Katanya Stop Bahan Bakar Fosil? Kok, G20 Malah Kasih Subsidi?

by | Aug 25, 2023

Ekonomi | Internasional | Krisis Iklim | Politik

FOMOMEDIA – Negara-negara G20 pernah sepakat hentikan bahan bakar fosil karena krisis iklim. Namun, kenapa sekarang mereka justru memberi subsidi untuknya?

Bahan bakar fosil masih saja diproduksi secara berlebihan. Bahkan, pada tahun 2022 dana sebesar 1 triliun dolar Amerika Serikat (AS) lebih digelontorkan untuk memproduksi bahan bakar yang tak ramah terhadap lingkungan itu.

Aliran dana sebesar itu diungkapkan oleh International Institute for Sustainable Development (IISD). Menurut lembaga tersebut, dana yang berasal dari G20 itu sengaja diberikan. Padahal, forum kerja sama multilateral itu telah berjanji untuk mengurangi subsidi produksi bahan bakar fosil.

Para negara yang tergabung dalam G20 dianggap abai dan tidak menghargai Cop26 di Glasgow dua tahun lalu. Di dalam pertemuan puncak iklim tersebut para pemimpin dunia telah sepakat untuk menghapuskan subsidi bahan bakar fosil.

Namun, sesuai dengan laporan IISD, adanya pendanaan luar biasa besar itu telah membuktikan omong kosong penanganan krisis iklim.

Menurut laporan The Guardian, laporan dari IISD itu muncul jelang pertemuan negara-negara G20 di Delhi pada 9-10 September 2023. Adanya pertemuan forum tersebut dianggap bisa menentukan arah konferensi iklim besar berikutnya yang akan digelar di Uni Emirat Arab pada November 2023 mendatang.

“Angka-angka ini merupakan pengingat akan besarnya jumlah uang publik yang terus dikucurkan oleh pemerintah negara-negara G20 untuk bahan bakar fosil–meskipun dampak perubahan iklim semakin menghancurkan,” kata Tara Laan, peneliti senior di IISD, dikutip dari The Guardian.

Tewaskan Jutaan Orang tiap Tahun

Keberadaan bahan bakar fosil awalnya dianggap sebagai terobosan manusia dalam sektor energi. Namun, di sisi lain, keberadaannya juga menimbulkan mudarat bagi kehidupan berkelanjutan. Akibat polutan yang dilepas ke udara ketika dibakar, temperatur bumi pun terus mengalami peningkatan.

Selain itu, bahan bakar tersebut juga menjadi salah satu faktor penyebab polusi udara yang semakin buruk. Udara-udara yang tercemari itu akan masuk ke dalam paru-paru dan bisa mengancam organ tubuh manusia.

Menurut para ilmuwan, setidaknya antara 1 dan 10 juta orang setiap tahun tewas gara-gara polusi udara yang berasal dari bahan bakar fosil. Keberadaan bahan bakar itu pun akhirnya didesak supaya segera dihapuskan.

Akal Bulus Pemerintah

Selain berdampak buruk, saat ini bahan bakar fosil pun selalu mengalami penurunan harga. Namun, penurunan harga bahan bakar tersebut seakan menjadi akal bulus pemerintah lantaran masih disubsidi oleh G20.

Dalam laporan IISD, pemerintah negara-negara G20 pada tahun 2022 memberikan subsidi bahan bakar berupa minyak bumi, batu bara, dan gas alam sebesar 1 triliun dolar AS. Investasi tersebut juga berasal dari Badan Usaha Milik Negara sebesar 322 miliar dolar AS dan pinjaman dari lembaga keuangan publik sebesar 50 miliar dolar AS.

Parahnya, dari total jumlah investasi tersebut, angkanya mencapai dua kali lipat dari yang diberikan pada 2019. Dengan melihat fakta tersebut, para anggota G20 dianggap tidak konsisten mendukung penanganan krisis iklim.

Masih menyitat The Guardian, para pemimpin G20 sejak 2009 telah sepakat untuk menghapuskan subsidi bahan bakar fosil. Jenis bahan bakar tersebut dianggap tidak efisien dalam jangka menengah.

Kemudian, kesepakatan selanjutnya terjadi pada Konferensi Tingkat Tinggi Cop26 pada 2021. Di dalam konferensi itu, para pemimpin dunia lagi-lagi sepakat untuk segera menghapuskan bahan bakar fosil.

Namun, laporan IISD pada 2023 ini menunjukkan bahwa komitmen tersebut belum benar-benar dilaksanakan.

Jerat Utang Negara Miskin

Keberadaan bahan bakar fosil seakan menjadi lingkaran setan yang susah untuk dihapuskan. Hal tersebut seperti yang dilaporkan oleh Debt Justice

Kelompok antiutang tersebut baru saja merilis laporan tentang negara-negara kaya telah menjebak negara yang punya utang banyak untuk bergantung pada sumber energi tak terbarukan tersebut. Laporan yang dirilis pada 2023 itu menyebut bahwa negara dengan utang banyak dipaksa terus berinvestasi dalam proyek tersebut. 

Laporan yang dibuat oleh IISD itu pun akhirnya menjadi satu kesatuan dengan laporan Debt Justice. Investasi yang digelontorkan negara kaya ke negara miskin untuk memproduksi minyak akan terus terjadi selama negara miskin memiliki utang yang banyak.

Negara miskin dipaksa untuk terus memproduksi bahan bakar fosil. Hingga akhirnya, negara-negara miskin yang memiliki utang inilah secara tak langsung akan selalu disalahkan atas krisis iklim yang terjadi.

Negara-negara kaya yang kini terlihat menggembar-gemborkan wacana menjaga iklim seakan jadi pahlawan. Padahal, merekalah yang berperan dalam merusak lingkungan.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] laporan Sky News, para ahli paleontologi sebelumnya telah menemukan sisa-sisa fosil tersebut pada 2006. Penemuan itu ketika mereka sedang melakukan kunjungan ke Elgol, di pantai barat […]