Peneliti: Skema Penanaman Pohon Monokultur Ancam Keanekaragaman Hayati

by | Oct 8, 2023

Hutan | Internasional | Lingkungan | Perubahan Iklim

FOMOMEDIA – Keberadaan jenis pohon monokultur dianggap tidak bermanfaat terhadap perubahan iklim. Kini, skema penanaman hutan alami sedang ditekankan.

Pohon jadi salah satu elemen penting pendukung kehidupan di bumi. Keberadaan pohon berfungsi untuk menjaga kualitas oksigen dan udara. Maka, terkait keberadaan pohon, diperlukan skema penanaman yang tepat.

Tidak semua skema penanaman pohon bisa memiliki manfaat. Seperti penanaman pohon monokultur, misalnya. Cara menanam seperti itu justru dianggap jadi ancaman terhadap spesies flora dan fauna.

Dilaporkan The Guardian, para ahli ekologi menyebut bahwa skema penanaman pohon monokultur dianggap mengancam keanekaragaman hayati di lingkungan tropis. Bahkan, jenis pohon monokultur hanya menawarkan sedikit manfaat untuk iklim.

Dalam laporan tersebut, hutan Amazon dan Lembah Kongo dijadikan sebagai studi kasus. Di dua tempat tersebut kini sedang marak dilakukan skema penanaman pohon dengan spesies tunggal untuk menangkap karbon.

Namun, pola penanaman jenis pohon monokultur itu justru mendapat peringatan oleh ahli ekologi. Pemerintah yang di dua kawasan hutan tersebut didesak untuk lebih memprioritaskan konservasi dan restorasi hutan asli dan beragam.

Dalam jurnal Trends in Ecology & Evolution, para ahli ekologi menyebut dewasa ini memang semakin populer perkebunan pinus, kayu putih (eukaliptus), dan jati komersial di daerah tropis.

Berbagai jenis pohon monokultur tersebut, meski dianggap bisa mengimbangi karbon, juga memiliki konsekuensi lain yang tidak diinginkan. Konsekuensi tersebut mulai dari menyingkirkan ekosistem asli, mengasamkan kadar tanah, bahkan menyebabkan kebakaran hutan.

Langkah Menghadapi Pemanasan Global

Skema penanaman pohon yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta di berbagai negara memang penting sebagai langkah menghadapi pemanasan global. Setidaknya, dengan lebih giat menanam pohon, berbagai hutan di seluruh dunia bisa berpengaruh terhadap perubahan iklim.

“Kami melakukan banyak penelitian lapangan di daerah tropis untuk meneliti apa yang terjadi dengan perubahan iklim dan kami telah melihat sendiri boomingnya perkebunan ini: jati, tumbuhan runjung, dan eukaliptus hanya satu atau dua spesies,” kata Jesús Aguirre-Gutiérrez, ahli ekologi di Universitas Oxford, dikutip dari The Guardian.

Gutiérrez pernah memimpin penelitian tentang cara memulihkan hutan alam sebagai cara terbaik untuk menghilangkan karbon di atmosfer, diperlukan sebuah lahan yang luas. Namun, saat ini, banyak di berbagai negara yang justru hutan berubah menjadi perkebunan komersial dan monokultur.

Penelitian yang dilakukan pada 2019 tersebut menyoroti bahwa hutan alam justru berperan penting dan lebih banyak daripada hutan perkebunan. Hutan alam dianggap mampu regenerasi dan menyerap karbon 40 kali lebih banyak dibandingkan perkebunan.

Dalam laporan penelitian tersebut, sebagaimana diwartakan The Guardian, disebutkan bahwa perkebunan gabungan di Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan Inggris harus ditanam hutan alami. Maka, diperkirakan gabungan perkebunan hutan alami tersebut dianggap mampu menyerap emisi selama satu tahun.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Kerusakan lingkungan tidak hanya mengancam keselamatan manusia, tetapi juga makhluk lainnya. Para ilmuwan kini telah memperingatkan bahwa bencana tersebut mengancam suara-suara yang ada di alam. […]