Myanmar Jadi Produsen Opium Terbesar di Dunia

by | Dec 13, 2023

Internasional | Myanmar | Narkoba

FOMOMEDIA – Selain sebagai penghasilan untuk hidup, penjualan opium juga berperan dalam mendanai kelompok pro demokrasi Myanmar.

Myanmar akhirnya dinobatkan sebagai negara produsen opium terbesar sejagat 2023. Myanmar dianggap telah mengalahkan Afganistan dan Kolombia dalam mengedarkan barang haram itu.

Menurut laporan PBB, produksi opium Myanmar mampu melampaui Afganistan. Pada 2023 ini, menukil laporan BBC, produksi opium di Myanmar diperkirakan meningkat 36 persen, yakni mencapai 1.080 ton.

Sementara, Afganistan mengalami penurunan budidaya opium. Sejak dikuasai oleh Taliban, produksi opium di Afganistan turun sebanyak 95 persen.

Berbanding terbalik dengan negara itu, sejak dikuasai oleh junta militer pada 2021, Myanmar justru semakin masif memproduksi opium. 

Opium sendiri merupakan jenis tanaman yang menjadi bahan baku produksi heroin. Biasanya, jenis tanaman ini akan diambil getahnya yang memiliki efek memabukkan dan mampu membius. 

Selain itu, ketika seseorang sudah menggunakan jenis narkotika ini, efek candu akan dirasakan.

Menjadi Sumber Pendapatan

Berbeda dengan Indonesia yang secara tegas melarang produksi opium, di Myanmar tanaman tersebut seperti membawa berkah tersendiri. Pasalnya, sejak perang saudara, produksi tanaman tersebut menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.

“Gangguan ekonomi, keamanan, dan pemerintahan yang terjadi setelah pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada Februari 2021 terus mendorong petani di daerah terpencil untuk beralih ke opium untuk mencari nafkah,” kata Jeremy Douglas, perwakilan PBB di bidang Narkoba dan Kejahatan (UNODC), dikutip dari BBC.

Selain dijadikan sumber pendapatan, produksi opium secara massal di negara itu juga ditujukan untuk mendanai kelompok pro demokrasi atau mereka yang dianggap pemberontak. Walhasil, ketika junta militer berkuasa, produksi opium justru meningkat sebesar 21 persen.

Beberapa wilayah di Myanmar yang memiliki produksi opium besar yakni Shan, Chin, dan Kachin. Di tiga negara bagian tersebut masih terdapat markas kelompok pemberontak yang berperang melawan junta militer.

Di Myanmar, tidak ada larangan dari negara untuk menanam jenis tanaman yang memiliki nama latin Papaver sommiferum itu. Malahan, dengan harganya yang memikat, banyak orang yang akhirnya terjun membudidayakan opium.

Pandemi Covid-19 telah perekonomian masyarakat Myanmar terpukul. Namun, berkat opium, mereka bisa bangkit.

Budidaya opium dianggap mudah dijalankan. Apalagi, tanaman tersebut tidak membutuhkan cara yang ribet hingga masa panen tiba.

Sementara itu, sejalan dengan banyaknya produksi opium, Myanmar pun dianggap telah mengekspor heroin sebanyak 154 ton. Dengan jumlah tersebut, diduga telah keluar melalui perbatasan Myanmar ke Thailand dan Laos.

Dari penjualan heroin, setidaknya 2,2 miliar dolar Amerika Serikat masuk ke Negeri Seribu Pagoda itu.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa Myanmar saat ini berada di jurang krisis ekonomi. Bantuan dana sebesar 1 miliar dolar Amerika Serikat dibutuhkan untuk menyelamatkan negara […]