Perempuan Belum Aman di Indonesia: 2 LC di Sumbar Diarak, Diceburkan ke Laut, dan Ditelanjangi

by | Apr 13, 2023

Kekerasan | Perempuan | Persekusi

FOMOMEDIA – Tak cuma persekusi berkedok agama, peristiwa yang menimpa 2 LC di Sumbar juga merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Bulan Ramadan adalah bulan suci bagi umat Islam. Sayangnya, bulan suci ini kerap dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk melakukan hal-hal keji dengan mengatasnamakan agama. Peristiwa paling baru terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, di mana dua perempuan pemandu karaoke atau LC (lady companion) diarak, diceburkan ke laut, lalu ditelanjangi oleh massa.

Tidak ada penjelasan mendetail soal kapan persisnya persekusi terhadap dua LC itu terjadi. Yang jelas, video yang merekam kejadian tersebut mulai tersebar pada Selasa (11/4/2023).

Mulanya, dalam video tersebut, terlihat sekelompok massa berusaha merusak kafe yang diduga menyediakan layanan karaoke beserta LC. Mereka kesal karena tidak seharusnya tempat hiburan seperti itu buka pada bulan Ramadan. Akan tetapi, cara yang dilakukan kawanan massa itu pun tidak pantas dilakukan, lebih-lebih pada bulan suci.

Setelah menyerbu kafe yang dimaksud, massa mengarak dua perempuan, masing-masing berusia 19 dan 24 tahun, lalu melempar mereka ke laut. Tak cukup sampai di situ, dua perempuan malang yang sebetulnya sudah memohon ampun itu sampai ditelanjangi pula.

Aksi main hakim sendiri itu mendapat kecaman luas dari para netizen. Seorang pengguna Twitter bernama Lita Widyo berkomentar, “Beraksi seolah polisi moral dengan cara yang justru mencederai moralitas itu sendiri.”

Pengguna Twitter lain, Cheryl Tanzil, menulis, “Lagi, ‘polisi moral’ yang tidak punya moral, main hakim sendiri. Ini masuk ranah pidana penganiayaan dan pelecehan. Mohon atensi, pak Listyo Sigit dan Kapolda Sumbar. Jangan lagi aksi persekusi berkedok agama diwajarkan di Indonesia!”

Sudah Ditangani Pihak Berwajib

Pihak berwajib sendiri sudah bergerak untuk merespons peristiwa persekusi di Pesisir Selatan tersebut. Kasat Reskrim Polres Pesisir Selatan AKP Hendra Yose berkata bahwa pihaknya telah memulai penyelidikan. “Sudah diproses, sudah [jadi] atensi, dan akan segera kami lakukan proses dan memberikan kepastian hukumnya,” ucap Hendra, dikutip dari Detik.

Sementara itu, kafe yang diserbu massa sendiri telah disegel oleh Satpol PP setempat. Penyegelan ini dilakukan karena kafe tersebut dianggap melanggar Perda No. 1/2016. Menurut Kepala Satpol PP-Damkar Pesisir Selatan, Dailipal, kafe tersebut menyediakan room karaoke dan pemandu lagu tanpa izin.

“Dulu kafe ini tidak pakai room dan perempuan pemandu. Hanya karaoke lepas saja. Karena COVID-19 dulu, kami tidak melakukan cek lagi ke sana. Tahu-tahu terbongkar, ternyata sudah ada room karaoke,” ujar Dailipal seperti dilansir Detik.

BACA JUGA: Salah Fokus ke AG, Bukti Indonesia Darurat Age of Consent

Satu hal yang sangat mengganggu dari peristiwa ini adalah bagaimana mudahnya massa melakukan tindakan penganiayaan dan pelecehan terhadap dua LC tersebut. Jika memang kafe buka di bulan Ramadan dianggap salah, ada pihak-pihak yang lebih bertanggung jawab seperti pemilik kafe yang ngeyel serta Satpol PP selaku penegak Perda yang lalai.

Namun, massa justru melampiaskan kemarahan kepada dua orang yang paling tidak memiliki kuasa, yaitu dua LC tadi. Peristiwa di Pesisir Selatan itu menjadi bukti terbaru bahwa Indonesia tak hanya masih rawan akan persekusi berkedok agama, tetapi juga belum menjadi tempat yang benar-benar ramah bagi perempuan.

Penulis: Yoga

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments