Ketat! Undang-Undang Layanan Digital Uni Eropa Resmi Berlaku

by | Aug 28, 2023

Internasional | Teknologi | Uni Eropa

FOMOMEDIA – Uni Eropa akhirnya resmi memberlakukan Undang-Undang Layanan Digital. Para raksasa teknologi pemilik platform online diwajibkan patuh.

Undang-Undang Layanan Digital (Digital Services Act/DSA) Uni Eropa (UE) telah resmi berlaku mulai Jumat (25/8/2023) lalu. Para perusahaan raksasa teknologi pun kini harus mematuhi DSA tersebut yang mewajibkan platform online bertanggung jawab secara hukum atas konten yang diposting.

Mulai dari Google, Facebook, Amazon, dan lain sebagainya harus patuh dengan undang-undang (UU) tersebut. Bahkan, menurut laporan The Verge, kita semua mungkin akan melihat dampak global yang luas ketika perusahaan teknologi menyesuaikan kebijakan mereka untuk mematuhi UU itu.

Apa itu DSA?

Menyitat The Verge, tujuan DSA diciptakan untuk membuat lingkungan daring menjadi lebih aman. Perusahaan teknologi pemilik platform online dituntut supaya tidak berbuat seenaknya.

Dalam aturan tersebut, setiap platform online harus menerapkan cara untuk mencegah dan menghapus postingan yang berisi barang, layanan, atau konten ilegal. Para pengguna platform juga harus diberi sarana untuk melaporkan jenis konten yang sekiranya melanggar.

Selain itu, DSA juga melarang iklan yang memiliki target orientasi seksual, agama, etnis, atau keyakinan politik seseorang, serta membatasi penargetan iklan kepada anak-anak. Para perusahaan penyedia platform digital juga dituntut untuk lebih transparan tentang cara kerja algoritma mereka.

“DSA membuat aturan tambahan untuk apa yang dianggapnya sebagai ‘platform online yang sangat besar,’ yang memaksa mereka memberikan hak kepada pengguna untuk memilih tidak ikut serta dalam sistem rekomendasi dan pembuatan profil, berbagi data penting dengan peneliti dan pihak berwenang, bekerja sama dalam persyaratan respons krisis, dan melakukan tindakan eksternal. dan audit independen,” tulis The Verge.

Platform yang Terdampak

UE saat ini menganggap bahwa platform online telah memiliki lebih dari 45 juta pengguna bulanan. Beberapa platform online itu pun sudah ditetapkan mana saja yang akan terdampak adanya kebijakan baru itu.

Mereka yang terdampak mulai dari Alibaba AliExpress, Amazon Store, Apple App Store, Booking.com, Facebook, Google Play, Google Maps, Google Shopping, Instagram, LinkedIn, Pinterest, Snapchat, TikTok, Twitter, Wikipedia, Youtube, Zalando, Bing, dan Google Search.

Dari beberapa platform tersebut, terdapat beberapa perusahaan mengklaim telah mematuhi kebijakan DSA. Google, seperti laporan The Verge, telah mengumumkan perluasan Pusat Transparansi Iklan-nya untuk memenuhi persyaratan yang digariskan oleh UU.

Selain Google, Meta juga diketahui akan segera mulai menampilkan dan mengarsipkan semua iklan yang menargetkan pengguna di UE. Bahkan, parameter dan target iklan pun akan disertakan oleh Meta.

Dengan kata lain, DSA merupakan langkah untuk menuntut transparansi perusahaan teknologi digital di UE. Tujuan utamanya agar mereka tidak melakukan tindakan semena-mena terhadap data masyarakat.

Risiko Jika Tidak Patuh

UE memang tak main-main dalam membuat peraturan. Bahkan, perusahaan yang melanggar bisa dikenai denda hingga enam persen dari omzet global mereka.

Menurut Komisi UE, Koordinator Layanan Digital dan Komisi akan mempunyai wewenang untuk memerlukan tindakan segera jika diperlukan untuk mengatasi dampak buruk.

Namun, dengan adanya DSA itu, bukan berarti para platform digital setuju. Seperti yang dilakukan oleh Amazon. Perusahaan yang berbisnis pada penjualan produk online itu telah mengajukan petisi pada bulan Juli 2023 lalu. Dalam petisi itu, Amazon meminta UE untuk mengevaluasi kembali klasifikasinya sebagai platform online yang sangat besar.

Namun, kini DSA telah disahkan. Apakah para perusahaan raksasa platform online di atas akan patuh sepenuhnya?

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments