Remaja Tewas Ditembak Polisi, Seantero Prancis Rusuh

by | Jul 3, 2023

Internasional | Nahel Merzouk | Prancis | Sosial

FOMOMEDIA – Seantero Prancis rusuh dan membara. Kematian Nahel Merzouk memicu amarah luar biasa besar dari rakyat yang melawan kekejaman aparat.

Nama Nahel Merzouk mungkin bakal dikenang selamanya di Prancis. Ia adalah seorang pemuda berusia 17 tahun yang meninggal usai ditembak oleh polisi.

Penembakan terjadi saat polisi menghentikan Nahel yang diduga melanggar lalu lintas di Paris pada Selasa (26/6/2023). Polisi mengejar dan Nahel menghentikan mobilnya.

Seperti terlihat di dalam video yang beredar, Nahel tak menghiraukan polisi dan melanjutkan mengemudi mobilnya. Lalu, saat mobil mulai berjalan, polisi menembak Nahel dengan bedil laras panjang. Nahel pun tewas seketika di tempat.

Sejak kabar penembakan tersebut viral, gelombang protes terkait kematian Nahel pun menyapu seantero Prancis. Aksi solidaritas digelar dari Paris sampai Marseille.

Diketahui bahwa sosok Nahel adalah anak keturunan Aljazair dan Maroko. Bersama ibunya, ia tinggal di lingkungan Vieux-Pont di Nanterre, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Paris.

Penembakan terhadap Nahel akhirnya menimbulkan sentimen kelas sosial dan ras campuran di Prancis yang memanas. Apalagi penembakan tersebut dilakukan oleh polisi. Tak pelak, tuduhan rasialisme sistemik di tubuh kepolisian Prancis pun mencuat.

Sentimen rasial dari polisi tersebut semakin memanas usai pengakuan ibu dari Nahel, Mounia, yang mengaku ke media lokal bahwa dia sangat marah. Ia menilai anaknya yang terlihat seperti orang Arab memang sengaja dibunuh.

“Dia melihat seorang anak kecil berwajah Arab, dia ingin mengambil nyawanya,” kata Mounia, dikutip dari tempo.co.

Mulanya Kondusif lalu Rusuh

Selama satu dan dua hari pertama, aksi menuntut keadilan untuk Nahel masih berjalan kondusif. Namun, unjuk rasa terus meluas, tak hanya di Paris tapi juga kota-kota lain seperti Toulouse, Dijon, Lyon, dan Marseille.

Puncaknya, pada Jumat malam (30/6/2023) sampai Sabtu pagi (1/7/2023) terjadi bentrokan antara massa dan aparat kepolisian. Sebanyak 45.000 petugas polisi dan sejumlah kendaraan lapis baja diturunkan.

Aksi bentrokan antara aparat dan massa pun terjadi berhari-hari di berbagai kota di Prancis. Menurut laporan The Guardian, pada hari Jumat sebanyak 1.300 massa aksi ditangkap, dan di hari Sabtu sebanyak 719 orang. Sementara, di hari Minggu kemarin sebanyak 49 orang.

Menurut Kepala Kepolisian Paris, Laurent Nunez, masih terlalu dini untuk menganggap bahwa kerusuhan sudah berakhir. “Terbukti kerusakannya lebih sedikit, tetapi kami akan tetap dimobilisasi dalam beberapa hari mendatang. Kami sangat fokus; tidak ada yang mengklaim kemenangan,” kata Nunez, dikutip dari The Guardian.

Setelah kerusuhan beberapa hari yang menyebabkan ribuan orang ditangkap dan puluhan toko mengalami penjarahan oleh massa, akhirnya Presiden Prancis Emmanuel Macron turun tangan. Macron direncanakan pada hari Selasa (4/7/2023) besok akan bertemu dengan wali kota dari 220 kota yang terkena dampak protes.

Sementara itu, kedua polisi yang terlibat dalam penembakan Nahel telah ditahan. Penyelidikan terhadap pelaku pembunuhan tersebut masih terus dilakukan.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] belakangan ini situasinya cukup mencekam, ternyata hidup di Prancis masih cukup menyenangkan, kok. Contohnya, kalau kamu mau memperbaiki […]

[…] Marseille, Toulouse, Dijon, dan Lyon. Namun, aksi solidaritas untuk Merzouk itu kemudian diikuti aksi kerusuhan, vandalisme, dan […]