Ketika Bau Badan Mengganggu Ruang Akademik

by | Feb 27, 2023

Ketika Bau Badan Mengganggu Ruang Akademik

FOMOMEDIA – Siapa yang sanggup dekat-dekat dengan orang yang bau badan? Tapi, kalau kita harus satu kelas dengan si bau selama berjam-jam, gimana jadinya?

Persoalan bau badan biasanya cuma mengganggu orang-orang yang ada di sekeliling kita. Akan tetapi, ketika sebuah institusi resmi sudah angkat bicara untuk mengatasi problem bau badan di lingkungan kegiatannya, itu berarti “para tersangkanya” sudah betul-betul keterlaluan.

Medio November 2022, Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh menerbitkan sepucuk surat pemberitahuan. Isinya kira-kira begini: Banyak dosen mengeluhkan bau badan mahasiswa yang benar-benar mengganggu proses belajar-mengajar. Duh, kebayang gak, sih, baunya kayak apa?

Nah, karena itu, USK mengimbau para mahasiswanya supaya masalah bau badan ini segera diselesaikan. Bahkan, di surat edaran tersebut sampai dituliskan tips-tips menghilangkan bau badan, mulai dari yang basic kayak mandi teratur dan rajin ganti baju, sampai ke level advanced seperti menggunakan cuka apel dan minyak daun teh.

Surat edaran USK itu tadi sempat viral di jagat maya. Dialog pun terpantik dari sini. Apakah bau badan mahasiswa sudah kelewatan sehingga pihak kampus sampai harus turun tangan? Atau sebenarnya situasi di USK tidak separah itu dan pihak kampus hanya berlebihan?

Entahlah. Kebetulan, kami belum pernah melawat ke kampus USK sehingga tidak bisa menilai situasi dan kondisi di sana. Meski demikian, persoalan bau badan di lingkungan sekolah atau kampus memang tidak cuma ditemukan di USK.

Kita bisa simak pengakuan dari seorang mahasiswa bernama Neo Kaspara yang menulis pengalaman temannya yang berkuliah di kampus seni.

“Suatu hari di salah satu mata kuliah, kelas tersebut padat oleh mahasiswa. Otomatis mereka harus menghirup oksigen yang sama di dalam ruang terbatas. Tiba-tiba, ada senior yang iseng membuka kaosnya. Menurut informan terpercaya, senior tersebut sudah empat hari enggak mandi. Saking baunya, satu kelas bubar lari tunggang langgang. Bahkan, ada yang mual-mual,” kenang Neo.

Baca juga: Anak Muda Gak Suka WFO

Selain itu, alumnus kampus Islam negeri di Yogyakarta, SA (29 tahun), mengaku punya nasib yang sama ketika kuliah dulu. Dia bersama teman kelasnya terganggu dengan bau temannya. Dan akhirnya, si teman itu menjadi bahan gunjingan di lingkaran pertemanan mereka. 

“Padahal kami sudah tegur kalau badannya bau dan kami saranin untuk rajin mandi, tapi dia gak peduli. Kemudian, masih percaya diri kalau lewat di depan kami—dan kami pastinya harus menahan napas,” ucap SA sambil berkelakar. 

Senasib dengan SA, MK (31 tahun), mahasiswa S2 di sebuah universitas Islam di Depok, menceritakan pengalamannya kepada Fomomedia bagaimana menyiasati bau temannya setiap masuk perkuliahan. 

Mulanya MK tidak punya banyak pengalaman dengan orang yang berbau badan. Tapi, di kampus yang sekarang, dia banyak berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara. 

MK bercerita, “Ketika awal masuk kampus, saya duduk sebelahan dengan mahasiswa Nigeria. Itu suatu pagi yang sial. Sejak jam 08:00 di ruangan acara itu, saya harus berkali-kali ke kamar mandi. Setiap kali orang itu bergerak, bau badannya menyeruak dan pada detik itu pulalah saya menahan napas.”

“Ada beberapa lagi mahasiswa luar yang punya badan bau yang tidak bisa ditolerir lagi. Walaupun begitu, setelah sekian lama kuliah di kampus ini, hidung saya mulai terbiasa dengan bau badan,” lanjutnya.

Akan tetapi, menurut MK, “Tidak semua orang asing bau, sih, masih ada beberapa teman yang tetap wangi.”

Membaca penggalan cerita dari Neo, SA, dan MK, mungkin kita bisa maklumi kenapa kampus Syiah Kuala mengeluarkan pemberitahuan agar mahasiswa menghilangkan bau badannya. Sebab, perkara yang kesannya sepele ini bisa benar-benar mengganggu jalannya aktivitas belajar-mengajar. 

Sebenarnya, persoalan bau badan tersebut tidak saja terjadi di ruang akademik, melainkan di ruang publik lainnya, bahkan ruang privat. Tak sedikit kita mendengar kabar rumah tangga berakhir dengan perceraian karena bau tak sedap ini.

Pada awal 2022, seorang perempuan Mesir menggugat cerai suaminya karena si suami tidak menjaga kebersihan badannya sendiri. Misalnya, mandi hanya sebulan sekali dan tidak punya kebiasaan sikat gigi. 

Kasus yang serupa terjadi di Distrik Vaishali, India. Seorang perempuan bernama Soni Devi (20 tahun) menggugat cerai suaminya, Manish Ram (23 tahun), karena bau badan. Sang suami tidak mau mandi dan gosok gigi selama 10 hari berturut-turut.

Seperti dilansir oleh The Times of India, karena bau badan dan bau mulut tersebut, Soni membuat pengakuan bahwa “Aku tidak ingin tinggal bersama suamiku lagi. Aku tidak mampu lagi menanggung penghinaan. Singkirkan suamiku dari aku. Dia telah menghancurkan hidupku.” Akhirnya, pernikahan yang telah berumur tiga tahun itu pun kandas.

Urusan bau badan juga sempat terjadi di Indonesia yang menimpa pasangan artis, dan kasusnya lebih parah ketimbang kasus-kasus di atas, karena sampai berakhir di kepolisian. Artis bernama Fairuz A. Rafiq melaporkan mantan suaminya, Galih Ginanjar, karena sang suami menyebut Fairuz bau ikan asin. Maka dari itu, Galih menceraikannya.

Sampai di sini, kita harus mengatakan persoalan bau badan ini bukan masalah sepele. Ini masalah serius yang, terkadang, tidak bisa diselesaikan di ranah personal atau institusional. Bahkan, ada kalanya negara mesti turun tangan untuk menuntaskannya.

Sebenarnya, memang agak aneh ketika negara sampai harus ikut campur untuk mengatasi persoalan bau badan. Akan tetapi, badan bau kan erat kaitannya dengan kebersihan dan kesehatan juga. Maka, dari sudut pandang ini, masuk akal bila negara turut ambil bagian dalam pencarian solusi.

Lagipula, jika tidak ada bau badan, ‘kan, setidaknya ada satu potensi konflik yang berhasil diredam. Hehehe.

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Visual: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Simak selengkapnya di sini. […]