Mengukur Batas Open Minded dari Perspektif Anak Muda

by | Jan 19, 2023

Psikologi | Sosial
Open minded

FOMOMEDIA – Orang-orang yang melabeli diri sebagai yang paling open minded sering ditemukan saat ini, terkhusus di tengah perdebatan di media sosial. Tapi, mereka benar-benar open gak sih?

“Enggak open minded elo orangnya…..” kalimat tersebut pastinya pernah kita dengar saat di tongkrongan, terutama ketika membahas sesuatu hal-hal yang tabu dan sensitif. 

Mulai sekarang, bila ada teman kamu yang masih bicara seperti itu lebih baik cuekin saja dan jangan jadi baper. Sebab, dia belum paham makna open minded sesungguhnya. 

Boleh jadi, teman kamu itu termasuk golongan ‘pengidap’ Dunning-Kruger Effect. Dunning-Kruger Effect adalah bias kognitif ketika seseorang yang tidak memiliki kemampuan mengalami superioritas ilusif. Artinya, ia merasa lebih open minded daripada orang lain. 

Oleh sebab itu, menjadi open minded itu tidak selalu mudah, karena kadang kita berhadapan dengan kebingungan dan disonansi kognitif ketika mempelajari hal-hal baru yang bertentangan dengan keyakinan yang kita miliki.

John Brown, seorang psikolog dan konsultan pengembangan organisasi di EPIC Insurance Brokers & Consultants, menyebutkan bahwa menjadi open minded sebenarnya seperti mengadu mental dan intuisi untuk saling berlawanan.

Brown menambahkan, dalam otak manusia terdapat sebuah ‘skema’ yang terbentuk dari pengalaman hidup, keyakinan, penguatan sosial, dan lain sebagainya. Ketika informasi baru didapatkan, manusia akan menyesuaikan dengan skema yang ada.

Namun, realitasnya saat ini, sebagian masyarakat mengartikan open minded sebagai tindakan menyetujui atau menerima mentah-mentah sesuatu yang terjadi, sesuatu yang baru, maupun sesuatu yang berbeda. Fenomena ini disebabkan hilangnya skeptisisme di antara kita. 

Mengutip artikel dari Psychology Today berjudul “Open-Mindedness and Skepticism in Critical Thinking”, orang-orang yang skeptis juga melakukan hal yang sama dengan pribadi yang open minded. Mereka menantang gagasan dan menahan penilaian sampai bukti yang cukup diberikan dan terbuka terhadap semua kemungkinan sampai bukti yang cukup disajikan. Skeptisisme dan keterbukaan pikiran berjalan beriringan, tetapi mungkin tidak terlihat seperti itu dari permukaan.

Karena itu, pribadi berpikiran terbuka yang benar dan baik juga harus memiliki sikap kritis di tengah berseliwerannya informasi baru yang deras pada media sosial yang belum jelas kebenarannya, terutama di media sosial yang sedang digandrungi masyarakat dunia, yaitu TikTok.

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Sage Journal pada Juli 2022, lebih dari 50 persen konten mengenai gangguan mental Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang beredar di platform video TikTok adalah hoaks alias misinformasi.

Lantas, bagaimana anak muda itu sendiri memaknai open minded?

Baca juga: Anak Muda Tetap Mau Jadi PNS?

Perspektif anak muda tentang open minded

“Open minded itu pastinya pemikiran yang terbuka dari diri sendiri. Biasanya, sih, lebih ke arah yang positif atau perspektif lain dari suatu kejadian atau pemikiran. Misalkan ada suatu masalah, gak bisa dilihat dari satu sisi aja, dari sisi lain juga bisa.” kata Ihza (25).

Dalam wawancara melalui WhatsApp, pemuda yang berprofesi sebagai Social Media Specialist pada perusahaan periklanan di bilangan Jakarta Selatan itu mengungkapkan, berpikiran terbuka tergantung dari seberapa besar wawasan orang tersebut.

Omongan Ihza selaras dengan tulisan Haran, Ritov, dan Mellers pada jurnal The Role of Actively Open-Minded Thinking in Information Acquisition, Accuracy, and Calibration tahun 2013. Di dalam jurnal tersebut, dijelaskan bahwa seseorang dengan open minded akan lebih cermat dalam memproses informasi dan lebih berhasil dalam memperoleh pemecahan yang tepat.

Selain Ihza, pendapat lain dari Indira (25) menyatakan bahwa berpikiran terbuka adalah menerima opini orang lain.

Open minded itu berarti bisa terbuka dan nerima opini orang lain,” kata Indira.

Dia bercerita tentang beberapa temannya yang open minded bertolak-belakang dengan pemahaman-nya itu sendiri.

“Ada. Tapi nggak banyak yang gak bisa nerima opini orang lain yang beda sama dia,” tutur perempuan yang sedang melanjutkan studi S2 di Fakultas Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, itu.

Dia langsung memberikan contohnya pada momen-momen saat diskusi di kelas kuliahnya, ketika membahas topik-topik moral, seperti isu pelegalan LGBTQ dan hubungan seksual pranikah, teman-teman dia yang mengaku open minded memaksa pemikirannya harus diterima.

“Paling banyak pas di kuliah, soal topik-topik moral sih, kayak soal sex before marriage, LGBT, dan lain-lain,” ujar Indira.

Mengutip tirto.id, Professor dari Dartmouth College, Brendan Nyhan, dan Jason Reifler, Professor University of Exeter, menyatakan bahwa kontradiksi fakta dapat membuat keyakinan ideologis seseorang menjadi lebih kuat. Sangkalan malah meningkatkan mispersepsi antarkelompok karena itu mengancam pandangan filosofis mereka.

Nah, sederhananya, saat perang pendapat terjadi, orang yang awalnya ingin memiliki pikiran terbuka pada pandangan dari lawan bicara malah lebih menjadi yakin terhadap pendapatnya. Kedua pihak cenderung defensif pada pendapatnya masing-masing, hingga tak jarang mengaburkan logika dan emosi pun memuncak.

Namun, ternyata individu open minded ternyata juga bisa mengalami keraguan dalam keyakinan atau pikirannya. Demikian menurut Hanifah, seorang psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.

“Hanya saja kita perlu memahami, bahwa walaupun kita menganggap diri sebagai pribadi yang berpikiran terbuka, bisa saja ada isu tertentu yang membuat kita sulit mengambil sikap,” kata Hanifah, dikutip dari artikel Limone.

Misalnya, ketika kita memiliki keyakinan yang kuat terkait nilai-nilai yang tumbuh diajarkan oleh keluarga atau orang tua kita atau keyakinan terkait agama yang kita anut.

Open-minded memang terkesan seperti terbuka pikiran yang mengarah pada kebebasan diterimanya semua pendapat, padahal perlu adanya pertimbangan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Open minded

Degradasi Makna Open Minded

Saat ini, makna open minded bagi sebagian pengguna media sosial kerap dianggap sebagai golongan orang-orang yang sering menolak hukum agama, budaya nenek moyang, maupun nilai dan norma yang dianggap tidak pas dengan kehidupan modern. 

Open minded pun menjadi paradoks. Ketika ada pihak yang tidak menyetujui sebuah pendapat, maka pihak tersebut akan dicap salah, intoleran, dan tidak humanis.

Popon Kerok, seorang komedian yang menjadi juara pertama lomba stand up comedy SUCI 8 di Kompas TV, resah melihat fenomena ini dan bahkan dia sendiri menjadi “korban” cyberbullying oleh golongan open minded. Oleh karena itu, dia pun mengadakan pertunjukkan tunggal dengan judul ‘Popon Minded’. 

Padahal, seperti halnya prinsip demokrasi yang dianut oleh negara kita, open minded yang baik dan benar memiliki batas. Prinsip demokrasi ini tertuang dalam Undang-Undang no. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 23 ayat 2, yang berbunyi: 

“Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan negara.”

Bahkan di Amerika Serikat, negara kiblat freedom of speech di dunia, kebebasan berpendapat dan berekspresi para warga negaranya tetap memiliki batasan-batasan yang diatur di dalam konstitusi.  

Sebagaimana kata penemu teknologi starter motor elektrik serta freon untuk kulkas dan AC dapat menyimpulkan keseluruhan tulisan ini.

Where there is an open mind, there will always be a frontier” – Charles F. Kettering.

Penulis: Levy

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments