Kolonialisme Gaya Baru: Negara Miskin Dipaksa Terus Produksi Bahan Bakar Fosil

by | Aug 22, 2023

Bahan Bakar Fosil | Ekonomi | Internasional | Krisis Iklim | Lingkungan

FOMOMEDIA – Di tengah krisis iklim, banyak negara, termasuk Indonesia, yang tak bisa lepas dari bahan bakar fosil karena jebakan utang negara kaya.

Kelompok antiutang bernama Debt Justice baru saja merilis sebuah laporan yang mengejutkan. Laporan itu berisi bahwa negara-negara kaya telah menjebak negara yang punya utang banyak untuk bergantung pada bahan bakar fosil.

Laporan yang dirilis Juli 2023 itu menyebut bahwa negara dengan utang banyak dipaksa terus berinvestasi dalam proyek bahan bakar fosil. Tujuan adanya investasi tersebut adalah untuk melakukan pembayaran kembali atas apa yang telah dipinjam.

Menurut laporan The Guardian, Debt Justice telah menyerukan kepada kreditur untuk membatalkan utang negara-negara yang menghadapi krisis. Mereka juga menyoroti bagaimana susahnya negara-negara di belahan bumi selatan (global south) dengan tingkat utang tinggi menghapus ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Banyak negara terjebak pada eksploitasi bahan bakar fosil untuk membayar utang,” kata Tess Woolfenden, pejabat kebijakan senior Debt Justice, dikutip dari The Guardian.

“Pada saat yang sama, proyek bahan bakar fosil seringkali tidak menghasilkan pendapatan seperti yang diharapkan dan dapat membuat utang semakin besar. Jebakan beracun ini harus diakhiri,” lanjut Woolfenden.

Dalam laporan tersebut, utang negara-negara di bagian selatan sejak 2011 telah mengalami peningkatan 150 persen. Dari persentase tersebut, terdapat 54 negara berada dalam krisis utang. Krisis itu membuat mereka harus menghabiskan lebih banyak uang untuk membayar utang daripada untuk atasi krisis iklim.

“Pemerintah negara-negara selatan tidak akan mampu menghentikan produksi bahan bakar fosil kecuali kita mengatasi tingkat dan kerentanan utang serta kesenjangan dalam sistem keuangan yang ada,” tulis laporan Debt Justice.

Mozambik Contoh Nyata

Mozambik jadi salah satu negara di belahan bumi selatan yang terdampak pinjaman tersebut. Negara di Afrika bagian timur ini terjerumus ke dalam krisis utang pada tahun 2014-2016 ketika harga minyak dan gas anjlok.

Anehnya, utang Mozambik dalam bentuk minyak dan gas itu pun harus dikembalikan berupa barang yang sama. Hal tersebut menjadi sorotan tersendiri bagi para pemerhati lingkungan setempat.

Seperti yang diungkapkan oleh Daniel Ribeiro, koordinator program untuk kampanye lingkungan Mozambik, Justiça Ambiental. Menurutnya, beban utang negaranya berlipat ganda dengan pinjaman yang diambil tanpa izin parlemen dari bank-bank yang berbasis di London pada 2013.

“Utang yang disebabkan oleh bahan bakar fosil disusun untuk dibayar kembali dengan bahan bakar fosil. Ini memperkuat lingkaran setan di mana kami harus terus bergerak maju dengan bayang-bayang ancaman apabila berhenti memproduksinya,” kata Ribeiro.

Indonesia Terancam

Dalam laporan tersebut, selain menyoroti negara-negara yang sudah terdampak utang secara langsung, juga memberikan laporan tentang risiko terhadap negara lain. Salah satu negara yang disebut yakni Indonesia.

“Penelitian Global Policy Development Centre di Universitas Boston menunjukkan bahwa 33 negara dapat menghadapi kerugian finansial signifikan melalui Investor State Dispute Settlements jika mereka memutuskan membatalkan proyek minyak dan gas,” tulis Debt Justice.

“Beberapa negara yang berpotensi untuk menghadapi kerugian terbesar di antaranya Mozambik (USD 7-21 miliar), Guyana (USD 5-21 miliar), Kazakhstan (USD 6-18 miliar), dan Indonesia (USD 3-4 miliar). Jumlah kerugian tersebut dapat menambah utang negara-negara tersebut jika mereka telah mengalami defisit fiskal,” lanjut keterangan itu.

Meski Indonesia berada di posisi paling akhir, bukan berarti risiko kerugian itu tidak ada. Sebab, potensi kerugian 3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp45 triliun itu bukanlah angka yang sedikit.

Adapun Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia, seperti laporan Bank Indonesia, per Mei 2023 tercatat sebesar 398,3 miliar AS atau setara Rp6.104 triliun. Angka tersebut turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 403 miliar dolar AS.

Lalu, dengan membaca laporan catatan utang negara-negara bagian selatan global yang susah keluar dari jerat produksi bahan bakar fosil, akan sampai kapan bisa terselesaikan? Seperti kata Ribeiro, apakah Indonesia bisa keluar dari lingkaran setan itu?

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrasi: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] di atas pernah dipublikasikan di Fomomedia.id pada 22 Agustus […]

[…] bahan bakar fosil seakan menjadi lingkaran setan yang susah untuk dihapuskan. Hal tersebut seperti yang dilaporkan oleh Debt […]