Marak Kasus Bunuh Diri, Guru Korsel Tuntut Perlindungan Pemerintah

by | Sep 5, 2023

Internasional | Korea Selatan | Pelecehan Seksual | Pendidikan

FOMOMEDIA – Tingkat bunuh diri guru Korsel sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu sebab adalah lemahnya undang-undang perlindungan terhadap guru.

Para guru di Korea Selatan (Korsel) melakukan pemogokan massal sebagai bentuk protes atas pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang tua dan siswa. Bahkan, akibat kasus tersebut, terdapat beberapa staf yang akhirnya bunuh diri.

Menurut laporan The Guardian, meski perlindungan atas perundungan dan kekerasan seksual di kalangan pelajar sudah baik, perlindungan terhadap guru masih minim. Para guru pun melakukan mogok bersama untuk menuntut perlindungan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri.

Para guru yang mogok kerja itu pun berkumpul di Seoul pada Senin (4/9/2023) kemarin. Setidaknya, diperkirakan terdapat 50 ribu orang berpakaian hitam menghadiri aksi itu.

“Hak guru sama pentingnya dengan hak siswa. Kami juga diintimidasi oleh orang tua dan siswa, dan ini harus dihentikan,” kata Koh, seorang guru sekolah dasar yang bercerita kepada The Guardian.

Sementara itu, gerakan protes tersebut lantaran dipicu oleh kematian seorang guru sekolah dasar yang berusia 23 tahun. Guru tersebut ditemukan tewas di sekolahnya di Seoul karena bunuh diri pada 18 Juli 2023.

Salah satu dugaan kematian tersebut lantaran sang guru telah menerima kekerasan seksual. Menurut CNN, setelah diselidiki, diduga guru tersebut terlibat dalam perselisihan dua siswanya.

Guru itu pun sempat menghadiri pertemuan dengan kedua orang tua siswa. Bahkan, nomor pribadi sang guru pun sering dihubungi oleh orang tua siswa itu dan membuatnya merasa tidak nyaman.

Sejak saat itulah gerakan mogok guru semakin masif di seluruh penjuru Korsel. Mereka melakukan demonstrasi tiap akhir pekan dan menuntut peningkatan hak-hak guru.

Tingginya Angka Bunuh Diri Guru

Kasus kematian guru sekolah dasar di atas bukanlah pertama kali di Korsel. Bahkan, data pemerintah Korsel menyebutkan bahwa sudah terdapat 100 guru sekolah yang melakukan bunuh diri sejak 2018 hingga Juni 2023. Dari total tersebut, 57 di antaranya merupakan guru sekolah dasar.

Tidak dijelaskan secara rinci apa saja yang menjadi penyebabnya. Namun, salah satu faktor yang utama yakni terkait dengan pekerjaan mereka sebagai guru.

Selain itu, salah satu yang kini disalahkan yakni adanya undang-undang (UU) pelecehan anak yang dianggap kontroversial. UU yang diperkenalkan pada 2014 itu bisa menjerat para guru. Dalam UU tersebut, siapa pun yang mencuriga adanya kasus pelecehan terhadap anak dapat melaporkannya kepada pihak berwenang tanpa memberikan bukti.

Dari UU itulah seringkali membuat para guru jadi sasaran ketidakadilan oleh orang tua murid. Para guru di Korsel pun merasa menjadi target dan sering diremehkan.

“Undang-undang pencegahan pelecehan anak saat ini membatasi pengajaran dan bimbingan guru di kelas,” kata salah perempuan yang ikut menjadi bagian massa aksi protes di Seoul, dikutip dari CNN.

“Tentu saja, sebagian besar guru dan orang tua adalah orang baik, tetapi beberapa orang tua menyalahgunakan undang-undang ini dan menuntut guru atas pelecehan anak,” lanjutnya.

Janji Pemerintah

Sejak gelombang protes para guru Korsel meluas, pemerintah akhirnya memberikan sikap. Kementerian Pendidikan Korsel pun berjanji akan memperkuat dan mendorong UU yang bisa membedakan ranah pendidikan dengan kejahatan pelecehan terhadap anak.

Kementerian sekarang menyalahkan kementerian sebelumnya yang, alih-alih seimbang dengan guru, malah lebih menekankan pada hak asasi siswa saja.

Kini, Korsel sedang bergulat dengan tingginya bunuh diri guru. Akankah para guru di Negeri Ginseng itu bisa terlindungi?

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments