PM Baru Thailand Segera Dipilih, Era Junta Militer Habis?

by | Jul 13, 2023

Internasional | Move Forward Party | Pita Limjaroenrat | Politik | Thailand

FOMOMEDIA – Perjalanan Pita Limjaroenrat jadi PM baru Thailand tidaklah mudah. Meski partainya menang di pemilu, pengaruh militer di parlemen masih kuat.

Thailand akan melakukan pemilihan perdana menteri (PM) baru, Kamis (13/7/2023) ini. Salah satu kandidat terkuat saat ini berasal dari partai paling populer dan progresif, Move Forward.

Dalam pemilihan umum, Mei 2023 lalu, Move Forward berhasil meraih suara terbanyak warga Thailand. Move Forward berhasil mendapatkan 151 kursi parlemen.

Persis di bawah Move Forward ada Partai Phue Thai dengan total 141 kursi. Lalu, posisi ketiga ditempati Partai Bhumjaithai dengan 71 kursi, Palang Pracharath 40 kursi, dan Partai United Thai Nation 36 kursi. 

Kemenangan Move Forward pun disambut gembira oleh masyarakat Thailand. Menurut laporan The Guardian, partai tersebut sedang mengkampanyekan reformasi besar dengan menjanjikan pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur kekuasaan di Thailand.

Kemenangan Move Forward tersebut juga dianggap sebagai angin segar bagi demokrasi di Thailand. Negara Gajah Putih itu sebelumnya diketahui dikuasai oleh pemerintahan junta militer sejak kudeta 2014.

Mantan Jenderal Militer Thailand, Prayuth Chan-ocha, berhasil mengambil alih kekuasaan dan menjadi PM Thailand sejak 2014. 

Sejak kudeta tersebut, pengaruh militer di Thailand masih belum berakhir. Pasalnya, pada pemilu 2019, Prayuth Chan-ocha terpilih kembali menjadi Perdana Menteri.

Dewasa ini, pria yang sudah berusia 69 tahun itu berencana akan pensiun dari dunia politik. Namun, ia akan tetap menjadi Perdana Menteri sementara sampai pemerintahan baru sudah terbentuk.

Jadi Awal Baru Demokrasi Thailand?

Meski telah memenangi pemilu pada 14 Mei 2023 lalu, Partai Move Forward tampaknya tidak akan mudah untuk menjadikan Pita Limjaroenrat sebagai PM baru Thailand. Pasalnya, pria kelahiran Bangkok, 5 September 1980, tersebut dituduh telah melanggar hukum.

Pita, menurut The Guardian, dituduh telah melanggar aturan pemilu lantaran memiliki saham di sebuah perusahan media di Thailand yang dimanfaatkan untuk pemilu.

Komisi Pemilihan Umum Thailand merujuk kasus tersebut ke Mahkamah Konstitusi, yang merekomendasikan supaya Pita dibekukan sebagai anggota parlemen. Meski begitu, Pita tetap memiliki hak untuk mencalonkan diri sebagai PM.

Jika Pita gagal mendapatkan suara terbanyak dari parlemen, situasi politik di Thailand akan mengalami kebuntuan. Angin segar demokrasi di Thailand pun akan berlalu.

Perjalanan Tidak Mudah

Meski mendapat ganjalan, Pita terus berusaha menggalang suara dari masyarakat dan para senator.

“Kami meminta mereka untuk memilih demokrasi, untuk mayoritas, dan untuk mengembalikan normalitas politik Thailand, sehingga kami akhirnya bisa bergerak maju,” kata Pita, dikutip dari The Guardian.

Dalam pemilihan PM, Pita setidaknya membutuhkan suara lebih dari setengah dari 500 anggota parlemen dan 250 senator. Dalam laporan terbaru, Pita mengaku telah membentuk koalisi yang akan memberinya 312 suara.

Sementara itu, untuk bisa menjadi perdana menteri, Pita juga membutuhkan suara dari oposisi setidaknya 64 suara, baik dari anggota parlemen dan senator. Namun, usaha ini tidak akan mudah dilalui.

Ancaman Kaum Konservatif

Kemenangan Partai Move Forward dalam pemilu dua bulan lalu telah menjadi ancaman tersendiri bagi kaum konservatif Thailand. Ancaman tersebut salah satunya Partai Move Forward menjanjikan akan mengubah struktur kekuasaan di Thailand.

Move Forward berencana akan memotong anggaran militer. Selain itu, kekuasaan pun akan lebih terdesentralisasi, dan monopoli ekonomi pun lebih terdistribusi secara adil.

Selain itu, jika Partai Move Forward gagal mencalonkan Pita, Partai Phue Thai yang menjadi koalisi akan mencalonkan sosok baru.

“Saya pikir itu akan berjalan lancar. Jika partai pertama tidak mendapatkannya, kami masih memiliki partai kedua,” kata Senator Prapasri Suchantabutr, anggota Partai Move Forward.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Jika masyarakat Myanmar ketahuan memainkannya, mereka akan menghadapi masalah hukum. Namun, adanya ancaman tersebut tidak membuat Ko Toot merasa gentar. Bahkan, ia tak peduli dengan yang dikatakan oleh rezim militer. […]

[…] pemilu Thailand yang digelar pada Mei 2023 lalu, Partai Move Forward berhasil mendapatkan suara terbanyak masyarakat Thailand dengan total 151 kursi …. Sementara, di posisi kedua ada Partai Pheu Thai dengan total 141 […]

[…] partai anak muda progresif Move Forward, Pita Limjaroenrat, dinyatakan gagal menjadi Perdana Menteri (PM) Thailand dalam pemungutan suara di parlemen, Kamis (13/7). Pria yang berusia 42 tahun tersebut hanya […]