Kapas Bakal Bisa Dipakai Buat Isi Daya Baterai

by | Nov 12, 2023

Baterai | Lingkungan | Teknologi

FOMOMEDIA – Penggunaan kapas sebagai bahan baterai dianggap terobosan ramah lingkungan untuk menggantikan litium di masa depan.

Krisis iklim kian mengkhawatirkan. Dan ini bikin banyak orang mulai mencari sumber energi alternatif untuk menggantikan bahan bakar fosil dan mineral pengganti logam.

Selain tenaga surga, geotermal, air, angin, sampah, dan energi terbarukan lainnya, kini muncul alternatif baru yang tak kalah menarik. Kapas. Ya, kapas. Tenang, kamu tak salah baca.

Sebuah laporan BBC menyebut, PJP Eye, perusahaan Jepang telah berhasil membuat baterai kapas.

Mekanisme Baterai Kapas

Seperti yang kita kenal, baterai jadi salah satu alat yang bisa digunakan untuk menyimpan daya listrik. Karena dapat menghimpun dan membangkitkan aliran listrik, baterai sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia sehari-hari.

Untuk membuat baterai dibutuhkan karbon. Nah, dari kapas itulah karbon dihasilkan.

Inketsu Okina, kepala intelijen di PJP Eye, menjelaskan bahwa perusahaan memerlukan 1 kilogram kapas untuk menghasilkan 200 gram karbon. Sementara, dari total karbon tersebut, hanya dibutuhkan 2 gram karbon untuk setiap sel baterai. 

Dalam mengembangkan teknologi ramah lingkungan itu, PJP Eye bekerja sama dengan Universitas Kyushu di Fukuoka, Jepang. Mereka akhirnya mengembangkan penggunaan karbon sebagai anoda, salah satu dari dua elektroda yang mengalirkan ion.

Untuk memahami cara kerja baterai, perlu memahami tiga komponennya. Tiga komponen tersebut yakni dua elektroda dan elektrolit di antaranya. 

Elektroda terbagi menjadi dua. Bagian positif dari baterai disebut katoda, sedangkan elektroda yang bermuatan negatif yakni anoda.

Kemudian, saat baterai digunakan, partikel bermuatan yang disebut ion mengalir dari anoda ke katoda melalui elektrolit.

Temuan PJP Eye dalam mengisi daya baterai dengan kapas diklaim inovatif dan tentu saja ramah lingkungan. Sebab, dengan menggunakan kapas, perusahaan tak perlu lagi menggunakan litium yang selama ini dikenal tak ramah lingkungan.

Baca juga:

Mengapa Litium Tidak Ramah Lingkungan?

Litium sendiri adalah logam berwarna abu-abu perak yang ditemukan oleh J. A. Arfvedson pada 1817. Jenis logam tersebut telah lama dimanfaatkan sebagai penampung sumber daya energi yang dimanifestasikan dalam bentuk baterai.

Di beberapa negara, penambangan litium berdampak pada lanskap lingkungan. Selain membabat hutan, penambangan litium juga menyebabkan emisi karbon dan limbah tambang.

Menurut laporan Katadata, beberapa negara yang menjadi penambang litium terbesar yakni Australia yang mencapai 61 ribu metrik ton. Angka tersebut setara 46,92 persen dari total produksi litium global pada 2021.

Di posisi kedua ada Chili yang memproduksi sebanyak 39 ribu metrik ton, dan disusul Tiongkok sebanyak 19 ribu metrik ton litium.

Kini, dengan penggunaan kapas, setidaknya ada beberapa komponen atau bahan baterai yang bisa diganti dan lebih ramah lingkungan. Kapas mampu menjadi pengganti elektrolit yang memfasilitasi aliran ion antara katoda dan anoda.

Langkah yang telah dilakukan oleh PJP Eye memang perlu diapresiasi. Mereka jadi salah satu perusahaan baterai yang menggembar-gemborkan peningkatkan kinerja baterai serta menjadikan baterai lebih ramah lingkungan.

Semoga saja inovasi ini akan diterapkan di perusahaan lain yang masih menggunakan bahan-bahan baterai yang tak ramah terhadap lingkungan. Demi krisis iklim dan bumi yang lebih ramah bagi generasi di masa depan.

Penulis: Sunardi

Editor: Elin

Ilustrator: Riki

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments