Percaya, deh, Jadi Vegetarian itu Gak Bagus buat Anak Muda

by | Aug 24, 2023

Gizi | Kesehatan | Vegan | Vegetarian

FOMOMEDIA – Jadi vegetarian katanya lebih sehat. Tapi, kamu mesti hati-hati karena ada banyak nutrisi yang gak bisa kamu dapatkan hanya dari sayur dan buah.

Mari menjelajah masa lalu barang sejenak. Bayangkan dirimu masih duduk di bangku SD dan sedang memerhatikan guru matematikamu yang tengah mengajarkan geometri. Lebih tepatnya, tentang segitiga siku-siku, yaitu segitiga yang salah satu sudutnya berukuran  90 derajat. Dan kamu tengah khusyuk  mendengarkan gurumu mengajarkan cara menghitung panjang sisi segitiga tersebut.

Bagaimana? Sudah?

Kalau sudah, coba ingat-ingat lagi nama seorang filsuf Yunani Kuno yang disebutkan oleh gurumu. Jika nama filsuf itu adalah Pythagoras, artinya kamu punya ingatan yang baik atau kamu dulu termasuk salah satu murid yang pintar. Nama Pythagoras muncul karena dia adalah pencetus teorema yang kemudian menjadi dasar bagi penghitungan panjang sisi, luas, serta keliling segitiga siku-siku tadi.

Akan tetapi, kamu tahu gak, ternyata Pythagoras sendiri bukan cuma ahli matematika. Laiknya filsuf-filsuf masa lampau pada umumnya, Pythagoras menguasai banyak bidang ilmu. Dia juga pada akhirnya memiliki ajaran sendiri yang dikenal dengan nama Pythagoreanisme. Nah, dalam Pythagoreanisme ini juga ditemukan salah satu ajaran tertua mengenai vegetarianisme.

Pythagoras mengajarkan vegetarianisme dengan pertimbangan etika. Arkeolog Terry Madenholm, dalam kolom yang ditulisnya di Haaretz, menjelaskan bahwa Pythagoras percaya hewan memiliki “hasrat dan kecerdasan”. Dengan begitu, menyakiti atau membunuh hewan adalah perbuatan yang tidak etis. Pythagoras pun mengajarkan kepada pengikutnya—Pythagorean—untuk tidak mengonsumsi apa pun yang berasal dari hewan.

Ajaran Pythagoras ini sebetulnya tidak terlalu ditaati oleh para pengikutnya. Ada yang tetap mengonsumsi ikan. Ada yang tetap menggunakan produk-produk hewani non-daging untuk keperluan-keperluan ritual seperti susu, telur, dan lainnya. Namun, ajaran inti untuk tidak menyakiti dan membunuh hewan itu bertahan hingga kini. Mulanya, orang menyebutnya sebagai Pythagorean Diet. Kini, istilah yang populer untuk menyebut gaya hidup itu adalah vegetarianisme dan veganisme.

Pythagoras. (Foto: Wikimedia Commons)

Meski sepintas terlihat sama, ada distingsi jelas antara vegetarianisme dan veganisme. Gampangnya, seorang vegetarian hanya tidak mengonsumsi daging hewan, baik itu daging merah, daging unggas, maupun daging ikan. Sementara, seorang vegan tidak hanya “mengharamkan” daging, tetapi juga tidak menggunakan produk-produk turunannya . Jadi, alih-alih disebut vegetarian,  Pythagoras sebenarnya lebih pas jika disebut seorang vegan.

***

Sampai sekarang, belum ada survei yang bisa secara pasti menyimpulkan berapa jumlah vegan dan vegetarian. Namun, pada 2018, Ipsos Mori sempat merilis sebuah data yang menyebut bahwa 5% populasi dunia telah jadi vegetarian, 3% merupakan vegan, 3% merupakan pescatarian (tidak makan daging tetapi makan ikan), dan 14% merupakan flexitarian (tetap makan ikan dan daging tetapi dengan frekuensi rendah).

Ipsos Mori juga menyebut bahwa India merupakan negara dengan persentase vegan (19%) dan vegetarian (22%) tertinggi. Ini tidak mengherankan karena mayoritas (79,8%) penduduk India memeluk agama Hindu.

Dalam Hindu sendiri sebenarnya tidak ada syariat spesifik tentang  vegetarianisme dan veganisme. Namun, banyak umat Hindu yang memilih tidak mengonsumsi daging agar tidak menyakiti hewan. Apalagi, dalam ajaran Hindu, sapi dianggap sebagai hewan suci yang menjadi perlambang bumi dan alam semesta. Makin kuatlah alasan bagi pemeluk Hindu, khususnya di India, untuk tidak mengonsumsi daging.

Ternyata, gaya hidup vegetarianisme dan veganisme saat ini semakin populer. Terlebih sejak pandemi Covid-19 melanda dunia. Menurut data Good Food Institute, penjualan makanan berbasis tanaman (plant-based food) tumbuh tiga kali lebih besar dibandingkan penjualan makanan biasa pada 2021. Adapun, makanan berbasis tanaman yang dimaksud di sini adalah substitusi susu, keju, daging, yogurt, mentega, dan krimer.

Laporan bank BBVA dari Spanyol menyebut bahwa kenaikan popularitas vegetarianisme dan veganisme sejak pandemi virus corona itu terjadi karena munculnya kesadaran orang-orang akan apa yang mereka konsumsi. Kabar bahwa virus corona mulanya menyebar dari konsumsi kelelawar membuat mereka makin berhati-hati memilih asupan yang dimasukkan ke dalam tubuh.

Selain itu, menurut Hemi Kim dalam tulisannya di Sentient Media, popularitas vegetarianisme dan veganisme naik pesat karena orang-orang ingin hidup lebih sehat, ingin menurunkan berat badan, makin peduli pada lingkungan, makin peduli dengan kesejahteraan hewan, khawatir akan antibiotik yang biasa digunakan di peternakan-peternakan, dan terpengaruh ajakan selebriti serta influencer.

Ilustrasi diet vegetarian. (Foto: Wikimedia Commons)

Populernya vegetarianisme dan veganisme sendiri bermula pada 2015. Pada 2019, kata kunci “veganism” bahkan sempat mendapat interest score maksimum di Google Trends sehingga The Economist menyebut tahun tersebut sebagai “tahunnya para vegan”. Popularitas di dunia maya itu pun akhirnya terkonversi pula ke dunia nyata, terbukti dengan data dari Good Food Institute tadi.

***

Di antara semua alasan mengapa vegetarianisme dan veganisme makin populer tadi, yang paling kerap diutarakan adalah soal kesehatan. Berdasarkan riset Harvard University, seseorang yang jadi vegetarian dan vegan memang lebih sehat karena mereka mengonsumsi lebih sedikit lemak jenuh dan kolesterol serta lebih banyak vitamin C dan E, serat, asam folat, potasium, magnesium, dan zat-zat kimia nabati. 

Dengan demikian, vegetarian dan vegan cenderung berkolesterol jahat rendah, bertekanan darah lebih rendah, dan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah pula. Karena itu, risiko terkena penyakit kronis yang bersumber dari produk hewani pun jadi lebih rendah.

Meski demikian, diet vegetarian dan vegan bukan berarti sempurna dan sepenuhnya jauh dari penyakit. Sebab, dengan tidak mengonsumsi produk hewani, ada nutrien-nutrien  yang tak bisa mereka dapatkan secara langsung, atau hanya bisa sedikit terpenuhi . Nutrisi yang dimaksud yaitu protein hewani, vitamin B12, zat besi, zinc, asam lemak omega 3, dan kalsium.

Seseorang yang jadi vegetarian mungkin masih bisa mendapat cukup asupan protein nabati karena mereka hanya tidak mengonsumsi daging. Sementara, produk-produk hewani lainnya macam susu dan telur masih mereka konsumsi. Namun, seorang vegan bisa dipastikan tidak akan mendapatkannya.

Fungsi protein tersebut adalah untuk membangun, memperbaiki, dan mengatur fungsi berbagai jaringan dan organ, termasuk otot. Seseorang yang kekurangan protein akan mudah lelah dan daya tahan tubuhnya menurun. Untuk perempuan yang sedang hamil, risiko kekurangan protein ini bahkan bisa menyebabkan bayi yang dikandungnya mati, lahir dengan berat badan rendah, atau lahir prematur.

Kendati begitu, vegetarian dan vegan sebenarnya tetap bisa menjaga asupan protein nabati ke dalam tubuh mereka dengan mengonsumsi makanan seperti kacang-kacangan, biji-bijian, produk kedelai, gandum, atau nasi merah. Hanya saja, dibutuhkan perhatian ekstra supaya asupan nutrien yang satu ini tidak terlewat hingga menyebabkan malnutrisi.

Ilustrasi steik. (Foto: Pixabay)

Untuk vitamin B12, vegetarian juga tak perlu khawatir karena nutrien ini bisa didapat lewat susu dan telur. Namun, lagi-lagi, bagi para vegan, ini bisa jadi persoalan. Defisiensi (kekurangan) vitamin B12 sendiri bisa berbahaya karena zat gizi ini punya peranan penting dalam memproduksi sel darah merah yang sehat.

Apabila kemampuan tubuh memproduksi sel darah merah yang sehat ini menurun, sel darah merah yang dihasilkan jadi terlalu besar dan rapuh. Akibatnya, sel-sel itu tak bisa keluar dari sumsum tulang untuk masuk aliran darah dan tak bisa mengantarkan oksigen ke jaringan-jaringan tubuh. Kondisi demikian dapat menyebabkan anemia yang membuat tubuh terasa lemas.

Risiko yang dihadapi penderita defisiensi vitamin B12 lain adalah gangguan saraf dan otak. Vitamin B12 punya peranan dalam menjaga selubung mielin yang melindungi saraf. Jika pelindung ini rusak, saraf akan berhenti berfungsi dengan baik dan menyebabkan neuropati perifer (gangguan saraf tepi). Gangguan ini bisa bersifat permanen dan menimbulkan penyakit-penyakit yang dapat berujung pada kematian seperti takikardia (detak jantung terlalu cepat).

Satu risiko lain yang dihadapi para vegan akibat kurangnya asupan vitamin B12 adalah mudah terkena depresi. Ini terjadi lantaran adanya gangguan pada produksi zat kimia otak. Depresi sendiri bisa berujung fatal jika tidak ditangani dengan benar.

Nah, untuk mencegah itu semua, para penganut veganisme bisa mengonsumsi produk olahan yang sudah dilengkapi dengan vitamin B12 seperti produk-produk kedelai dan sereal untuk sarapan. Mengonsumsi suplemen vitamin B12 juga sangat disarankan.

Berikutnya ada zat besi. Masih menurut temuan Harvard University, di negara-negara Barat, para vegetarian sebenarnya mendapat asupan zat besi sama banyaknya dengan mereka yang memakan daging. Yang jadi problem, zat besi dalam produk hewani lebih mudah diserap oleh tubuh.

Hungry How To GIF by Munchies - Find & Share on GIPHY

Vegetarian dan vegan perlu mengonsumsi sejumlah makanan lain untuk mendapat asupan vitamin C yang membantu penyerapan zat besi tersebut. Namun, itu juga sebenarnya belum benar-benar cukup. Sebab, dalam makanan-makanan yang dikonsumsi para vegetarian dan vegan, banyak terkandung asam fitat. Asam fitat sebetulnya punya manfaat besar seperti efek antioksidan tetapi sisi negatifnya juga tak kalah kuat karena zat yang satu ini bisa menurunkan kemampuan tubuh dalam menyerap protein, mineral, zat besi, zinc, dan kalsium.

Akibat dari kekurangan zat besi ini mirip dengan defisiensi vitamin B12 karena zat besi pun punya peran penting dalam produksi sel darah merah yang sehat. Tanpa zat besi, darah tak bisa mengalirkan oksigen ke jaringan sehingga mudah lelah. Vegetarian sebetulnya tak perlu terlalu khawatir kekurangan zat besi karena, seperti B12 juga, nutrien ini dapat ditemukan pada telur. Bagi para vegan, ada dua solusi. Yakni, berhenti menjadi vegan atau mengonsumsi suplemen zat besi.

Berikutnya, seng atau zinc. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa kandungan asam fitat dalam makanan-makanan berbasis tanaman dapat menghambat penyerapan zinc. Lantas, apa saja yang bisa terjadi jika tubuh sampai mengalami defisiensi nutrien yang satu ini?

Menurut World Health Organization (WHO), defisiensi zinc bisa memicu infeksi saluran pernapasan bawah, malaria, dan diare. Kurangnya asupan zinc juga dapat meningkatkan risiko peradangan sistemik, terhambatnya proses menyusui, kerusakan organ, bahkan kematian. Selain itu, orang yang kekurangan zinc juga bisa mengalami penyembuhan jerawat yang lama, kerontokan rambut, serta penurunan fungsi neurologis.

Studi lain dari Universitas Muenchen menyebutkan bahwa, dalam jangka panjang, defisiensi zinc dapat menyebabkan gangguan produksi enzim pencernaan. Akibatnya, makanan tidak akan bisa dipecah dengan sempurna dan tubuh bisa kesulitan menyerap nutrien yang diperlukan untuk regenerasi sel.

Ilustrasi makanan kaya zinc. (Foto: Pxhere)

Solusi pencegahan defisiensi zinc bagi vegetarian dan vegan tak berbeda dengan solusi pencegahan defisiensi zat besi. Vegetarian bisa mengonsumsi telur untuk menjaga asupan zinc, sementara vegan dapat mengonsumsi suplemen.

Risiko kesehatan lain bagi vegetarian dan vegan juga bisa muncul dari defisiensi omega-3. Akibatnya bisa sangat beragam, mulai dari risiko serangan jantung lebih besar sampai gangguan mental. Meski begitu, risiko ini bisa ditanggulangi dengan cukup mudah karena ada banyak pilihan untuk mengatasi defisiensi. Baik vegetarian maupun vegan bisa mengonsumsi penganan-penganan plant-based seperti rumput laut, ganggang, dan biji-bijian.

Terakhir, ada risiko yang bisa muncul dari defisiensi kalsium. Ini secara khusus lebih berbahaya bagi perempuan yang memang lebih berisiko terkena osteoporosis alias pengeroposan tulang. Walau begitu, sama dengan defisiensi omega-3, risiko defisiensi kalsium juga relatif mudah diatasi mengingat banyaknya opsi, mulai dari rumput laut sampai biji-bijian.

***

Dari sini, bisa kita simpulkan bahwa, meski mampu menekan risiko penyakit seperti serangan jantung, hipertensi, serta diabetes, jadi vegetarian dan vegan membuka risiko seseorang untuk terkena penyakit lain. Segala risiko tersebut memang dapat diatasi. Akan tetapi, dibutuhkan perhatian serta biaya ekstra untuk melakukan itu.

Khusus untuk anak muda, terutama yang masih berusia belasan dan masih dalam masa pertumbuhan, ada baiknya semua nutrien—baik hewani maupun nabati—tercukupi dengan baik lewat sumber aslinya (baca: tidak lewat suplemen). Sebab, ini adalah masa krusial yang bisa jadi akan menentukan masa depanmu.

Lagipula, produk-produk hewani tidak serta merta akan membuatmu sakit. Jika dikonsumsi berlebihan, memang betul. Akan tetapi, semua yang berlebihan ‘kan pada dasarnya tidak baik. Selain itu, jika concern kamu adalah soal etika dan perubahan iklim, ada jalan-jalan yang bisa kamu tempuh, kok, supaya tetap bisa mengonsumsi produk hewani.

Kamu bisa cari, katakanlah, daging dari peternak yang menjalankan bisnisnya dengan etis meskipun harganya juga pasti akan lebih mahal. Ada pula opsi untuk menjadi flexitarian, di mana kamu mengonsumsi daging atau produk hewani lain sesuai kebutuhan saja. Dengan begini pun kamu sudah berbuat sesuatu, kok, untuk kepentingan yang lebih besar.

Nah, sekarang, semua terserah kamu. Kalau kamu merasa memang mampu menjaga asupan nutrisi dengan baik, ya, silakan. Namun, jika kamu merasa belum mampu, sebaiknya pikir-pikir dulu deh buat jadi vegetarian atau vegan. Toh, yang penting ‘kan makananmu 4 sehat 5 sempurna.

Penulis: Yoga

Editor: Irwan

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments