Piala Dunia Wanita: Gelar Juara Spanyol Dibayangi Rangkaian Kontroversi

by | Aug 21, 2023

Olahraga | Piala Dunia Wanita | Sepak Bola | Timnas Wanita Spanyol

FOMOMEDIA – Sebelum dan sesudah Timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia Wanita 2023, kontroversi senantiasa menggelayuti. Meski juara, PR Spanyol masih segudang.

Pada akhirnya, trofi Piala Dunia Wanita 2023 menjadi milik Timnas Spanyol. Kemenangan 1-0 atas Inggris pada partai final di Stadium Australia, Sydney, Minggu (20/8/2023) sore WIB, memastikan gelar juara dunia perdana di level senior bagi La Roja.

Adalah Olga Carmona, pemain bertahan milik Real Madrid, yang mencetak gol kemenangan Spanyol. Pemain 23 tahun tersebut membobol gawang kiper terbaik turnamen, Mary Earps, pada menit ke-29. Gol itu pun jadi penentu hasil akhir pertandingan.

Keberhasilan Spanyol di Piala Dunia Wanita 2023 sendiri sebetulnya gagal diprediksi banyak pihak. Sebab, mereka datang ke Australia dan Selandia Baru dengan membawa segudang masalah internal. Kekalahan 0-4 dari Jepang pada fase grup, akhir Juli lalu, semakin menambah keraguan publik akan kemampuan Jenni Hermoso dan kolega.

Tanpa Sejumlah Pemain Bintang

Piala Dunia Wanita 2023 itu diikuti Spanyol tanpa sejumlah pemain bintang, mulai dari Maria Leon, Patri Guijarro, Sandra Panos, Laia Aleixandri, Leila Ouahabi, sampai Claudia Pina. Ini merupakan kelanjutan dari aksi pemberontakan yang terjadi tahun lalu.

Pada 23 September 2022, 15 pemain Timnas Wanita Spanyol secara kolektif mengeluarkan pernyataan yang berisikan penolakan untuk memperkuat tim. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap sikap buruk pelatih Jorge Vilda yang mendapat bekingan kuat dari Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF).

Vilda dituduh telah menciptakan situasi tim yang tidak nyaman. Salah satu aturan Vilda yang ditentang banyak pemain adalah larangan mengunci kamar hotel sampai tengah malam ketika sedang menjalani pertandingan internasional. Menyusul kegagalan di Piala Eropa Wanita 2022, para pemain Timnas Wanita Spanyol pun semakin kencang menggoyang posisi Vilda.

Meski demikian, federasi bergeming. Pasalnya, Vilda sendiri dipandang sebagai sosok sarat pengalaman di sepak bola wanita. Dia sudah berkecimpung di sepak bola wanita sejak 2010 ketika menangani Timnas Putri U-17. Status Vilda sebagai anggota Majelis Umum RFEF juga membuat bias federasi memihak kepada dirinya.

Pada akhirnya, tiga dari 15 pemain yang menolak panggilan Timnas Wanita Spanyol tadi berubah pikiran. Mereka adalah Ona Batlle, Aitana Bonmati, dan Mariona Caldentey. Pemain terbaik dunia Alexia Putellas pun sembuh dari cedera dan ikut masuk dalam skuad Piala Dunia Wanita.

Putellas sebetulnya sempat berpihak kepada 15 pemain yang menolak panggilan tadi. Akan tetapi, kapten Barcelona itu memiliki pertimbangan tersendiri sehingga akhirnya mau memperkuat La Roja kembali.

Dengan kembalinya Batlle, Bonmati, Caldentey, serta Putellas, Spanyol sebetulnya masih compang-camping. Di awal-awal turnamen, permainan mereka masih terlihat berantakan dan seringkali kesulitan menembus pertahanan lawan. Kekalahan telak dari Jepang menjadi “bukti” bahwa Spanyol sulit dijagokan menjadi juara.

Keunggulan Skill Jadi Penentu

Akan tetapi, para pemain Spanyol memang memiliki keunggulan skill dibanding semua pemain di Piala Dunia Wanita. Dengan kelebihan itulah mereka akhirnya memperbaiki penampilan sampai akhirnya menggenggam trofi juara dunia. Bonmati, yang kerap disebut sebagai Andres Iniesta versi perempuan, akhirnya pun terpilih sebagai pemain terbaik turnamen.

Bagi para pemain, keberhasilan menjadi juara dunia ini jelas menjadi prestasi yang takkan bisa terlupakan. Akan tetapi, di sisi lain, trofi juara dunia pun akan membuat posisi Vilda di Timnas Wanita Spanyol makin tak tergoyahkan. Dengan kata lain, gelar juara dunia ini juga merupakan buah simalakama.

Dinodai Aksi Presiden Federasi

Selain itu, perayaan juara Spanyol pun dinodai dengan aksi tak senonoh Presiden RFEF Luis Rubiales. Pada prosesi penyerahan medali, Rubiales tertangkap kamera mencium bibir Hermoso. Sontak, aksi ini pun mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari presenter televisi Claudya Carolina yang mehyebut aksi itu “berlebihan” dan “tidak pantas”.

Hermoso sendiri sempat mengutarakan ketidaknyamanannya. Namun, kemudian dia mengklarifikasi dengan mengatakan bahwa tindakan Rubiales itu merupakan “gestur rasa sayang yang natural”. “Aku dan presiden punya hubungan baik. Sikapnya dengan kami selalu baik dan itu tadi cuma bentuk gestur rasa sayang yang natural,” ucap Hermoso, dikutip dari The Guardian.

Apa pun itu, yang jelas, tindakan Rubiales semakin mencoreng reputasi RFEF dalam kaitannya dengan sepak bola wanita. Ya, Spanyol memang berhasil menjadi juara dunia. Akan tetapi, RFEF masih punya segudang pekerjaan rumah untuk menunjukkan bahwa mereka memang betul-betul peduli pada sepak bola perempuan.

Penulis: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments