Katanya Attention Span Anak Muda Pendek, Yuk Kita Lihat Buktinya

by | Dec 5, 2022

Olahraga | Psikologi
Attention span anak muda pendek

FOMOMEDIA.ID Katanya, karena punya attention span pendek, anak muda gak betah nonton sepak bola lama-lama. Benarkah begitu?

Wacana European Super League sudah mati. Akan tetapi, hantunya masih bergentayangan hingga kini dan merasuki tubuh Presiden Real Madrid, Florentino Perez.

Pada 2021 lalu, 12 klub elite Eropa dari Inggris, Italia, dan Spanyol mengumumkan bahwa mereka akan mendirikan sebuah kompetisi level kontinental bertajuk European Super League. Kompetisi ini dirancang untuk menjadi tandingan Liga Champions. Bedanya, jika di Liga Champions tidak semua dari 12 klub tadi bisa ikut serta setiap tahunnya, di European Super League posisi mereka sebagai pendiri akan selalu aman.

Motif dari deklarasi itu mudah ditebak. Kedua belas klub itu menginginkan uang lebih banyak dari yang selama ini sudah mereka dapatkan. Mereka ingin menggadaikan nama besar dan basis suporter masif demi uang hak siar yang diperkirakan bisa menyamai nilai hak siar National Football League (NFL). Hak siar NFL sendiri bernilai 11,3 miliar dolar per tahun atau hampir lima kali lipat nilai hak siar Liga Champions—2,4 miliar dolar per tahun.

Sontak, tentangan membanjir dari berbagai penjuru, mulai dari suporter, klub yang tak dilibatkan, sampai administrator sepak bola. Mereka menilai European Super League bakal menghancurkan sepak bola Eropa karena disparitas kekayaan akan semakin lebar. Dari sini, perlahan para deklarator tadi pun mundur teratur.

Klub-klub Inggris langsung menarik diri. Namun, klub-klub Italia dan Spanyol masih belum mau merelakan potensi ini lewat begitu saja. Klub Inggris memang sebetulnya tidak butuh Super League karena hak siar Premier League saja nilainya sudah mencapai 4 miliar dolar per tahun. Namun, klub-klub Italia dan Spanyol yang nilai hak siar liganya lebih kecil punya pandangan lain.

Attention span anak muda pendek
Presiden Real Madrid, Florentino Perez.

European Super League sudah mati. Akan tetapi, spiritnya tetap dipelihara. Inilah mengapa Perez masih berkoar-koar. Inilah mengapa Perez masih berupaya meyakinkan siapa pun yang mau mendengarkan bahwa European Super League adalah ide bagus.

Narasi yang digunakan Perez sebenarnya tidak berubah dari awal. Dia selalu mengatakan bahwa sepak bola yang ada sekarang ini sudah tidak menarik lagi, khususnya buat anak muda. Dia bilang, anak-anak muda terutama yang berusia 16-24 tahun lebih pilih hiburan lain ketimbang sepak bola karena, menurut dia, durasi pertandingan sepak bola kelewat panjang.

Dengan kata lain, menurut Perez, sepak bola tidak lagi diminati karena anak-anak muda punya attention span (kemampuan berkonsentrasi) yang pendek. Hmmm… Memangnya benar begini, ya?

Lihat Fomographic: Anak Muda Punya Attention Span Pendek? Yang Benar Aja…

***

Pernyataan Perez tadi salah di dua front sekaligus. Pertama, soal anak muda yang tidak lagi menyukai sepak bola. Kedua, soal attention span anak muda itu sendiri.

Dari survei yang dilakukan organisasi nirlaba Football Beyond Borders, bisa ditarik kesimpulan bahwa anak muda masih sangat menyukai sepak bola. Survei ini sendiri dilakukan dengan menyasar 2.000 anak muda usia di bawah 21 tahun dari seluruh dunia. Hasilnya, 98% mengaku masih suka sepak bola, tetapi tidak menyukai ide Perez soal ESL.

Masih menurut Football Beyond Borders, kenyataannya justru anak-anak itu bukan tidak menyukai sepak bola, tetapi kesulitan mendapat akses ke hiburan tersebut. Harga tiket stadion yang mahal dan biaya langganan siaran yang tinggi jadi biang keladinya. Di samping itu, kesadaran anak-anak muda akan etika membuat mereka sulit menerima realitas bahwa sepak bola saat ini didesain hanya untuk menguntungkan orang berkocek tebal.

Analisis Football Beyond Borders itu diperkuat opini penulis The Athletic, Carl Anka. Menurut Anka, anak-anak muda zaman sekarang memang lebih mudah mengakses hiburan lain terutama video game. Mengapa? Karena pada umumnya video game menyediakan akses gratis bagi pengguna.

Anka juga menyinggung soal attention span itu dengan menyebut banyak anak muda yang betah-betah saja menonton streaming video game di Twitch yang durasi rata-ratanya 3-6 jam. Berdasarkan data Statista, 22,3% pengguna Twitch berusia 16-24 tahun. Ini merupakan kelompok demografi pengguna Twitch terbesar kedua setelah 25-34 tahun (49,7%).

Twitch sendiri, menurut data Twitch Tracker, memiliki 30 juta pengguna aktif harian (DAU/Daily Active Users). Artinya, jika 30 juta pengguna aktif harian itu memang berasal dari semua kelompok usia, setiap harinya ada 6,69 juta orang berusia 16-24 tahun yang menggunakan Twitch. Artinya lagi, ada setidaknya 6,69 juta orang berusia 16-24 tahun yang betah-betah saja menyaksikan suatu tayangan berdurasi panjang.

Tentu, angka di atas hanya angka kasar. Hanya sebagai gambaran betapa banyaknya orang berusia 16-24 tahun yang punya attention span panjang. Nah, sebagai perbandingan, Premier League yang disebut-sebut sebagai liga sepak bola terpopuler di dunia itu “hanya” memiliki penonton rata-rata 1,9 juta orang per laganya.

Di satu sisi, Perez bisa jadi benar ketika bicara soal anak-anak muda yang tak lagi tertarik dengan sepak bola. Akan tetapi, alasannya kurang tepat. Bukan durasi pertandingan yang membikin anak-anak muda jadi tidak menonton sepak bola, tetapi ada alasan-alasan lain yang perlu diteliti lagi.

Selain soal Twitch, ada juga fenomena lain yang dapat dengan mudah dijadikan bantahan atas klaim Perez. Yakni, kebiasaan menonton serial secara maraton alias binge watching. Pada 2018, Deloitte melakukan studi tentang fenomena ini dan, hasilnya, 90% milenial dan Gen Z bisa menonton dua sampai enam episode serial dalam sekali duduk. Lagi-lagi, ini menjadi bukti bahwa attention span bukan persoalan.

Sumber: giphy.com

Bicara soal attention span, kita juga perlu membahas fenomena snackable content. Sesuai namanya, snackable content berarti konten (bisa berupa apa pun bentuknya) yang dapat dikonsumsi dengan sekali lahap. Tulisan super pendek dan video berdurasi di bawah satu menit adalah contoh dari snackable content itu.

Maraknya kemunculan snackable content ini sendiri berasal dari sebuah riset fiktif. Pada 2015, muncul sebuah kabar mencengangkan yang disebut-sebut berasal dari penelitian Microsoft di Kanada. Kabar itu menyebut bahwa attention span manusia saat ini (8 detik) lebih pendek dari attention span ikan mas (9 detik).

Ternyata, Microsoft tidak pernah melakukan riset tersebut. Mereka memang menyusun laporan soal itu dan menuliskan bahwa attention span manusia kini cuma 8 detik. Namun, mereka mengambil angka itu dari sumber yang bernama Statistic Brain.

Pada 2017, BBC melakukan penelusuran untuk membuktikan keabsahan laporan tersebut. Rupanya, setelah ditelusuri, Statistic Brain mengutip angka fiktif. Mereka bilang, angka itu berasal dari penelitian National Center for Biotechnology Information di US National Library of Medicine yang diterbitkan Associated Press. Namun, keduanya tak bisa menemukan data apa pun soal statistik tersebut.

Meski begitu, angka 8 detik tadi sudah kadung bersirkulasi secara liar karena, memang, waktu itu banyak sekali media arus utama yang menyebarluaskannya. Celakanya, para marketer kemudian bertaklid buta kepada “data” tersebut dan, hasilnya, snackable content menjadi “setelan pabrik” konten-konten kiwari.

Nah, tidak diketahui secara pasti apakah Perez pernah membaca atau mendengar “data” tadi atau tidak. Akan tetapi, solusi yang dia tawarkan untuk menarik minat anak muda terlihat seperti diambil mentah-mentah dari playbook ini. Perez berniat memangkas durasi pertandingan sepak bola dari 90 menjadi 60 menit.

Penulis: Yoga

Editor: Irwan

Ilustrator: Ricky

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments