Layanan BPJS Terhenti, Seorang Ibu Depresi Bunuh 2 Anaknya lalu Gantung Diri

by | Jun 19, 2023

BPJS Kesehatan | Kesehatan | Sosial

FOMOMEDIA – Seorang ibu depresi bunuh anaknya setelah layanan BPJS-nya terhenti karena tak sanggup lagi membayar iuran.

Kabar kematian seorang ibu dan dua anaknya di Jember, Jawa Timur, menyisakan duka tersendiri. Sang ibu (HS) memilih mengakhiri hidupnya setelah membunuh kedua anak kandungnya yang berinisial LN (7 tahun) dan SK (6 bulan).

Peristiwa yang terjadi pada Jumat (17/6/2023) dini hari itu diketahui oleh Agus, suami HS. Ia menemukan ketiganya telah tidak bernyawa di dalam kamar selepas pulang dari jualan makanan.

HS membunuh anak pertama dan ketiganya. Sementara, dari peristiwa tersebut anak kedua HS selamat.

LN sebagai anak pertama mengalami luka jeratan di lehernya. Sedangkan, SK yang masih balita mengalami luka lebam akibat benda tumpul di kepala dan punggungnya. Sementara itu, sang ibu gantung diri di pintu kamar.

Menurut keterangan dari Kapolres Jember, AKBP Nur Hidayat, bahwa sosok HS mengalami kondisi depresi sejak 2018. Keterangan tersebut bersumber dari Agus. 

Sejak tahun 2018 tersebut HS telah mengalami perawatan medis secara rutin di rumah sakit Dr. Soebandi, Jember. 

“HS rutin berobat ke rumah sakit,” kata Nur Hidayat, dikutip dari tvonenews.com.

HS mendapatkan perawatan oleh dokter jiwa di rumah sakit tersebut. Ia juga rutin meminum obat yang diberikan dokter. 

Namun, beberapa bulan terakhir HS tak mendapatkan perawatan dan pengobatan lagi dari rumah sakit. Hal tersebut lantaran suami HS tak mampu membayar iuran BPJS.

“Pengobatan terhenti karena suami HS tidak lagi mampu membayar iuran BPJS. HS ikut BPJS mandiri,” kata Nur Hidayat.

Semenjak tidak bayar iuran BPJS tersebut, per Mei 2023 lalu, HS tak lagi minum obat. Ia awalnya terlihat biasa-biasa saja. Namun, hingga akhirnya peristiwa duka itu terjadi dan dialami oleh keluarga Agus.

Pemerintah Lebih Sibuk Urusi RUU Kesehatan?

Peristiwa duka yang dialami oleh keluarga Agus adalah salah satu contoh dari jutaan keluarga di Indonesia yang merasakan sulitnya mendapatkan akses kesehatan. Ia yang tak bisa membayarkan iuran BPJS mandiri harus dicabut akses kesehatan terhadap keluarganya.

Melihat adanya kabar duka tersebut, banyak warganet yang bersimpati. Kritik terhadap sistem pelayanan kesehatan masih belum purna.

“Menterinya paham ini nda, ya? Banyak hal besar yang harusnya diurus, karena ini adalah tugas beliau. Urusan BPJS, obat-obat penting yang langka, pasien yang tidak bisa dilayani di RS krn ruang rawat penuh apalagi ruang ICU, kematian ibu hamil yang masih tinggi, masih banyak yang rakyat yang tidak punya jamban, anak-anak stunting,” tulis Eva Sri Diana Chaniago melalui akun Twitternya, @DrEvaChaniago.

Dokter yang sekaligus aktif sebagai pegiat media sosial ini juga menyoroti bagaimana pemerintahan Jokowi lebih sibuk mengurusi RUU Kesehatan Omnibus Law. Menurutnya, ketok palu RUU Kesehatan terlalu dipaksakan dan tidak ada urgensi.

“Yang jelas jika RUU kesehatan Omnibus Law ini sah, maka dokter dan nakes tentu tidak akan lagi bebas bersuara, takut akan aturan kemenkes. Dokter dan nakes sebagai garda terdepan pertahanan negara terhadap Perang Biologi, akan lumpuh karena takut menyampaikan apa yang mereka ketahui,” kata Eva.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments