Kampus di Belgia Luncurkan Mata Kuliah Sastra Taylor Swift

by | Aug 14, 2023

Belgia | Musik | Pendidikan | Taylor Swift

FOMOMEDIA – Seorang asisten profesor Ghent University melihat korelasi jelas antara syair lagu Taylor Swift dan literatur Inggris klasik. Lahirlah mata kuliah sastra Taylor Swift.

Apakah syair-syair yang ditulis Taylor Swift bisa dikategorikan sebagai karya sastra? Itu bisa diperdebatkan. Akan tetapi, di sebuah universitas di Belgia, ada seorang asisten profesor yang secara klir melihat korelasi antara syair-syair lagu Swift dengan beberapa literatur Inggris klasik.

Adalah Elly McCausland dari Ghent University yang menemukan korelasi tersebut. Dalam wawancara dengan The Guardian, McCausland menyebut hubungan antara lagu “The Great War” dengan puisi Sylvia Plath yang berjudul “Daddy”. Selain itu, dia juga melihat hubungan lagu “Mad Woman” dengan perjuangan melawan patriarki dalam cerpen Charlotte Perkins Gilman berjudul “The Yellow Wallpaper”.

“Saya bertanya-tanya, mengapa tidak ada orang yang membahas ini semua?” ujar McCausland.

Berangkat dari sana, McCausland pun kemudian menyusun silabus untuk sebuah studi khusus bertajuk “Literature: Taylor’s Version”. Mata kuliah yang rencananya mulai diajarkan musim gugur 2023 ini akan menggunakan lagu-lagu Swift untuk menganalisis berbagai karya literatur klasik.

BACA JUGA:

Taylor Swift dan Shakespeare?

“Yang ingin saya tunjukkan kepada para siswa adalah, meski karya-karya literatur klasik itu terlihat sulit dipelajari, mereka sebetulnya cukup mudah dipahami jika kita melihatnya dari sudut pandang berbeda,” jelas McCausland.

“Misalnya, Shakespeare. Sebetulnya, apa yang dikatakan Shakespeare lewat karya-karyanya tak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan Taylor Swift. Mungkin ini terdengar gila, tetapi kenyataannya seperti itu,” tambahnya.

Menurut McCausland, mata kuliah “Literature: Taylor’s Version” tersebut kebanjiran peminat. Tak cuma mereka yang mengambil jurusan sastra Inggris, siswa dari jurusan lain pun berminat ambil bagian. “Belum pernah aku mendapat email sebanyak ini yang menunjukkan ketertarikan untuk mengambil mata kuliah tertentu. Orang-orang yang tidak kuliah di sini pun menyatakan tertarik,” kata McCausland.

Sebelum Ghent University, Clive Davis Institute milik New York University sebelumnya sudah meluncurkan studi khusus untuk mempelajari Swift. Setelah itu, berbagai kampus lain di Amerika Serikat pun menyusul, seperti Stanford University, The University of Texas at Austin, dan University of Missouri. Tak semua membicarakan soal literatur, memang, tetapi Swift menjadi benang merahnya.

Taylor Swift saat menerima gelar doktor honoris causa dari NYU. (Foto: NYU)

Sastra Taylor Swift

Swift sendiri, pada 2022 silam, pernah membeberkan bagaimana dia menulis lagu-lagunya. Rupanya, penyanyi kelahiran 1989 itu memiliki cara tersendiri untuk menulis jenis lagu tertentu. Ada syair lagu yang dikategorikan sebagai “Syair Pena Bulu”, “Syair Pena”, dan “Syair Pena Glitter”. Saat menulis lagu, Swift membayangkan dirinya menggunakan tiga jenis pena tersebut untuk menghasilkan tiga jenis syair berbeda.

“Pena Bulu” menghasilkan syair-syair layaknya “soneta abad ke-19”. “Pena” menghasilkan cerita personal yang berlatar belakang modern. Sementara itu, “Pena Glitter” menghasilkan syair-syair penuh kegembiraan dan kebebasan. Menurut McCausland, perbedaan gaya penulisan syair ini membuat Swift layak untuk dipelajari secara khusus.

“Akan ada kritik yang menyebut apa yang saya lakukan ini konyol dan tidak penting. Akan tetapi, fokus utama dari studi ini adalah literatur. Artinya, saya juga ingin orang-orang berpikir kritis tentang Swift. Jangan dipikir nanti saya cuma menghabiskan waktu tiga jam setiap Senin untuk fangirling,” pungkas McCausland.

Nah, bagaimana? Ada yang berminat?

Penulis: Yoga

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments