Penelitian Cacat dari Oxford Dinilai Bahayakan Jurnalis dan Media

by | Jun 14, 2023

Jurnalisme | Maria Ressa | Media | Sosial

FOMOMEDIA – Penelitian cacat Oxford yang dimasukkan dalam laporan tahunan Reuters berpotensi digunakan pemerintah otokratis untuk membungkam media independen.

Peraih Nobel Perdamaian, Maria Ressa, mengatakan bahwa Universitas Oxford menerbitkan penelitian cacat. Penelitian cacat yang termuat dalam laporan berita digital tahunan Reuters tersebut, menurut Ressa, berpotensi digunakan untuk membungkan jurnalis kritis, khususnya di belahan bumi selatan.

Ressa sendiri adalah seorang jurnalis senior yang sebelumnya merupakan anggota Dewan Penasihat Reuters Institute for the Study of Journalism (RISJ). Namun, penelitian cacat tadi membuat Ressa memutuskan mundur.

Metodologi Dinilai Cacat

RISJ sendiri merupakan lembaga yang digunakan untuk menggembleng para jurnalis muda yang nantinya bisa direkrut oleh Reuters. RISJ secara profesional menyediakan beasiswa bagi para jurnalis di perusahaan yang dimiliki oleh Thomson Reuters itu.

Menurut Ressa, metodologi yang digunakan dalam penelitian tidak cocok dengan RISJ serta membahayakan media serta jurnalis independen.

Salah satu kasus yang ditemukan Ressa dalam laporan berita digital tahunan tersebut adalah ketika RISJ menempatkan Rappler—yang didirikan oleh Ressa—dalam jajaran media paling tidak dipercaya di Filipina.

Hal tersebut menjadikan Ressa khawatir. Sebab, laporan berita digital tahunan yang dibuat oleh RSIJ bisa digunakan oleh kekuasaan untuk membungkam para jurnalis dan media itu sendiri.

Ressa menilai, RISJ yang didanai oleh Google telah gagal memperhitungkan dampak dari kampanye disinformasi, terutama di negara-negara di mana pemerintah bisa bebas menyerang media.

“Tahun lalu saya mengundurkan diri dari dewan karena saya pikir sangat mengerikan bahwa mereka melanjutkan penelitian yang bisa dipersenjatai dan digunakan untuk melawan kami, pada saat yang kritis. Pejabat pemerintah mengutip Reuters Institute for the Study of Journalism dari Universitas Oxford untuk menyerang kami,” kata Ressa, dikutip dari The Guardian.

“Hukuman penjara puluhan tahun mengancam saya. Jadi untuk benar-benar melakukan ini lagi, meskipun sudah berulang kali diperingatkan, tidak dapat saya pahami,” lanjutnya.

Adanya laporan berita digital Reuters itu telah berjalan selama lebih dari satu dekade. Pada awalnya, tujuan pembuatan laporan tersebut adalah untuk memberikan ikhtisar tentang konsumsi berita digital.

Menurut laporan The Guardian, berdasarkan survei YouGov terhadap lebih dari 90.000 konsumen berita daring di 46 negara, termasuk India, Indonesia, Nigeria, dan Brasil. Itulah negara-negara yang memiliki risiko pembungkaman para jurnalis di belahan bumi selatan.

Bantahan Reuters

Sementara itu, sangkalan muncul dari direktur RISJ, Kleis Nielsen. Menurut Nielsen, penelitian yang termuat dalam laporan berita tahunan tersebut disalahartikan.

“Kami yakin metodologi dalam laporan kami—yang mencakup hampir 50 negara—kuat. Misalnya, ini membantu kami mendokumentasikan bahwa orang-orang yang mengandalkan media sosial untuk berita lebih cenderung khawatir menemukan berita palsu secara online,” kata Nielsen.

Namun, menurut Ressa, berdasarkan temuannya di dalam laporan tahunan itu, justru membuat adanya ancaman terhadap media seperti Rappler misalnya.

“Kita tidak sendirian. ‘Studi’ ini seperti memberikan senjata kepada pemerintah otokratis yang mencoba membungkam jurnalis independen tidak hanya di Filipina tetapi di negara-negara seperti Brasil dan India, di mana operasi informasi dan hukum digunakan untuk menganiaya, melecehkan, dan mendinginkan,” kata Ressa.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments