Marak Kehamilan di Luar Nikah, Pendidikan Seks Indonesia Buruk?

by | Jul 18, 2023

Kekerasan Seksual | Kesehatan | Perempuan | Sosial

FOMOMEDIA – Tingginya kasus hamil di luar nikah berkelindan dengan tingginya kekerasan seksual. Kualitas pendidikan seks pun dipertanyakan.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan bahwa angka pernikahan anak di bawah umur di Indonesia turun dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, tren ini belum sepenuhnya bisa dipandang sebagai keberhasilan. Sebab, penurunan ini murni disebabkan adanya perubahan undang-undang soal batas minimal usia pernikahan bagi perempuan. Sementara, akar masalahnya yaitu kehamilan di bawah umur dan kekerasan terhadap perempuan masih belum teratasi.

BKKBN menggunakan jumlah kehamilan dan kelahiran sebagai parameter pernikahan usia dini. Perempuan yang hamil atau melahirkan pada usia 15-19 tahun, oleh BKKBN, dianggap telah menikah.

“Sepuluh tahun yang lalu, dari 1.000 perempuan, yang sudah melahirkan, hamil, dan nikah di bawah 19 tahun ada 36 orang,” kata Hasto, dikutip dari detik.com dengan perubahan seperlunya.

“Hari ini angkanya 26 per 1000, jadi ada penurunan. Target kami memang mencapai 22 per 1000. Jadi untuk yang hamil dan melahirkan pada usia di bawah 19 tahun tapi trennya menurun,” lanjutnya.

Meski demikian, sekali lagi, ada andil UU Pernikahan Tahun 2019 yang mengubah batas minimal usia pernikahan perempuan dari 16 menjadi 19 tahun. Dengan adanya peraturan tersebut, perempuan yang ingin menikah di usia 17 dan 18 tahun harus meminta dispensasi ke pengadilan agama. 

Menariknya, meski sudah ada aturan itu pun masih banyak permintaan dispensasi pernikahan usia anak yang diajukan ke pengadilan agama.

Menurut laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), permohonan dispensasi perkawinan usia anak pada tahun 2021 tercatat 65 ribu. Setahun berikutnya turun jadi 55 ribu pengajuan.

Tingginya pengajuan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor utamanya adalah karena pemohon perempuan sudah hamil terlebih dahulu. Sementara, faktor lainnya adalah dari orang tua yang menginginkan anaknya segera menikah lantaran sudah tidak memiliki teman dekat.

Minim Pendidikan Seks?

Pendidikan seks memang penting perlu diberikan pemahaman kepada para anak dan remaja. Mulai dari orang tua, lingkungan rumah, lingkungan sekolah punya peran dalam tumbuh dan kembang seorang anak. 

Namun, dengan melihat tingkat kehamilan di luar nikah yang masih tinggi, pendidikan seks pun jadi pertanyaan penting, sudah sejauh manakah?

Data yang dilaporkan oleh VOA Indonesia menyebut bahwa terdapat 5,2 persen pelajar usia 13-17 tahun yang telah melakukan hubungan seksual.

Dari sana, sekitar 32% di antaranya sudah berhubungan seks dengan menggunakan kondom. Namun, masih banyak yang belum sadar akan pentingnya berhubungan seks dengan aman.

Pasalnya, dari data yang sama, tercatat 7% perempuan usia 15-19 tahun telah melahirkan anak pertama. Kemudian, 6,3% remaja putri hamil pertama kali pada usia 17-18 tahun, dan 23,2% hamil pertama kali pada usia 19-20 tahun. Namun, tidak semua kasus kehamilan ini berasal dari hubungan seks yang konsensual.

Tingginya Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan

Data tingginya kasus hamil di luar nikah juga berkelindan dengan tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan. Korban kekerasan terhadap perempuan angkanya juga tak kalah tinggi.

Menurut data dari Kemen PPPA, per 18 Juli 2023 ini telah terdapat 13.905 kasus kekerasan. Dari total tersebut, laki-laki menjadi korban kekerasan dengan total 2.730 kasus. Sementara, perempuan menjadi korban kekerasan dengan angka sebanyak 12.407.

Dari total kekerasan yang menimpa perempuan tersebut, mayoritas berasal dari kekerasan seksual. Sementara, para korban kekerasan tersebut paling tinggi berada di usia 13 sampai 17 tahun. Kekerasan yang terjadi tersebut paling tinggi juga terjadi berdasarkan hubungan pacar atau teman.

Melihat data tersebut, rasanya sudah layak kita berkata bahwa Indonesia darurat pendidikan seks dan perlindungan terhadap perempuan, terutama yang masih di bawah umur.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] sebuah penampilan di Saturday Night Live. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk kecaman atas kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan Gereja […]

[…] II dalam sebuah penampilan di Saturday Night Live. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk kecaman atas kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan Gereja […]