Peneliti DNA Pecahkan Misteri Mayat Berusia 2.000 Tahun

by | Dec 24, 2023

Arkeologi | Berita Unik | Riset

FOMOMEDIAMayat berusia 2.000 tahun yang berasal dari masa Kekaisaran Romawi terkuak. Ditemukan di pedesaan Inggris, tapi asal dari Rusia selatan.

Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan baru-baru ini menemukan fakta menarik terkait fosil manusia. Mayat berusia 2.000 tahun yang diketahui berasal dari Rusia bagian selatan bisa sampai di pedesaan Inggris.

Menurut laporan Sky News, mayat itu hidup pada masa Kekaisaran Romawi. Mayat yang sudah menjadi tulang belulang tersebut berasal dari kelompok nomaden.

Dari penelitian itu pun menunjukkan adanya penemuan penting. Pasalnya, kerangka yang ditemukan di Cambridgeshire, Inggris, merupakan pria yang berasal dari kelompok yang dikenal sebagai Sarmatians (sebutan untuk orang Sarmati).

“Ini adalah bukti biologis pertama bahwa orang-orang ini datang ke Inggris dari wilayah terjauh Kekaisaran Romawi dan beberapa tinggal di pedesaan,” tulis laporan Sky News.

Meneliti Etnis Lewat DNA

Dalam penelitian itu, tulang fosil manusia yang berusia ribuan tahun diteliti dari DNA-nya. Hasilnya, etnis seseorang dengan usia ribuan tahun bisa diketahui.

Sementara itu, tulang fosil manusia yang berusia 2.000 tahun itu diketahui seorang pria. Para peneliti memberi nama Offord Clunny 203645. Nama itu merupakan kombinasi antara tempat dia ditemukan dan nomor spesimennya.

“Ini tidak seperti pengujian DNA seseorang yang masih hidup,” kata Marina Silva, seorang doktor berasal dari Laboratorium Genomik Kuno di Francis Crick Institute, London, dikutip dari Sky News.

Baca juga:

“DNA-nya sangat terfragmentasi dan rusak. Namun, kami mampu (memecahkan kodenya) dalam jumlah yang cukup,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Silva menjelaskan bahwa ia melihat secara genetik tulang fosil dari Offord sangat berbeda dengan individu keturunan Romawi maupun Inggris. Sejauh itu, Offord dianggap berbeda dari penemuan sebelumnya.

Pada awal penelitian, para peneliti yang berasal dari arkeolog menganggap bahwa Offord sebagai penemuan yang biasa-biasa saja. Namun, menurut analisis DNA, diketahui bahwa pria itu berasal dari wilayah terjauh Kekaisaran Romawi, yakni berada di selatan Rusia, Armenia, dan Ukraina.

Analisis Menggunakan Struktur Gigi

Untuk menemukan jawaban mengenai cara Offord bisa berakhir dari rumahnya, Departemen Arkeologi Universitas Durham, Inggris, memiliki jawaban tersendiri. Salah satunya adalah dengan memeriksa bagian gigi.

Gigi merupakan bagian penting dari manusia. Apalagi, bagian tubuh itu terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Dari hasil analisis departemen arkeologi itu, hasilnya menunjukkan bahwa hingga usia enam tahun, Offord telah mengonsumsi millet dan biji-bijian sorgum. Tumbuhan dan jenis pangan itu banyak tumbuh di wilayah tempat tinggal orang Sarmati.

Hasil analisis juga menunjukkan bahwa konsumsi biji-bijian sempat menurun secara bertahap. Offord san orang-orang yang hidup pada masanya lebih banyak mengonsumsi gandum.

“(Analisis) tersebut memberi tahu kita bahwa dia, dan bukan nenek moyangnya, yang melakukan perjalanan ke Inggris. Ketika dia tumbuh dewasa, dia bermigrasi ke barat, dan tanaman-tanaman ini menghilang dari makanannya,” kata Janet Montgomery, salah satu profesor dari Departemen Arkeologi Universitas Durham.

Begitulah mengenai adanya penemuan tentang tulang fosil manusia yang berusia 2.000 tahun. Penelitian menggunakan DNA itu juga semakin membuat perspektif para peneliti tentang masa lalu lebih beragam.

Penulis: Sunardi

Editor: Safar

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Sebuah sampel DNA dari zaman paleolitikum digali oleh para ilmuwan. Pencarian DNA dari masa 100 hingga 200 ribu tahun sebelum Masehi (SM) itu dilakukan untuk membantu tanaman masa kini supaya tahan cuaca ekstrem. […]

[…] Sebuah sampel DNA dari zaman paleolitikum digali oleh para ilmuwan. Pencarian DNA dari masa 100 hingga 200 ribu tahun sebelum Masehi (SM) itu dilakukan untuk membantu tanaman masa kini supaya tahan cuaca ekstrem. […]