Emang Benar Penduduk Jogja Bahagia Walau UMR Rendah?

by | Mar 17, 2023

Ekonomi | Jogja | Sosial

FOMOMEDIA – Kami bertanya kepada orang Jogja, benar gak, sih, mereka bahagia meski UMR rendah dan ada banyak masalah lain di sana?

Perbincangan soal Jogja di media sosial senantiasa didominasi oleh perdebatan antara narasi “Jogja terbuat dari rindu dan angkringan” dan “Jogja terbuat dari klitih dan UMR rendah”. Tiap kali ada pihak yang meromantisasi rindu dan angkringan, selalu ada bantahan yang menunjukkan realitas kelam daerah istimewa tersebut.

Pada Selasa (7/2/2023) dini hari WIB, netizen Jogja beramai-ramai mengunggah sebuah video yang menunjukkan aksi kekerasan di sekitaran Nol Kilometer. Kronologinya tidak terlalu jelas. Akan tetapi, bisa disaksikan bahwa ada dua orang yang, dari logatnya, tidak terdengar seperti orang asli Jogja, menjadi korban kekerasan yang dilakukan empat orang berkendaraan sepeda motor.

“…. sumpah demi Allah, bawa senjata, anj**g,” ucap salah seorang laki-laki yang menjadi korban kekerasan tersebut. Syukurnya, dari video yang beredar, kita bisa melihat bahwa dua korban itu tidak mengalami luka serius. Hanya, sepeda motor mereka terlihat ambruk dan kemungkinan mengalami kerusakan.

Orang Jogja menyebut tindak kekerasan acak seperti itu dengan sebutan klitih. Biasanya, ia dilakukan oleh remaja laki-laki yang duduk di bangku SMP atau SMA pada malam hari saat aktivitas belajar-mengajar sedang libur. Para pelaku klitih juga biasanya mengendarai sepeda motor agar bisa cepat kabur usai menyakiti korbannya. Korbannya sendiri sangat beragam. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semua bisa jadi sasaran.

Sepintas, klitih mirip dengan pembegalan. Tapi, yang membedakan keduanya  adalah motif. Jika pembegalan dilakukan untuk merampas harta benda korban, klitih lebih “murni”. Para pelaku klitih hanya ingin menyakiti korban dan ini biasanya dilakukan untuk unjuk eksistensi.

Pelaku klitih ditangkap polisi. (Foto: Kompas/Markus Yuwono)

Klitih sendiri sudah mengalami degradasi makna. Aslinya, orang yang melakukan klitih berarti sedang pergi keluar rumah untuk mengisi waktu luang. Namun, menurut Suara.com, sejak awal 1990-an, seiring dengan bermunculannya geng-geng remaja di Jogja, klitih berubah makna jadi menyerang seseorang secara acak.

Persoalan klitih sendiri sudah berulang kali dikeluhkan warga Jogja dan juga turis. Bahkan, ada di antara mereka yang sampai main hakim sendiri lantaran gemas dengan minimnya tindakan yang dilakukan pihak berwajib untuk mengatasi persoalan tersebut. Berulang kali di media sosial muncul video yang menunjukkan para pelaku klitih tengah dihakimi massa.

Celakanya, pemerintah setempat justru tidak menganggap klitih sebagai persoalan besar. Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, misalnya, menyebut klitih “bukan kenakalan remaja tapi [bentuk] kreativitas”. Selain itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga pernah berkata bahwa klitih bisa ditangani tapi butuh biaya besar.

Klitih, pada akhirnya, menjadi masalah lain yang harus dihadapi masyarakat. Sudah UMR-nya rendah, hidup pun jadi tidak aman. Nah, kalau sudah begini, masih relevankah pernyataan “meski UMR rendah, masyarakat Jogja tetap bahagia”?

Ya, pernyataan seperti itu benar adanya. 21 Januari 2023, dalam sebuah video pendek yang diunggah akun Facebook Pemkab Bantul, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengeluarkan pernyataan kontroversial yang lantas jadi viral. “Walaupun miskin, tapi bahagia. Bagi pemerintah saya sendiri tidak terlalu risau bahwa DIY dikatakan miskin. Mengapa saya tidak risau? Karena jaminan sosial yang kita sediakan untuk masyarakat miskin terus kita siapkan,” kata Halim, dikutip dari Bisnis.com.

Sepekan setelahnya, pada 28 Januari 2023, Katadata menerbitkan sebuah artikel yang berusaha membuktikan kebenaran pernyataan Halim. Hasilnya, berdasarkan data Katadata, pernyataan sang bupati sama sekali tidak benar. Katadata menemukan bahwa peringkat nasional Jogja dalam indeks kebahagiaan terus mengalami penurunan dari 2014 hingga 2021.

Suasana Tugu Jogja. (Foto: Unsplash)

Pada 2014, Jogja berada di urutan ke-6 di Indonesia. Lalu, pada 2017, Jogja turun dua peringkat ke urutan ke-8. Empat tahun kemudian, Jogja bahkan tak ada lagi di 10 besar. Peringkat mereka melorot jauh ke posisi 22. Bahkan, di Pulau Jawa saja, Jogja sudah kalah dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Artinya, dalam satu dasawarsa termutakhir, kualitas kebahagiaan Jogja terus menurun.

UMR rendah, khususnya, membuat Jogja jadi provinsi dengan persentase pengeluaran terhadap pendapatan paling tinggi (27,8%) se-Jawa. Sebagai perbandingan, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah ada di angka 24%, Banten 22,5%, sementara DKI Jakarta 15,8%.

Sudah begitu, di aspek-aspek kehidupan krusial lainnya seperti pendidikan dan kesehatan, Jogja pun memendam masalah besar. Meski dikenal sebagai “Kota Pelajar”, nyatanya angka melek huruf Jogja adalah yang terendah ke-9 di Indonesia. Di bidang kesehatan, Jogja menjadi provinsi dengan prevalensi (jumlah kasus suatu penyakit dalam suatu populasi pada suatu, red.) kanker tertinggi se-Indonesia. Prevalensi Jogja (4,86 per mil) jauh di atas prevalensi provinsi lain yang berkisar di angka 1-2 per mil.

Nah, Katadata sudah merilis bantahan. Akan tetapi, itu tidak menghapus rasa penasaran kami dari FomoMedia. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk bertanya kepada beberapa penduduk Jogja untuk mencari tahu seberapa bahagia, sih, sebenarnya mereka?

Nar (26), seorang pekerja media daring, sedikit “mencak-mencak” ketika kami memulai percakapan dengan menyitir ucapan Bupati Bantul tentang kebahagiaan warga Jogja tadi.

“UMR rendah dan tetap bahagia itu menurutku pernyataan yang ngawur. Dia bisa ngomong bahagia itu dari mana datanya?” kata Nar.

“Di Jogja aja jadi salah satu wilayah dengan ketimpangan sosial paling tinggi di Indonesia. Itu bisa dicek di BPS. Masak ada wilayah dengan ketimpangan sosial paling tinggi bisa bahagia? Menurutku bukan masalah valid atau enggak, tapi ngawur pernyataan itu.”

Perkara kebahagiaan ini, YH, seorang redaktur di sebuah penerbitan, punya pandangan sedikit berbeda. Menurut perempuan 34 tahun tersebut, warga Jogja itu, ya, bahagia-bahagia saja.

“Cuma, menurutku bahagianya tuh bukan karena faktor eksternal seperti harga murah, fasilitas kesehatan merata, pembangunannya bagus, atau semisalnya. Bahagia orang Jogja itu, menurutku pribadi, ya, dari filosofi kehidupan mereka.  Misal, urip iki dilakoni wae (hidup itu dijalani saja, red.),” papar YH. 

“Jadi apa, ya? [Kebahagiaan mereka itu berasal dari] spiritualitasnya kali, ya. Spiritualitas dalam hal ini gak terbatas pada religiositas tapi, ya,” sambungnya.

Sekarang, pertanyaannya, apakah mereka sendiri bahagia?

“Aku bisa dibilang cukup bahagia karena, secara sosial ekonomi, aku masih gabung dengan orang tua. Terus, lingkungan pertemananku juga asyik. Gak mandang semua dari sisi materi. Nemu orang yang mau bantu tanpa sesama juga masih ada,” ungkap YH,

Sementara itu, Nar berujar, “Bahagia itu ‘kan relatif dan subjektif, ya. Aku memilih di Jogja bukan masalah bahagia atau enggak, tapi ada alasan lain yg menyuruhku untuk tetap di Jogja. Kalau misal milih di Jogja atau pulang, aku milih pulang, sih.”

“Dari skala 1-5, nilai kebahagiaanku di angka 3, sih, karena di Jogja terlalu kompleks masalahnya,” tambah Nar.

Sedang bagi YH, skor kebahagiaannya di Jogja sedikit lebih tinggi dari Nar, yaitu 3,75. Namun, tentunya, angka itu bukan nilai sempurna.

“Yang bikin gak bahagia, aku gemas sama oligarki di Jogja. Lagipula, dari semua sisi positif dan negatif di Jogja, aku selalu ingin hidup di luar Jogja saat ada kesempatan,” tutup YH.

Penulis: Yoga

Editor: Irwan

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

[…] satunya yakni mempertanyakan tarif open BO di Yogyakarta yang jauh lebih mahal dibanding dengan upah minimum provinsi (UMP) tahun […]

s gate

I am a student of BAK College. The recent paper competition gave me a lot of headaches, and I checked a lot of information. Finally, after reading your article, it suddenly dawned on me that I can still have such an idea. grateful. But I still have some questions, hope you can help me.