Keji dan Ahistoris: Macron Salahkan Video Game atas Kerusuhan di Prancis

by | Jul 5, 2023

Emmanuel Macron | Internasional | Prancis | Video Game

FOMOMEDIA – Alih-alih mengakui rasialisme sistemik, Macron salahkan video game atas kerusuhan di Prancis. Memangnya waktu Revolusi Prancis sudah ada video game?

Ketika ada tindak kekerasan yang musabab dasarnya terlampau “sensitif” untuk diumbar ke publik, para pejabat—khususnya pejabat Barat—punya satu kambing hitam favorit: video game. Yang terbaru, ada Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Kerusuhan besar yang terjadi di sejumlah kota di Prancis sepekan terakhir sebetulnya punya musabab yang klir. Yakni, karena pembunuhan yang dilakukan polisi terhadap seorang remaja keturunan Maroko-Aljazair, Nahel Merzouk. Bocah laki-laki berusia 17 tahun itu tewas ditembak dalam sebuah razia lalu lintas di Paris, ibu kota Prancis.

Peristiwa itu lantas menyulut aksi solidaritas masif di berbagai kota. Tak cuma di Paris, tetapi juga di kota-kota lain macam Marseille, Toulouse, Dijon, dan Lyon. Namun, aksi solidaritas untuk Merzouk itu kemudian diikuti aksi kerusuhan, vandalisme, dan penjarahan.

Menanggapi hal itu, Macron langsung mengeluarkan senjata pemungkas para pejabat Barat: menyalahkan video game (serta media sosial).

“Platform media sosial telah memainkan peran signifikan dalam peristiwa beberapa hari terakhir ini. Di beberapa platform—Snapchat, TikTok, dan lainnya—ada kekerasan yang menyebabkan anak-anak muda terpisah dari realitas,” kata Macron dalam konferensi pers yang digelar Sabtu, 1 Juli 2023.

“Mereka meniru video game yang telah meracuni pikiran mereka,” tambahnya.

Keji dan Ahistoris

Ya, video game. Lagi-lagi video game. Di Amerika Serikat pun video game selalu jadi kambing hitam ketika ada penembakan massal. Padahal, akar permasalahannya adalah mudahnya akses senjata api bagi masyarakat umum. Kini, Macron pun mengkopi mentah-mentah isi playbook para politisi sayap kanan Negeri Paman Sam.

Alih-alih membahas rasialisme sistemik yang begitu mudah ditemukan di Prancis, Macron mengambil jalan pintas picisan dan menghina akal sehat. Alih-alih membahas kekerasan aparat negara yang makin marak di dua dekade terakhir, Macron mengambinghitamkan video game yang tidak terbukti menyebabkan seseorang jadi pelaku kekerasan di dunia nyata.

Bagi mereka yang mau membuka mata dan telinga serta memiliki akal sehat, rasialisme sistemik sudah jadi permasalahan bagi Prancis sejak zaman baheula. Kolonialisme mereka, tentu saja, jadi akar persoalan. Setelah dulu mengeruk kekayaan negara-negara Afrika yang mereka jajah, Prancis pun kini melihat warga keturunan negara-negara tersebut sebagai warga kelas dua. Bahkan, sosok sekelas Karim Benzema pun diperlakukan demikian.

Rasialisme sistemik itu pun secara langsung berkorelasi dengan tingginya tingkat kekerasan aparat terhadap mereka yang dipandang sebagai warga kelas dua tadi. Menurut studi dari lembaga ombudsman Prancis sendiri, laki-laki muda berkulit hitam dan keturunan Arab punya kans dirazia oleh polisi 20 kali lebih tinggi dibanding warga kulit putih. Keengganan Macron mengakui persoalan itu adalah perbuatan keji.

Selain itu, pengkambinghitaman video game oleh Macron pun merupakan sikap ahistoris karena, tentu saja, pada masa Revolusi Prancis—ketika warga negara tersebut mengamuk lalu memancung raja dan keluarganya—tidak ada yang namanya video game.

Dengan demikian, lewat pernyataannya tadi, Macron membuat tiga blunder sekaligus. Rasa-rasanya, Harry Maguire saja tidak pernah membuat blunder sebanyak itu dalam sebuah pertandingan Manchester United.

Penulis: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] juara bertahan di pulau itu tak menjadi jaminan bakal menang melawan klub Prancis, LOSC Lille. Mereka terlibat pertandingan melawan Lille lantaran adanya kejuaraan Piala Prancis […]