun yang akan datang,” tulis Georgetown Law.

Jun Chan, Eric Yan-ho Lai, dan Thomas E. Kellogg dari Pusat Hukum Asia Universitas Georgetown, mengungkap sebuah temuan mengejutkan itu. 

“Dalam hampir semua hal, respons setelah tahun 2019 rata-rata lebih bersifat menghukum dibandingkan respons sebelumnya terhadap gerakan sosial, khususnya gerakan payung tahun 2014,” kata para penulis, dikutip dari The Guardian.

Per Agustus 2022, lebih dari 10 ribu warga Hong Kong telah ditangkap sehubungan dengan gerakan protes tahun 2019. Dari situ, setidaknya hampir tiga ribu orang diadili.

80 Persen Vonis Bersalah

Masih merujuk pada laporan tiga penulis di atas, sekitar 80 persen pengunjuk rasa dinyatakan bersalah. Mereka pun akhirnya menerima hukuman penjara.

“Tuduhan paling umum dalam kumpulan data tersebut adalah pertemuan yang melanggar hukum, sebuah peraturan era kolonial yang memungkinkan pihak berwenang untuk mengadili pengunjuk rasa yang damai,” tulis The Guardian, merujuk pada laporan Georgetown Law.

Gerakan protes terjadi selama enam bulan dari 2019 hingga 2020. Protes tersebut jadi yang terlama sejak gerakan payung hitam pada 2014 silam.

Massa yang ditangkap oleh aparat pun harus melakukan persidangan secara bergilir. Bahkan, persidangan pun berlangsung hingga 2021. Para tahanan harus bahwa memiliki waktu tunggu persidangan hingga 287 hari.

Selain itu, dari segi usia, laporan Georgetown Law menyebut lebih dari 130 dakwaan ditujukan kepada tahanan di bawah usia 18 tahun. Sementara, rata-rata para tahanan lainnya berusia 23 tahun.

Gara-gara masalah remaja yang mendapatkan hukuman, kini Hong Kong terbelah. Perdebatan pro dan kontra soal hukuman penjara untuk remaja yang berdemonstrasi masih berlangsung panas.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments