Minuman Choco Mint Jadi Simbol Pengkhianatan Politik di Thailand

by | Jul 26, 2023

Internasional | Makanan | Minuman | Pita Limjaroenrat | Politik | Thailand

FOMOMEDIA – Simbolisme dalam dunia politik kerap terjadi. Kini, minuman choco mint jadi korban panasnya suhu politik di Thailand.

Dunia politik di Thailand semakin panas usai dua kali pemimpin partai anak muda progresif Move Forward, Pita Limjaroenrat, gagal dalam pemilihan perdana menteri (PM) baru. Meningkatnya suhu politik tersebut bahkan sampai ke ranah minuman.

Akhir-akhir ini bagi sebagian orang Thailand tiba-tiba minuman choco mint memiliki rasa “tidak enak”. Rasa “tidak enak” muncul lantaran minuman tersebut tiba-tiba terseret ke dalam arus utama politik di negeri Gajah Putih.

Minuman choco mint dianggap sebagai salah satu simbol atau representasi dari Paetongtarn Shinawatra, salah satu kandidat perdana menteri yang diajukan oleh partai Pheu Thai. Menjelang pemilihan PM pada Kamis (27/7) besok, Paetongtarn sering berfoto memegang minuman choco mint

Cerita Instagram Paetongtarn Shinawatra. (Instagram/ingshin21)

Paetongtarn tak hanya memegang, bahkan perempuan berkebangsaan Amerika Serikat dan Thailand itu mengunggah minuman tersebut di cerita Instagram-nya. Kini, minuman tersebut sangat identik dengan Paetongtarn.

Hal itulah yang menyebabkan minuman choco mint dibenci sebagian masyarakat Thailand. Kebencian tersebut seperti adanya sikap beberapa restoran, kedai minuman, dan kafe telah menangguhkan penjualan jenis minuman itu. Bahkan, ada juga kafe yang secara terang-terangan menghapus choco mint dari menu utama.

Pheu Thai Berkhianat?

Dalam pemilu Thailand yang digelar pada Mei 2023 lalu, Partai Move Forward berhasil mendapatkan suara terbanyak masyarakat Thailand dengan total 151 kursi parlemen. Sementara, di posisi kedua ada Partai Pheu Thai dengan total 141 kursi.

Dua partai tersebut akhirnya membentuk koalisi bersama dengan total delapan partai. Koalisi tersebut mengusung Pita Limjaroenrat untuk maju sebagai PM Thailand yang baru. Namun, usaha koalisi tersebut mengalami berbagai sandungan.

Sandungan itu mulai dari Pita yang dijegal masalah hukum, hingga susahnya mendapatkan dukungan dari para senat. Pita pun akhirnya dinyatakan gagal dalam pemilihan PM lantaran terjerat masalah kepemilikan saham media—politikus di Thailand dilarang undang-undang untuk memiliki perusahaan media.

Dengan kegagalan dua kali itu, politik di Thailand mengalami kebuntuan. Hingga akhirnya muncul adanya opsi ketiga, yakni calon yang berasal dari Pheu Thai yang menjadi partai di peringkat kedua.

Kini, Pheu Thai memiliki dua opsi calon dari partainya. Beberapa nama muncul sebagai kandidat pengganti Pita, mulai dari Srettha Thavisin dan Paetongtarn Shinawatra adalah dua sosok yang bisa maju menjadi PM Thailand.

Namun, meski Pheu Thai di atas kertas sejalan dengan Move Forward, banyak pendukung Pita yang takut partai yang didirikan Thaksin Shinawatra itu akan berkhianat. Pheu Thai dikhawatirkan akan menarik kesepakatan dan janji-janji yang telah diberikan.

Dugaan pengkhianatan tersebut mulai muncul setelah pertemuan koalisi delapan partai unggulan di Thailand pada Selasa (25/7) kemarin ditunda. Menurut Punchada Sirivunnabood, seorang profesor di Universitas Mahidol, Thailand, mengatakan bahwa Pheu Thai memiliki kemungkinan bisa dengan cara eksplisit meninggalkan mitranya dalam pemilihan PM.

“Ini akan sangat buruk [secara elektoral] jika mereka [Pheu Thai] meninggalkan koalisi. Partai Move Forward akan menggunakan ini sebagai cara untuk mendapatkan lebih banyak suara di pemilu berikutnya,” kata Punchada, dikutip dari The Guardian.

Terbaru, menurut laporan The Guardian, Pheu Thai telah bertemu dengan partai-partai yang terkait dengan kandidat militer dan sekutu mereka. Dalam pertemuan pada Minggu (23/7) itu, mereka difoto tengah berbagai roti panggang dan minuman cokelat min.

Kini, minuman choco mint dianggap sebagai simbol pengkhianatan, kecuali Pheu Thai masih sejalan dengan Move Forward.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] ilmuwan bekerja sama dengan produsen cokelat di Swiss dalam mengembangkan konsep produksi ramah […]

[…] Dalam pemilu tersebut, PRK di bawah pimpinan Hun Sen dianggap tidak bebas dan adil. Hal tersebut lantaran partai oposisi utama di Kamboja dilarang untuk ikut pemilu. […]