Pengerukan Pasir Laut Hadirkan Ancaman yang Tak Main-main

by | Sep 6, 2023

Lingkungan | Maritim | Pasir Laut

FOMOMEDIA – Beberapa negara telah melarang pengerukan pasir laut. Namun, Indonesia justru memberlakukan kembali jenis tambang tak ramah lingkungan itu.

Sebuah laporan baru dari platform online mengungkapkan setidaknya terdapat satu juta truk pasir setiap hari yang diekstraksi dari lautan di dunia. Adanya ekstraksi tersebut bisa berdampak pada ancaman terhadap kehidupan laut dan masyarakat pesisir yang menghadapi kenaikan permukaan laut. 

Platform online itu dikembangkan oleh Program Lingkungan PBB (UN Environment Programme/Unep). Lewat platform itu, Unep memantau pengerukan pasir di lingkungan laut dengan menggunakan data sistem identifikasi otomatis (automatic identification systems/AIS) dari kapal.

Menurut laporan The Guardian, Marine Sand Watch memperkirakan dari 2012 hingga 2019 setidaknya terdapat penggalian pasir laut 6 miliar ton tiap tahunnya. Angka tersebut tentu sangat besar dan mengkhawatirkan.

Untuk menggantikan pasir laut yang digali, kata Unep, setidaknya diperlukan pengisian pasir laut alami kembali sebanyak 10-16 miliar ton dari sungai. Hal tersebut tentu sangat berdampak pada ekosistem di lautan.

Menurut Unep, terdapat beberapa titik identifikasi yang mengkhawatirkan atau disebut panas. Beberapa titik itu seperti di Laut Utara, pantai timur Amerika Serikat, dan Asia Tenggara.

“Skala dampak lingkungan dari aktivitas penambangan dan pengerukan laut dangkal sangat mengkhawatirkan, termasuk keanekaragaman hayati, kekeruhan air, dan dampak kebisingan terhadap mamalia laut,” kata Pascal Peduzzi, direktur GRID-Geneva, dikutip dari The Guardian.

“Data ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk pengelolaan sumber daya pasir laut yang lebih baik dan mengurangi dampak penambangan di laut dangkal,” lanjutnya.

Peduzzi juga mendesak seluruh pemangku kepentingan di seluruh dunia. Ia mendesak para pemimpin dunia untuk mempertimbangkan sektor pengerukan pasir laut sebagai bisnis strategis.

Pakai Bantuan AI

Dalam upaya melakukan pemantauan kapal pengeruk pasir laut, GRID-Geneva sebagai pusat analisis di Unep, telah melatih Marine Sand Watch dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mengidentifikasi pergerakan kapal pengerukan dari data AIS.

Menyitat The Guardian, pasir dan kerikil laut merupakan setengah dari seluruh material yang ditambang di dunia. Secara global, terdapat 50 miliar ton pasir dan kerikil digunakan setiap tahun. Jumlah tersebut setara dengan pembangunan tembok setinggi 27 meter dan lebar 27 meter yang membentang sepanjang garis khatulistiwa.

“Seluruh masyarakat kita dibangun di atas pasir. Lantai bangunan Anda mungkin terbuat dari beton, kaca di jendela, aspal jalan terbuat dari pasir,” ujar Peduzzi.

Indonesia Kembali Tambang Pasir Laut

Keberadaan tambang pasir laut memang sedang disorot dan jadi perhatian internasional. Jenis tambang itu telah berkontribusi merusak ekosistem laut.

Beberapa negara di Asia Tenggara telah berhenti melakukan ekspor pasir laut. Namun, per 15 Mei 2023 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut.

PP tersebut secara efektif mengakhiri larangan ekspor pasir laut yang sudah berjalan sejak 2003. Dalam Pasal 9 Bab IV butir 2 disebutkan, pemanfaatan pasir laut digunakan untuk reklamasi di dalam negeri, pembangunan infrastruktur pemerintah, pembangunan prasarana oleh pelaku usaha, dan ekspor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sejak PP Nomor 26 Tahun 2023 disahkan, banyak kalangan yang menentang. Namun, nyatanya kini peraturan tersebut telah sah dan berlaku di negeri maritim ini.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments