Jalur Lulus Selain Skripsi Lebih Mudah? Kata Siapa?

by | Sep 14, 2023

Kuliah | Mahasiswa | Skripsi

FOMOMEDIA – Ada cara lulus kuliah selain lewat skripsi. Tapi apakah cara itu lebih mudah? Lalu, mengapa skripsi sebetulnya masih penting bagi mahasiswa?

Dulu, saat masih mengerjakan skripsi dan tak kunjung konsultasi, orang-orang menertawai ketika saya beralasan “karena skripsi saya masih jelek.”

Saya pernah mendengar cerita senior dari kampus lain yang tesisnya dikembalikan tanpa diberi feedback. Kata dosen pembimbingnya, tulisannya terlalu buruk. Tapi rupanya, itu jarang terjadi, apalagi pada mahasiswa S1.

Kebanyakan kampus tidak menuntut skripsi untuk jadi bagus, apalagi jadi mahakarya. Kampus hanya ingin skripsimu selesai. Makin tepat waktu, makin bagus. Kalaupun telat, jangan sampai DO. Mungkin dari sinilah lahir ungkapan “Sebaik-baiknya skripsi adalah yang selesai.”

Sayangnya, karena satu dan lain hal, menyelesaikan skripsi kerap jadi momok bagi mahasiswa. Banyak yang kesulitan dan akhirnya meninggalkan skripsinya di tengah jalan. Banyak juga yang kesulitan, tapi tak mau putus kuliah, sehingga menggunakan jasa joki. Paling sedih adalah mereka yang kesulitan, tapi lantas depresi, lalu memilih mengakhiri hidup.

Permendikbudristek No. 53 tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi menawarkan perubahan yang terdengar menggembirakan. Salah satu poinnya, skripsi tidak lagi menjadi satu-satunya syarat kelulusan bagi mahasiswa S1 dan D4. Bentuk tugas akhir bisa berupa skripsi, prototipe, proyek, ataupun bentuk lain, dan dapat dikerjakan secara individu maupun berkelompok.

Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Foto: Kaltim Today)

Menurut Nadiem Makarim, syarat kelulusan seharusnya bukan ditentukan oleh Kemendikbud Ristek, tetapi oleh Kepala Program Studi (Kaprodi) dari masing-masing kampus. Bidang perkuliahan ada banyak dan beragam. Semestinya, kaprodi yang paling memahami cara terbaik menguji kompetensi mahasiswa. Bisa jadi, untuk mahasiswa vokasi yang bidangnya teknis, membuat proyek lebih efektif ketimbang menulis karya ilmiah.

Kenapa Selama Ini Kita Skripsian?

Perubahan ini memicu perbincangan. Tak semua orang memberi sambutan antusias. Beberapa kalangan khawatir, tak lagi mewajibkan skripsi justru akan berdampak buruk.

Perdebatan akan tugas akhir berupa skripsi atau proyek praktis pada dasarnya adalah perdebatan antara orientasi terhadap dunia intelektual dan orientasi terhadap dunia kerja.

“Mahasiswa semestinya bukan sekadar jadi pekerja.” kata Kukuh Basuki yang baru selesai menempuh studi S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM). “Mahasiswa itu semestinya jadi pemikir.”

Mengutip esai Bagus Muljadi, dalam budaya demokrasi, universitas adalah ruang untuk mencetak warga negara yang mampu berpikir sistematis. Gelar Baccalaureat (setara sarjana S1 di Indonesia) lahir pada 1808 setelah Revolusi Perancis, sebagai upaya menciptakan masyarakat yang egaliter dan meritokratik. Para sarjanalah yang akan menentukan kompeten tidaknya pemerintahan.

Salah satu format ujian untuk membuktikan bahwa seseorang memiliki basis pemikiran yang tertib, argumentatif, dan berbasis data adalah menulis skripsi. Cara berpikir dan intelektualitas dapat tercermin dari karya tulis.

Bentuk tulisan juga memudahkan untuk mengundang orang lain melakukan penelaahan sejawat. Cara ini membantu kampus menjaga kualitas lulusan.

Ilustrasi skripsi. (Foto: LKPP)

Skripsi, tesis, maupun disertasi pada dasarnya memang paksaan agar mahasiswa memperkuat basis ilmu.

Perangai Ilmiah Bukan Dibentuk Skripsi

Skripsi penting dalam menilai kualitas seorang sarjana, terutama dalam disiplin humaniora. Namun, skripsi mungkin tak sepenting itu jika universitas sebatas ingin mencetak tenaga kerja.

Kekhawatiran yang muncul dari tidak diwajibkannya lulus melalui skripsi adalah menurunnya kualitas intelektual sarjana. Dalam bahasa yang digunakan Fathul Wahid dalam esainya di Republika (9/4/2023): memudarnya “perangai ilmiah bangsa”.

Fathul Wahid khawatir, bila sarjana yang tak cakap menulis ilmiah semakin banyak, masyarakat akan semakin mudah termakan hoaks atau digiring opini yang tak sesuai fakta dan data. Kekhawatiran itu bisa dipahami, tapi kurang tepat sasaran. Toh, sarjana yang lulus dengan skripsi, banyak juga yang termakan hoaks dan mudah digiring opini.

Kekhawatiran itu semestinya tidak berakar pada mengerjakan atau tidak mengerjakan skripsi. Melainkan pada kultur akademis di kampus. Sudah seberapa terbiasakah para mahasiswa membaca banyak buku, melakukan diskusi ilmiah, dan mengartikulasikan pemikiran mereka secara sistematis berdasarkan fakta dan data?

Lemahnya perangai ilmiah para sarjana hari ini tidak terjadi karena mereka tak mengerjakan skripsi. Namun, karena perkuliahan bersemester-semester sebelum memulai skripsi gagal membentuk “perangai ilmiah”. Ini turut menjadi alasan kenapa banyak mahasiswa kesulitan selesaikan skripsi dan joki jadi marak.

Tugas Akhir pun Bisa Pertajam Basis Ilmu

“Ada skripsi ataupun tidak, semua mahasiswa akan tetap mengalami hal yang sama selama masih ada dosen pembimbing.” kata Zsazsa Yahya, mahasiswa S1 Psikologi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, menyitir kicauan yang pernah ia baca di sosial media X.

Ilustrasi perangai ilmiah.

Kampus Zsazsa masih menjadikan skripsi sebagai satu-satunya jalur kelulusan. Zsazsa sendiri sebenarnya lebih tertarik mengerjakan proyek. “Proyek sepertinya lebih memungkinkan mahasiswa untuk mengaplikasikan apa yang kita pelajari lewat praktik konkret,” kata laki-laki 23 tahun itu.

Kendati demikian, Zsazsa juga menyatakan bahwa sejumlah jurusan mungkin sulit menjadikan proyek sebagai tugas akhir. Zsazsa sendiri belum bisa membayangkan proyek macam apa yang bisa dibuat mahasiswa psikologi.

Zsazsa mencontohkan jurusan ilmu komunikasi sebagai jurusan yang lebih fleksibel. Seorang temannya yang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bisa lulus dengan tugas akhir berupa karya videografi.

Sebetulnya, membuat produk video tidak terbatas untuk mahasiswa ilmu komunikasi. Di UGM, yang sedari lama membolehkan opsi lulus selain skripsi, seorang mahasiswa Fisipol lulus dengan membuat film dokumenter.

Nabeel Omar membuat dokumenter Event Mewah, Kuli Susah. Sekira dua bulan, ia mewawancarai pekerja lepas di konser musik, penyelenggara event, hingga pengusaha di baliknya. Film itu mengurai relasi politik perburuhan di kalangan pekerja seni Yogyakarta.

Secara akademis, karya Nabeel dianggap setara dengan skripsi konvensional. Sebab, tetap memperlihatkan logika berpikir, penggunaan teori, dan analisa konsep.

BACA JUGA:

Dengan kata lain, meski skripsi telah teruji sebagai proses untuk memaksa mahasiswa mempertajam basis ilmunya, bukan berarti proyek tugas akhir tidak bisa mempertajam basis ilmu juga.

Kolaborasi Antarjurusan 

Hal yang jarang disinggung dari perbincangan tentang ini adalah kemungkinan kolaborasi antarjurusan.

“Di universitas luar negeri, seni dan sains itu digabung. Faculty of Arts and Science. Di sini, seni dan sains dipisah. Beda kampus. Kecuali mungkin di ITB,” ujar peneliti Rendra Agusta.

Renda mencontohkan cerita The Billion Dollar Code. Saat programmer dalam serial itu bingung bagaimana cara “memasukkan” bumi ke dalam komputer, temannya yang seorang seniman membagikan perspektifnya. Ilustrasi dari si seniman membantu si programmer menuliskan algoritma terravision, yang nantinya bernilai miliaran dolar.

Sedari konsepnya, Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mengarah pada kesempatan kolaborasi mahasiswa antarbidang. Poin bahwa tugas akhir bisa dikerjakan secara kelompok sebetulnya membuka potensi akan proyek interdisiplin. Mahasiswa bisa membuat proyek dengan mahasiswa dari jurusan lain, atau bahkan kampus lain

Misalnya, mahasiswa Antropologi UGM berkolaborasi dengan mahasiswa fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta untuk membuat pameran fotografi tentang kebudayaan di Gunungkidul.

Contoh tugas akhir fotografi. (Foto: Binus)

Bisa terwujud atau tidaknya kolaborasi semacam itu bergantung pada kebijakan kampus-kampus di masa mendatang.

Tetap Tidak Lebih Mudah

ISI Yogyakarta termasuk salah satu kampus yang sedari lama memberi dua opsi untuk lulus: melalui pengkajian dengan menulis skripsi, atau melalui penciptaan dengan karya seni.

Saat berkuliah di sana, saya memilih opsi skripsi karena alasan sederhana: membuat karya lebih mahal, lebih repot saat konsultasi, produksi, dan revisi, serta pada akhirnya tetap menulis laporan tugas akhir.

Di ISI, laporan tertulis menjadi bentuk pertanggungjawaban akan basis ilmu yang melandasi mahasiswa membuat karyanya.

Ini sejalan dengan pendapat Kukuh, “Proyek tugas akhir itu juga baik. Tapi tidak disuruh menulis skripsi, bisa jadi, menghilangkan kesempatan belajar.”

Opsi selain skripsi justru lebih merepotkan. Maka pada dasarnya, membuka opsi tugas akhir berupa proyek atau prototipe bukanlah untuk memudahkan mahasiswa lulus. Melainkan, untuk mewadahi mereka yang ingin mengejar passion, biarpun lebih repot.

Contoh tugas akhir teknik mesin.

Nabeel mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Ia sengaja menyajikan penelitiannya sebagai dokumenter karena ia ingin isu yang diangkatnya diakses oleh masyarakat luas, bukan hanya kalangan akademisi.

“Skripsi kerap jadi formalitas, jadi sampah kertas dan enggak ada yang baca,” kata Nabeel, dikutip dari Tempo.

Perlu digarisbawahi, karya tugas akhir Nabeel merupakan produk intelektual yang meninjau industri secara kritis. Ini menarik, mengingat salah satu catatan untuk program Nadiem adalah sangat berorientasi pada industri.

“Sejatinya pendidikan itu bukan hanya memenuhi kebutuhan pasar,” kata Rendra. Peran kampus bukan hanya membuat lulusannya terserap industri, tapi juga membuat mereka mampu menggali ide dan berpikir kritis agar dapat melihat dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru di masyarakat.

Jadi kalau kamu memilih proyek tugas akhir, apa pun itu, pastikan proyekmu tidak mehilangkan kesempatanmu untuk mempertajam basis ilmu dan berpikir kritis.

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments