Peneliti: Pola Aliansi Geopolitik Global Bukan Barat dan Timur Lagi

by | Nov 15, 2023

Ekonomi | Internasional | Politik

FOMOMEDIA – Dunia sudah berubah, aliansi geopolitik Barat dan Timur pun dianggap sudah tidak relevan lagi. Negara “Barat” kini mengalami kemunduran.

Kemenangan Amerika Serikat (AS) dalam Perang Dingin membuat Blok Barat begitu dominan. Bahkan, penyebutan nama aliansi geopolitik tersebut masih dikenal hingga sekarang. Namun, penggunaan aliansi Blok Barat ternyata sudah tidak berlaku lagi.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh European Council on Foreign Relations (ECFR) bekerja sama dengan Universitas Oxford, menyurvei 21 negara. Hasilnya, dari 21 negara tersebut menunjukkan bahwa aliansi geopolitik tidak lagi sesuai dengan kerangka “Barat melawan negara lain”.

Menurut laporan peneliti yang dinukil oleh The Guardian, saat ini banyak negara-negara Barat yang berpendapat bahwa perekonomian mereka sedang mengalami kemunduran. Penelitian tersebut juga menyebut bahwa banyak orang di luar Eropa yang menginginkan adanya peran China untuk lebih aktif dalam perekonomian mereka.

Selain itu, dari hasil survei, banyak negara yang percaya bahwa Rusia bisa memenangi perang melawan Ukraina. Sementara itu, laporan itu juga menyebut bahwa Uni Eropa (UE) digadang akan bubar dalam 20 tahun ke depan.

Di sisi lain, dalam penelitian tersebut, para peneliti berkesimpulan bahwa saat ini Eropa dan Amerika masih dipandang jauh lebih baik ketimbang wilayah lain. Meski demikian, bukan berarti keunggulan tersebut memengaruhi geopolitik masing-masing wilayah.

China Mendekat ke AS?

Meski sempat memanas, hubungan China dengan AS tetap baik-baik saja. Apalagi, pada Selasa (14/11/2023) kemarin, Presiden Xi Jinping memulai kunjungan pertamanya ke AS dalam enam tahun terakhir. Dalam kunjungan tersebut, Xi dijadwalkan bertemu dengan Joe Biden.

Kedua pemimpin negara itu dijadwalkan akan menghadiri pertemuan puncak tahunan forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Para pejabat AS menilai bahwa langkah tersebut semakin meredam perselisihan dua negara.

Selama ini diketahui bahwa China sangat dekat dengan Rusia. Dua negara tersebut menjadi salah satu lawan dominasi negara-negara Barat. 

Pertemuan dan kerja sama China-AS ini semakin mengikis definisi tradisional akan “Blok Barat”. Kini, pola geopolitik global dianggap semakin mencair.

“Dunia sedang berubah, dan ini tidak menguntungkan Eropa,” kata Ivan Krastev, salah seorang kolumnis di The Guardian.

Ekonomi Barat Lesu

Dalam penelitian terhadap 21 negara tersebut, dilakukan jajak pendapat. Survei menunjukkan negara-negara Barat yang berpendapat bahwa perekonomian sedang mengalami penurunan. Terdapat 47 persen responden di AS dan 40 persen responden di Korea Selatan merasa pesimistis terhadap masa depan negara mereka.

Sementara 86 persen responden di India, 74 persen responden di Indonesia, dan 69 persen di China merasa optimistis terhadap kondisi mereka. 

Meski demikian, AS tetap diunggulkan dalam hal kepemimpinan geopolitik. Apalagi, negeri Paman Sam mampu merangkul beberapa negara yang sudah menjadi sekutunya sejak lama dengan kekuatan ekonomi cukup kuat.

Sementara, nasib UE yang dianggap akan bubar dalam 20 tahun ke depan lantaran pengaruh konflik Rusia dan Ukraina. Saat ini saja, UE dihadapkan dengan kredibilitas sikapnya dalam perang sesama negara di Eropa itu.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan baru-baru ini menemukan fakta menarik terkait fosil manusia. Mayat berusia 2.000 tahun yang diketahui berasal dari Rusia bagian selatan bisa sampai di pedesaan Inggris. […]